Selamat datang di blog saya. Semoga apa yang anda cari ada di sini. Selamat berkunjung :)

Friday, 4 July 2014

On 11:36:00 by Unknown in    No comments
Langit mulai memerah. Tak hentinya gadis ini menatap langit itu dari balik jendela kelasnya ini. Pemandangan langit sore ini memang indah, mega mendung, burung yang terbang kesana kemari ikut menambah semaraknya sore ini. Ya, jam pelajaran memang sudah usai 15 menit yang lalu, tapi entah kenapa Lisa masih enggan melangkahkan kakinya keluar kelas dan lebih memilih memandangi langit itu. Lisa, lebih tepatnya Emilia Melisa Putri. Seorang putri tunggal dari pasangan pengusaha sukses di kotanya.
Setelah puas memandangi langit tersebut akhirnya Lisa melangkahkan kakinya ke luar kelas. Dari arah berlawanan ada seorang pemuda seumuran Lisa yang sedang membawa banyak buku sehingga sedikit menghalangi penglihatannya. Tak ayal *Bruk!!!
“Awwsshhh.. Ky.. lihat-lihat donk kalau jalan” Ucap Lisa pada seorang yang ia panggil Ky tersebut. Ky, lebih tepatnya Dicky Muhammad Prasetyo. Seorang remaja yang karirnya sukses di dunia entertaiment. Dicky sebenarnya adalah sahabat Melisa sejak kecil. Persahabatan mereka begitu akrab dan hangat, hanya gara-gara cinta yang datang menjemput Melisa persahabatan mereka jadi merenggang.
“Ehh eee.. sorry Lis sorry tadi gue gak sengaja, mau lihat jalan juga susah gara-gara bawa buku sebanyak ini.” Ucap Dicky sambil membereskan bukunya yang berserakan.
“Iya gak papa” Ucap Lisa Langsung pergi.
“Lis elo kenapa?” Ucap Dicky yang melihat anehnya tingkah laku Lisa.
Lisa menghentikan langkahnya “Gak papa kok ky” Jawabnya tanpa menoleh ke arah Dicky.
“Lisa… gue sahabat lo.. udah deh.. lo jangan bohong. Gue tahu lo lagi ada masalah. Dan itu Ilham kan?” Ucap Dicky. Melisa mengangguk.
‘Lama-lama gue kasihan sama elo Lis.. elo udah berulang kali disakitin Ilham tapi gara-gara cinta lo yang bodoh lo akhirnya hanya jadi bahan pelampiasannya Ilham doang.’ UIcap Dicky dalam hati. Cairan bening mengalir di pelupuk mata Melisa.
“Lis.. Lis.. yee… elo kenapa jadi nangis sih..? cengeng ahh.. ehh udah jangan nangis donk.. ntar orang orang ngira gue ngapa-ngapain elo lagi.. eee gimana kalau kita pulang bareng.. udah lama kita gak pulang bareng.. mau yah.?” Dicky. Melisa mengangguk. Dicky pun menaruh buku-bukunya tadi di dalam kelasnya. Kemudian berlari menuju ke arah Melisa ‘lagi’.
“Lo gak bawa mobil?” Dicky.
“Melisa menggeleng. “Lagi pengen jalan kaki aja.
“Ya udah kalau gitu gue ikut jalan kayak elo.” Dicky
“Trus mobil elo?” Melisa.
“Gampang.. biar entar orang rumah yang ambil mobil gue kesini.” Dicky.
Melisa tertawa renyah. “Dicky.. Dicky.. dari dulu lo gak berubah ya? selalu aja nyusahin orang..”
Dicky hanya tersenyum kecut. Mereka berjalan beriringan. Pemandangan sore ini begitu hangat. Angin berhembus semilir seakan membawa terbang semua penat yang ada pada diri Dicky dan Melisa. Melisa menarik nafas panjang.
‘Rasa nyaman ini.?
kenapa rasa ini muncul begitu saja..?
Ohh Tuhan… apa yang sebenarnya terjadi?
apa yang membuat hamba merasa seperti ini?
padahal hamba tidak bersama Ilham..
seseorang yang sangat hamba cintai.
Kenapa rasa ini muncul begitu saja setelah sekian lama hamba merindukan rasa seperti ini..
Ohh Tuhan… Kenapa rasa ini muncul begitu saja saat hamba bersama Dicky?
Sementara hamba berharap rasa ini akan selalu muncul ketika hamba bersama Ilham..
Ohh Tuhan..
Kenapa keadaan seperti berbalik?
Apakah.. apakah Dicky lah orang yang hamba cari selama ini?
