Selamat datang di blog saya. Semoga apa yang anda cari ada di sini. Selamat berkunjung :)

Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Friday, 30 September 2016

On 08:37:00 by Unknown in    No comments
                Perempuan dan busana adalah hal yang tak mungkin dipisahkan. Dengan busana perempuan berusaha tampil cantik dan menarik.
                Tapi akibat dari keinginan tampil cantik dan menarik, perempuan mengabaikan norma norma agama. Sering kita lihat perempuan-perempuan yang berani berbusana ketat atas dan bawah (orang sunda sering menyebutnya leupeut). Berpakaian tapi telanjang.
                Yang paling memprihatinkan adalah sudah berpakaian ketat, pakai kerudung pula. Miris sekali melihat perempuan jaman sekarang yang sudah sembrawut dalam berpakaian. Mau dibawa kemana dunia ini. Dan apakah dari rahim perempuan perempuan seperti ini akan lahir anak anak yang soleh dan solehah?
                Wahai perempuan, tanggung jawab dan tugasmu sungguh berat. Dimulai dari berpakaian yang syar’i akan tumbuh pribadi yang baik. Maka untuk mewujudkan itu semua adalah tugas para orang tua untuk membiasakan anak anak perempuannya dimulai semenjak mereka kecil menutupi auratnya. Karena pendidikan yang paling baik dimulai dari pangkuan ibu. Dan dimulai dari ibunya untuk memberikan contoh cara berbusana yang baik. Juga selalu mengingatkan anak anak perempuannya untuk selalu menutup auratnya dan tidak tertarik dengan pakaian dari barat.

Monday, 29 June 2015

On 11:22:00 by Unknown in    No comments
Ungkapan diatas menggambarkan kecenderungan selera pasar dibentuk oleh social masyarakat tertentu.Dimana kecantikan tubuh lebih memiliki nilai tinggi dibandingkan kecantikan otak ,sehingga perempuan berlomba-lomba menghias diri memberikan perhatian pada perawatan tubuh mereka.Hal ini dibaca oleh kapitalis dengan memanfaatkan perempuan sebagaai komoditi ( barang) yang menjual dengan menghadirkan produk-produk dan pernak-pernik kecantikan,mengeksploitasi perempuan dalam berbagai iklan,bahkan iklan yang tidak ada kaitannya dengan barang yang ditawarkan,misalnya iklan cat,rokok,mobil,dan banyak lainnya.Betapa perempuan menjadi daya tarik kemolekan wajah dan tubuhnya,karna konstruksi social dan imajinasi masyarakat sehingga tidak disadari bahwa perempuan juga korban selera pasar,korban konstruksi social sehingga mereka hanya menjadi komoditi yang menjual.Pertanyaannya maukah kita menjadi korban atau bahkan menikmatinya ?   
Konstruk social kemudian juga membentuk stigma (anggapan ) bahwa perempuan harus cantik tidak penting pendidikan tinggi,bahkan doktrin orangtua yang menganggap peran perempuan hanya sebatas kawasan “kasur,dapur,dan sumur” ikut mereduksi kesadaran pentingnya pendidikan bagi perempuan hingga lebih memprioritaskan laki-laki yang mendapatkan porsi pendidikan tinggi. Lalu bagaimana Fiqh islam memandang urgensi pendidikan bagi perempuan?
20150113_062324.jpgHukum menuntut ilmu sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis :”tholabul ‘ilmi faridhotun ‘ala kulli muslimin wal muslimat”(menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim dan muslimah),tidak hanya laki-laki,perempuan juga dibebani kewajiban sama dalam menuntut ilmu. Lebih- lebih perempuan adalah”madrasatul ula” sekolah prtama bagi anak-anak kita,bagaimana kita bisa mencetak anak-anak yang berkualitas jika madrasahnya sendiri tidak kita berdayakan secara keilmuan,menjawab kebutuhan anak-anak kita yang lahir di zaman serba canggih di era gadget ini menjadi penting seorang ibu mengikuti perkembangan informasi dan teknologi karena ruang inilah yang paling banyak diakses anak-anak kita sehingga banyak informasi yang mereka dapatkan tanpa melalui filter,maka tugas orangtua terutama ibu menjadi pengawas utama bagi pendidikan anak-anaknya sebagai dampak penbagian peran dan tugas ketika bapak harus lebih banyak diluar rumah maka permpuanlah yang mengambil peran pengawasan harus dibekali keilmuan dan wawasan setinggi-tingginya,seluas-luasnya untuk meminimalisir dampak buruk teknologi dan informasi yang bebas tersebut.
