Selamat datang di blog saya. Semoga apa yang anda cari ada di sini. Selamat berkunjung :)

Friday, 4 July 2014

On 13:48:00 by Unknown in    No comments
“Pohon itu angker. Kau tidak boleh pergi ke sekitar pohon itu. Nanti kau bisa sakit, atau hilang dibawa makhluk hitam besar!” Kata-kata itu yang selalu diucapkan oleh ayahku. Bosan rasanya mendengar kata itu. Aku yang masih polos lantas mempercayainya.
Ayah hampir setiap hari membacakan dongeng kepadaku dengan judul “si makhluk hitam besar”. Entah dari mana cerita itu ia dapatkan. Yang aku tahu hantu si hitam besar memang menjadi tokoh utama dalam cerita mistik di desaku. Makhluk yang ditakuti.
Aku bertempat tinggal di sebuah desa yang bisa dikatakan indah. Desa yang masih menjunjung tinggi adat istiadat dan berpegang teguh pada kepercayaan orang terdahulu. Jelas saja desaku desa yang masih terpencil. Jauh dari peradaban. Pemandangan indah dan udara segar masih dapat dirasakan hingga saat ini. Rumah-rumah penduduk pun masih menggunakan bahan kayu. Bukan sebuah desa namanya jika alam sekitarnya tak dihiasi dengan rindangnya pohon-pohon. Karena jika kau tampaki desaku penuh dengan pohon. Bertambah asri dengan sebuah Pohon beringin besar yang berada tepat di ujung desa. Dimana pohon beringin selalu dikaitkan akan hal-hal mistik. Dikaitkan akan hal-hal gaib. Terlepas dari semua itu memang pohon beringin terlihat angker karena pohonnya yang sangat besar.
Banyak isu mengatakan bahwa orang-orang desa sering melihat penampakan hantu yang sangat menyeramkan. Ada juga yang mengatakan ada makhluk hitam besar yang tinggal di sana. Makhluk tersebut bisa menyesatkan orang atau membuat orang tidak mengenali jalan dan bahkan katanya pernah menyembunyikan orang terdahulu yang sampai sekarang tidak ditemukan. Tapi ada juga orang sering meletakkan sesajen di sana. Entah hajat apa yang mereka inginkan. Yang sering kudengar banyak orang memohon pesugihan dari pohon tersebut berharap makhluk gaib yang ada di pohon tersebut bisa memperlancar rezeki. Terang saja orang-orang di desaku masih tergolong kolot yang masih percaya akan hal-hal gaib.
Mendengar hal-hal tersebut aku sangat takut dengan pohon tersebut. Aku selalu memikirkan si makhluk hitam besar. Si makhluk yang bisa menghilangkan manusia. Jika aku pulang sekolah aku tidak berani menatap ke arah pohon tersebut. Desa nan indah namun sarat akan mistik berbalut kekolotan terasa harmoni jika bersanding. Nyanyian mistik selalu mengalun dari mulut ayahku. Nadanya yang kasar setengah memarahi tak pernah nyaman di telingaku. Mistik. Aku membencinya seperti aku membenci ayahku.
Pada suatu hari aku diajak oleh teman-teman untuk bermain. Waktu itu aku yang masih berumur 12 tahun tepatnya kelas 6 SD. Setelah bosan bermain petak umpet di dekat sungai, tanpa sepengetahuanku teman-teman mengajak bermain ke tempat yang menyeramkan itu. Aku langsung teringat kata-kata ayah si makhluk hitam besar. Dan ternyata niat teman-temanku adalah mengambil sesajen yang sering diletakkan orang-orang desa. Sebenarnya aku sangat takut. Tapi aku berpura-pura berani karena malu dengan teman-temanku. Terang saja aku tidak ingin dicap lelaki penakut.
Teman-temanku dengan lantang mulai memasuki tempat dimana pohon tersebut. Sedangkan aku berjalan perlahan dengan kaki gemetar. Aku mulai berhalusinasi tak karuan. Si makhluk hitam besar. Bisa membuat orang lupa jalan pulang. Aku takut aku akan dibawa makhluk halus ke alamnya. Mulutku mulai komat-kamit tak karuan. Surah-surah pendek yang bisa kubaca, kubaca pada saat itu. Kulempar pandangan mataku pada setiap sudut-sudut tempat itu.
Aku berada tepat di bawah pohon beringin angker yang sangat besar. Sangat gelap karena pohon ini sangat rindang. Akar-akarnya yang bergantung pun bisa dijadikan tali ayunan. Terlihat temanku sangat menikmati perannya menjadi tarzan. Suasana mistik makin terasa dramatis dengan suara-suara hewan sekitar pohon. Tapi aku berusaha memberanikan diri.
Ku lihat ada banyak sekali sesajen, buku yang bertuliskan angka-angka yang tak kumengerti di sekitar pohon tersebut. Teman-temanku pun mulai memungut satu per satu sesajen tersebut kemudian menaruhnya ke dalam kantong kresek.
Sesampainya di rumah aku dimarahi habis-habisan oleh ayahku. Makanan sesajen yang kubawa langsung dibuang oleh ayahku. Beliau sangat marah. Aku bercerita pada ayah kalau disana tidak ada makhluk-makhluk yang menyeramkan. Tidak ada makhluk hitam besar yang membuat orang hilang. Buktinya aku masih bisa pulang dengan selamat. Sedikit pun ayah tidak mempercayaiku malah semakin memahariku. “Kau tidak tau apa-apa, dari zaman kakek nenek orang-orang di desa kita sudah tidak berani mendekati pohon itu. Pohon itu sangat angker. Jangan sekali-kali pergi ke pohon itu lagi!” Wajah ayahku merah padam marah padaku. Aku hanya bisa mengangguk, mengiyakan perkataan ayahku.
Beberapa hari kemudian. Aku yang masih penasaran berniat untuk pergi lagi ke pohon itu. Saat itu ayahku tidak ada di rumah. Sudah larut malam ayah belum juga pulang. Katanya pada ibu pergi ke rumah temannya. Kulihat ibu sudah tidur nyenyak di kamarnya. Aku pun secara diam-diam keluar rumah. Dengan sebuah senter menjadi penerang di setiap langkahku. Sebenarnya aku masih merasa takut. Tapi beberapa hari yang lalu aku tidak merasakan suasana mistik sama sekali. Makanya aku ingin mencobanya sekali lagi. Agar aku bisa mengatakan kepada ayah kalau tempat itu tidak angker. Aku ingin mengatakan kalau pohon beringin itu tidak angker.
Tempat yang kutuju mulai terlihat. Dengan perasaan tidak enak. Terus aku berjalan. Dengan berjalan terseok-seok karena kakiku menginjak akar-akar yang lumayan besar. Ku dengar ada suara berisik sekali. Suara orang tertawa. Hahahaha. Aku pun sangat terkejut. Jantungku berdebar cepat. Si makhluk hitam besar. Suara si makhluk hitam besar. Aku mulai berhalusinasi tak karuan. Dengan memberanikan diri aku berjalan lagi mengiringi suara yang kudengar tadi. Dan tepat aku berada di tengah pohon beringin itu. Sunggguh aku sangat terkejut. Ternyata bukan suara makhluk hitam besar. Tetapi suara orang yang selalu memarahiku pergi ke tempat ini. Dia sedang asyik bermain j*di bersama teman-temannya. Sekarang aku mengerti bahwa dongeng si makhluk hitam besar hanyalah dongeng untuk membohongi anak-anak yang ayahnya seorang penj*di ulung. Makhluk hitam besar adalah ayahku.

0 komentar:

Post a Comment