Ohh tuhan.. berilah hamba petunjuk..’ Ucap Melisa dalam hati.
Sepi, Sunyi, Lengang, Hening dan Syahdu. Keduanya sama-sama membisu. Itulah suasana yang tercipta antara Dicky dan Melisa. Hanya bisingnya kendaraan dan nyanyian burunglah yang terdengar.
Mereka melewati sebuah taman. Dimana taman itulah yang menjadi saksi bisu bagaimana indahnya persahabatan mereka. Dicky teringat akan masa kecilnya. Masa-masa itu datang begitu saja di fikiran Dicky. Ia sendiri sebenarnya sangat menginginkan masa-masa yang hanya ada dia dan Melisa itu terulang kembali. Tawa, senyum, jerit dan tangis hanya itulah yang ada di keseharian Dicky dan Melisa. Dicky menghentikan langkahnya.
“Kenapa?” Melisa.
“Kamu ingat? di taman inilah kita dulu sering menghabiskan waktu berdua. Disinilah dulu tempat terciptanya tawa kita.. disinilah tempat dulu aku menghiburmu saat kamu menangis dan.. kamu ingat saat kamu menangis aku selalu menggendongmu dan membelikanmu ice cream di seberang jalan sana..” Ucap Dicky sambil mencolek hidung macung Melisa. Tanpa sadar dia kembali menggunakan panggilan “Aku Kamu” setelah sekian lama mereka tidak pernah melewati waktu berdua seperti ini.
“Dicky..” Melisa kembali menitihkan air matanya. Namun kali ini Dicky membiarkannya begitu saja.
“Gue gak nyangka lo masih inget itu. Gue fikir hanya guelah yang rindu saat-saat itu. Gue kira elo udah lupa” Melisa memeluk Dicky. Sontak Dicky kaget. Namun tak ada reaksi yang berarti dari Dicky.
“Gue masih inget Lis.. inget banget. Gue gak akan lupain masa-masa itu. Itu terlalu indah untuk dilupakan Lis.. Gue janji akan selalu jadi Dicky yang dulu. Dicky yang selalu resek gangguin kamu, dan akhirnya kamu yang nangis dan aku yang membelikanmu Ice cream agar kamu bisa tenang..” ucap Dicky sambil membelai rambut Melisa. Entah kenapa tangis Melisa semakin menjadi-jadi.
“Udah donk.. cengeng ah” Ucap Dicky sambil menyeka air mata Melisa dengan ibu jarinya.
“Ihh Dicky ahh..” Melisa merajuk kemudian tersenyum.
“Nah gitu kan cantik.. sekarang lo ceritain lo ada apa lagi sih sama Ilham?” Dicky
“Belajar dari siapa sih ngegombalnya?” Melisa.
“Heyy.!! enak aja.. lo kira gue raja gombal apa.? gak lah.!! gue bukan Ilham lagi..!!” *Upss.. Oww Oww.. Dicky keceplosan. Melisa tertunduk.
“Lis.. Lis.. sorry bukan maksud gue..” Ucapan Dicky terpotong.
“Udahlah ky.. gue tau.. dari awal gue jadian sama Ilham Lo udah gak suka kan sama hubungan gue?!! ngaku lo..!! emang apa sih salahnya Ilham? dia baik!!” Melisa membela Ilham.
“Cukup Lis..!! Stop lo belain tuh cowok brengsek.!!! Jujur gue akuin, gue emang gak suka hubungan lo sama dia.!! tapi gue gak suka juga ada alasannya Lis.. Lo belum tau juga apa salahnya Ilham? haha cinta emang udah butain lo Lis!! Lo bilang dia baik.?!! kalau dia baik kenapa lo selalu dikecewain sama dia.? Lis sadar Lis sadar.. Ilham bukan cowok baik-baik!! dia play boy!! sadar gak sih..? selama ini lo cuman jadi bahan pelampiasan Ilham doang!! Gue gak suka sama dia karena dia bukan cowok yang baik buat kamu!! Cinta lo itu palsu Lis!! sebenarnya lo itu gak cinta sama dia!! Lo hanya kagum dan lo terobsesi ingin dapetin dia!! sorry bukan maksud gue ikut campur… gua hanya ingin yang terbaik buat elo.. buat elo Lis!!” Dicky.
Melisa terhenyak. Diam seribu bahasa.
‘Apa benar Ilham hanya cowok yang seperti dikatakan Dicky?
apa benar Ilham play boy?
apa benar gue hanya jadi pelarian Ilham doang?
apa benar Ilham seburuk itu.?
Ya Tuhan.. kenapa engkau datangkan cowok seperti Ilham dalam hidup hamba?