Pentingnya belajar dan mencari ilmu dalam islam seperti yang telah diperintahkan oleh Allah SWT dalam surat Al-Alaq. Allah dalam firmanNya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah , dan Tuhanmulah yang maha pemurah , yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam , Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (Al-Alaq : 1-5)”.
Islam begitu menekankan betapa pentingnya pendidikan itu.Dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 122, Allah SWT berfirman : “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang).Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya,supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”.
Berdasarkan Al-Quran surah Al-Mujadilah ayat 11,niscaya Allah akan memberikan derajad yang tinggi serta penghargaan kepada orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan.Al-Quran surah Al-Imran ayat 18 memasukkan orang-orang yang berilmu diantara mereka yang menyatakan tentang keesaan Allah. Menurut hadis lainnya bahwa seeorang yang pergi belajar mencari ilmu,dianggap sedang berada di jalan Allah (berjihad) sampai kembali lagi.
20150113_062324.jpgIslampun memandang bahwa ditangan seorang perempuan tergenggam masa depan umat karena perempuan adalah tiang Negara , yang menentukan tegak atau runtuhnya sebuah Negara atau masyarakat. Islampun mencerdaskan perempuan , karena perempuan adalah bagian dari warga Negara sebagaimana kaum laki-laki. Keduanya bertanggung jawab untuk membawa umatnya ke keadaan yang lebih baik dan lebih maju.
Sejalan dengan agama, Negara memahami betul pentingnya pendidikan bagi perempuan  sebagai warga yang ikut berperan dan berkontribusi pada pembangunan suatu Negara.karena pembangunan suatu bangsa yang abadi adalah pendidikan. Pendidikan merupakan pondasi utama pembangunan, dan perempuan mempercepat pembangunan tersebut  dengan menyiapkan generasi yang unggul, bermoral, beriman, bertaqwa, serta berahlaq. Dalam UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional serta Pancasila dan UUD 1945 Pasal 32 Ayat 1 dan 2 berbunyi : (1)Setiap warga Negara berhak dan layak mendapatkan pendidikan, dan (2)Setiap warga Negara bebas memilih pendidikan.
Jadi jelaslah Pendidikan adalah hak setiap manusia dan kewajiban sebagai seorang muslim baik laki-laki maupun perempuan tidak ada alasan menomor duakan pendidikan. Kesadaran ini harus dimiliki tidak hanya oleh perempuan tapi juga laki-laki, mustahil membangun bangsa yang kuat tanpa persepsi yang sama agar tidak ada lagi deskriminasi dalam berpendidikan. Sangat urgen dan mendesak membangun generasi unggul kita melalui tangan-tangan perempuan yang cerdas dan berahlak, bukan oleh perempuan yang disibukkan dengan bedak dan tubuhnya. Karena generasi yang cerdas lahir dari ibu yang cerdas, selamat belajar !!!!
On 11:17:00 by Unknown in    No comments
Setiap makhluk hidup pasti memiliki kebutuhan, terutama manusia. Kebutuhan manusia semakin bertambah seiring perubahan dan kemajuan zaman. Perekonomian menjadi salah satu bidang yang terkena efeknya. Peningkatan kebutuhan manusia menuntut adanya peningkatan dalam bidang perekonomian. Di antara cara peningkatan perekonomian suatu negara adalah dengan menambah lapangan kerja bagi para penduduknya, tak terkecuali di negara kita, Indonesia.
Berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan perekonomian di Indonesia.  Di antaranya adalah penambahan lapangan kerja, peningkatan sumber daya manusia, serta pengembangan mutu dan tingkat pendidikan. Dan mungkin masih banyak lagi langkah-langkah lain yang masih dalam perencanaan alias belum dilaksanakan.
Meskipun usaha-usaha tersebut sudah direalisasikan, tapi tak dapat dipungkiri, peningkatan perekonomian belum merata bagi seluruh rakyat Indonesia. Masih banyak penduduk Indonesia yang masih di bawah standar hidup sejahtera. Masih mudah kita jumpai orang-orang yang tinggal di bawah jembatan, di daerah kumuh dekat tempat pembuangan sampah, maupun di emper-emper toko. Bahkan ada sebagian yang sama sekali tidak memiliki tempat tinggal.
Persaingan Ekonomi Melalui Tingkat Pendidikan
Sebagian besar manusia mempunyai pola pikir (mindset) bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin tinggi pula tingkat ekonominya. Begitu juga sebaliknya. Hal ini membuat manusia berlomba-lomba mencapai tingkat pendidikan setinggi-tingginya dengan harapan mereka akan meraih kehidupan yang enak, bukan sekedar layak. Namun, tidak sedikit yang berkehidupan pas-pasan meskipun mereka telah meraih tingkat pendidikan yang di atas rata-rata dengan seabreg gelar yang menghiasi namanya. Sehingga tak jarang orang menderita tekanan batin atas “musibah” tersebut. Banyak yang kecewa pada dirinya sendiri karena tidak mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan gelarnya. Contoh kecilnya ialah orang yang meraih gelar S1 dalam bidang pendidikan. Setelah mengajukan beberapa lamaran pekerjaan yang sesuai bidangnya, ternyata ia tidak mendapatkannya. Akhirnya ia mencari pekerjaan seadanya yang bahkan jauh dari bidangnya.
Di sisi lain, cukup banyak orang yang berpendidikan rendah tapi memiliki kehidupan yang layak, bahkan enak. Apa yang mereka inginkan, dengan mudah bisa mereka dapatkan. Kehidupan mereka melebihi kehidupan orang yang berpendidikan tinggi. Seakan-akan strata pendidikan tidak berpengaruh pada perekonomian mereka.
Banyak komentar muncul dari fenomena tersebut. Pro-kontra tidak bisa terhindarkan. Ada yang menanggapi hal tersebut wajar karena tidak semua lapangan pekerjaan memiliki peluang/lowongan kerja dengan jumlah yang melebihi batas sehingga harus menolak beberapa pelamar. Sebagian orang berpendapat bahwa orang berpendidikan rendah pun tidak kalah dengan yang berpendidikan tinggi, asalkan memiliki ketrampilan, kemampuan, kedisiplinan, kemauan serta etos kerja yang tinggi. Sebagian yang lain dengan tenang mengatakan bahwa semua sudah ada yang mengatur. Rizqi sudah diatur dan dibagi sesuai kehendak yang mengatur, manusia hanya mampu berusaha, tapi Allah-lah yang menentukan.
Respon Santri Terhadap Ekonomi
Kaum sarungan atau yang lebih dikenal dengan istilah santri, memiliki cara pandang tersendiri tentang rizqi. Mereka mempunyai kemantapan hati tentang masa depan, tak terkecuali yang berkaitan dengan rizqi. Tawakkal mereka seakan sudah dilatih dan terlatih sejak mereka hidup dan belajar di lingkungan pondok pesantren. Meskipun masih ada santri yang takut akan masa depannya. Esok akan jadi apa? Esok makan apa? Esok kerja apa? Bagaimana aku menghidupi anak istriku kelak kalau aku hanyalah seorang santri? Santri bisa apa? Dan seabreg kegundahan lainnya mungkin masih bersemayam di otaknya. Santri yang berjiwa santri seharusnya memiliki tawakkal yang kuat, tanpa menafikan ikhtiyar yang keras. Tawakkal dan kemantapan hati mereka bukan tanpa alasan. Mereka juga punya dasar, tendensi dari apa yang mereka dapatkan dari khazanah keilmuan di pondok pesantren. Entah yang berasal dari Al-Qur’an, hadits, ataupun maqolah ulama’.
