Selamat datang di blog saya. Semoga apa yang anda cari ada di sini. Selamat berkunjung :)

Friday, 4 July 2014

On 11:30:00 by Unknown in    No comments
Namaku tubagus gunawan, aku lahir sebagai bungsu dari 3 bersaudara. 2 orang kakak ku semuanya perempuan, dan cuma aku anak laki-laki di keluarga ini. Sebagai bungsu jelas aku besar dengan title “anak mamah”, manja dan malas. Karena aku tidak memiliki teman bermain sebab kedua kakak ku perempuan, sepupu dan anak-anak di sekitar rumahku pun yang sebaya denganku adalah perempuan.
Sampai aku menginjak kelas 4 sekolah dasar, ibu dan ayah ku menghadiahi aku seorang adik laki-laki yang lucu. Sudah lama aku menantikan seorang adik laki-laki yang akan menjadi teman dan sahabatku saat bermain, penghibur lelahku sepulang dari sekolah. anganku pun melayang sejenak. Mengandai andai kalau adik ku sudah besar nanti aku bisa mengajaknya main layangan di ladang, main mobil-mobilan. Dan Kalau ada yang berani mengganggu adik ku nanti akan aku pukul dengan tinjuan ala ksatria baja hitam. “hehehe..” tawa kecilku yang sedari tadi hidup di dalam lamunan bahagiaku sendiri.
Tahun tahun berlalu, kini adik ku sudah masuk taman pendidikan al-qur’an usia dini atau setara dengan TK. Dan aku sekarang duduk di bangku sekolah menengah pertama negeri di kota kelahiran ku di jawa barat. Hari-hari yang ku lalui begitu menyenangkan dengan adanya adik bungsu ku. aku dan kakak ku yang nomor dua sangat menyayangi dia, setiap malam waktu dia tertidur di pelukan ibu aku dan kakak ku selalu mencuri curi kesempatan untuk bisa sekedar menciumi pipinya yang chubby.
Hingga sampai di suatu hari saat aku berada di dalam kelas, entah kenapa perasaan ku begitu tidak enak. “gun, kenapa lo? Sakit yah?” tanya seorang teman kelas ku. “nggak apa-apa kok” jawabku sembari tersenyum kecil. “oh iya, ini kan hari senin.. lu pasti lagi puasa sunah ya? Trus gara gara kepanasan tadi pas upacara jadi lo lemes gini.” tanyanya menerka nerka apa yang terjadi padaku. “iya gue lagi puasa sunah, tapi gue nggak kenapa kenapa kok.. tenang aja sob, heehe” kata ku.
Tleneng.. tleneng.. tleneng.. tleneng
Bunyi bel besi tua tanda hari sudah berakhir di sekolah. “waktunya pulang, ah tapi mau beli yoyo dulu lah buat mainan si putok di rumah” gumamku, ya si putok panggilan sayaang ku pada adik semata wayangku itu.
Setibanya aku di depan kampung ku, aku turun dari mobil angkutan umum yang ku tumpangi untuk pulang ke rumah dan setelah ku bayarkan ongkos perjalanan ku dari sekolah terlihat dari seberang jalan sana adik ku sedang sibuk bermain bola dengan kawan sebayanya. Ingin rasanya berlari dan memeluk dia sambil berkata “nih, aa beliin yoyo buat kamu.. seneng gak de? Hehee” dan sudah pasti dia akan bilang “iyah aa”. Belum sempat ku tersadar dari lamunanku, tiba tiba terdengar suara mobil yang mengerem dengan keras di sertai suara benturan yang begitu mengagetkan ku.
“astagfirullah! PutoOkk!!! IbuU.! Ayah!??” teriak dan tangisku pecah saat mengetahui bahwa ternyata adik ku tertabrak mobil pick up yang melaju kencang. Warga pun berdatangan untuk menolong, tapi aku yang marah dan menangis sembari memeluk tubuh adik ku yang terbujur kaku tak bernyawa menghujat si pengendara lalai itu “anj***ng lo, bang*at!!! Balikin adik gua.! Gua nggak mau adik gua mati, gua nggak mau!! Tolong ibu, teteh si putok teeh” seruku memanggil manggil ibu dan kakak ku dengan tangisku.
Hari berganti hari, tapi dentang jam aku rasakan begitu lambat berputar. Sejak kepergian adik kecil ku, aku selalu menghabiskan malamku untuk pergi ke masjid sekedar untuk sholat dan mengirimkan sebuah pelukan rindu yang teriring do’a cinta ku pada adik ku. Di perjalan ku menuju masjid di suatu malam yang cerah dan berbintang, aku melihat ada bintang kecil yang ku rasa berbeda dengan bintang lainnya, sejenak aku coba pandangi bintang itu sebelum seorang teman menyapaku “hey, kenapa?”, “bintang kecil itu, adiku..” kataku. “iya, dia si putok.. ya udah yuk kita sholat dan kirimkan do’a untuknya biar dia bahagia di surga sana.. yah”.

0 komentar:

Post a Comment