Tuhan.. hari ini aku sadar.. Ilham hanya menjadikan hamba sebagai mainan.. terimakasih engkau telah datangkan Dicky dalam hidup hamba..
Dicky yang selalu tulus tersenyum, selalu tulus memberikan perhatinnya pada hamba..’ Ucap Melisa dalam hati.
“Ky..” melisa menangis dalam pelukan Dicky.. sedih terharu bercampur gembira *UdahKayakEsCampur
“Ky.. sorry gue udah curiga.. gue udah nuduh lo yang enggak-enggak.. thanks lo udah nyadarin gue.. gue berhutang budi sama elo Ky.. maafin gue..” Melisa.
“Gak.!! gue gak mau maafin elo..!! lepasin gue” sambil melepaskan pelukannya. *LahKenapaJadiDickyYgMarah?
Deg!!
‘Ya tuhan.. semarah itukah Dicky..?’ Lirih melisa pelan.. sangat pelan sampai-sampai Dicky pun tak medengarnya.
“Ky.. gue rela lakuin apa aja asal lo mau maafin gue..” Melisa.
“Apapun itu?” Dicky.
“Apapun itu..” Melisa.
“Janji..?” Dicky memastikan.
“Janji Ky..” Melisa terlihat mulai kesal.
“Yakin?” Ucap Dicky sambil menaik turunkan alisnya.
“Bawel Lo ahh.. yakin Ky.” Melisa kesal.
“Hahaha..” Dicky malah tertawa dan mengacak-ngacak rambut Melisa.
“Ishh Dicky.. serius Dikit napa..” Melisa.
“Haha.. okeh okeh.. I WANT YOU SAY LOVE to me.” Dicky.
“Hah..?!! Dicky.. elo..” Melisa.
“Ya Lis.. gue akuin.. gue sayang sama elo.. entah rasa ini muncul begitu saja sejak gue mulai sahabatan sama lo Lis..” Dicky.
“Jadi elo..” Melisa.
“Ya Lis.. gue udah suka, sayang dan cinta elo sejak kecil..” Dicky.
“Dan elo memendam itu semua Ky..? Dicky.. Ky maafin gue Ky.. gue.. gu.. gue.. gue gak tau tentang ini semua Ky..” Melisa.
“Bukan salah elo kok Lis.. elo juga berhak bahagia dengan orang yang elo pilih.. gue tau lo gak pernah ada perasaan sama gue.. bodohnya kenapa gue pertahanin ini semua.. walaupun nanti elo gak akan bilang cinta sama gue juga gak papa kok Lis.. yang penting gue udah ungkapin ini semua.. dan gue akan merasa lega walaupun nanti elo gak nerima gue.. ” Dicky tertunduk.
‘Ya tuhan.. apakah Dicky benar-benar pantas menjadi pendamping hidup hamba? dia sudah rela memendam ini semua.. demi hamba.. demi hamba bahagia dia rela pendam rasa sakit selama ini..
Mungkin inilah orang yang gue cari terbukti sudah.. dia sudah setia menanti kesempatan ini.. walau bertahun-tahun lamanya..
Terbukti juga kenapa hamba selalu merasa nyaman di samping Dicky.. mungkin inilah Cinta..
Bismilahhirahmanirrahim.. semoga inilah orang yang tepat..’ Ucap Melisa dalam hati.
“Iya Ky.. I LOVE YOU..” Melisa.
Dicky mengangkat wajahnya menghadap Melisa dengan cepat seakan ia takpercaya dengan kalimat yang baru saja ia dengar.
“Lis elo serius..?” Dicky.
“Dua rius” Ucap Melisa tersenyum sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.
“Lisaaa” Dicky memeluk Melisa erat.. sangat erat seakan ia tak mau kehilangan Melisa untuk kedua kalianya walau hanya sedetik pun.
“Thanks Lis.. thanks elo udah kasih gue kesempatan ini.. gue janji akan selalu jaga perasaan elo.. gue akan selalu berusaha gak akan pernah kecewain elo Lis.. gue janji.. Thanks Lis..” Dicky.
“Ky.. gue boleh minta satu permintaan gak?” Melisa.
“Apapun itu akan gue lakuin Lis..” Ucap Dicky masih memluk Melisa.
“Lepasin donk.. engap Nih..” Melisa.
“Ehh hehe sorry Lis” Ucap Dicky sambil melepaskan pelukannya.
Lagi-lagi taman inilah yang menjadisaksi bisu kisah perjalanan hidup dan cinta antara Dicky Muhammad Prasetyo dan Emilia Melisa Putri.

0 komentar:

Post a Comment