Allah memiliki sifat Al-Rozzaq yang berarti Maha Pemberi Rizqi. Semua yang ada di dunia ini, sudah ditanggung rizqinya oleh Allah, Sang Pemilik Rizqi. Dari makhluk terkecil hingga terbesar, semua sudah ada jatah masing-masing. Allah berfirman dalam surat Hud ayat 6:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (هود : 6)
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizqinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauhil Mahfudh).
Rizqi tidak hanya berupa materi. Tidak sesempit yang mayoritas orang awam pikirkan. Kesehatan, keselamatan, kebahagiaan, dan jodoh juga merupakan rizqi. Sebagai orang yang beriman, kita harus percaya akan hal itu. Kita harus percaya bahwa semuanya telah diatur oleh Allah, termasuk pekerjaan dan tingkat kehidupan kita. Bukan berarti kita hanya berpangku tangan menunggu nasib kita, menanti skenario taqdir Allah. Bukan! Sebagai hamba, kita hanya diwajibkan untuk berikhtiyar/berusaha. Adapun hasilnya, kita pasrahkan kepada Allah, Tuhan yang menciptakan kita.
Kita boleh-boleh saja mengejar cita-cita kita setinggi langit, mengenyam pendidikan sesuai keinginan kita. Namun jangan sampai hal tersebut membuat kita lalai bahwa yang menentukan masa depan kita adalah Allah. Meskipun banyak yang mendapatkan pekerjaan sesuai dengan pendidikannya, tapi tak sedikit pula yang berbelok dan melenceng jauh dari harapan. Dan tak jarang ada yang terhenti dalam perjalanan meraih cita-citanya disebabkan ajal lebih dulu menghampiri.
Oleh karena itu, setinggi apapun tingkat pendidikan kita, tidak menjadi jaminan kelayakan hidup kita. Dan sebaliknya, serendah apapun tingkat pendidikan kita, kita tidak boleh pesimis akan masa depan kita. Kurang baik jika kita mencari ilmu dengan tujuan agar nantinya kita bisa menjadi seperti ini dan itu, atau agar bisa mendapatkan pekerjaan sesuai dengan pendidikan kita. Namun yang harus kita lakukan adalah membenahi niat kita dalam mencari ilmu. Menuntut ilmu dengan niat mengharap serta menggapai ridlo Allah, menghilangkan kebodohan, mencerdaskan bangsa, mengisi pembangunan nasional, menghidupkan agama Allah, ataupun tujuan lain yang berorientasi pada agama dan akhirat, tanpa mengesampingkan kemaslahatan dunia kita.
Dan ketika Allah menaqdirkan kehidupan yang tidak sesuai dengan harapan kita, kita tidak boleh menyalahkan keadaan apalagi menyalahkan taqdir Allah. Dalam sebuah hadits qudsiy disebutkan:
مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِي وَلَمْ يَصْبِرْ عَلَى بَلَائِي فَاطْلُبْ رَبًّا سِوَائِي
Barang siapa tidak ridlo terhadap qodlo’ (ketentuan)-Ku dan tidak sabar atas bala’ (cobaan)-Ku, maka carilah Tuhan selain Aku.
Guru kita, Syaikh Maimoen Zubair pernah dawuhan:
-          Ngaji seng tenanan! Ora usah mikir arep dadi opo. Angger ngalim lak biso dadi opo-opo. Mengaji/belajar yang sungguh-sungguh! Tidak usah memikirkan mau jadi apa. Kalau alim (pandai dalam hal agama) pasti bisa jadi apa saja.
-          Wong nek ngalim iku uripe mesti kepenak. Gene gak kepenak, mergo gak patio ngalim. Orang alim itu hidupnya pasti enak. Kenapa tidak enak, karena tidak begitu alim.
Kiat-Kiat Meraih Kesuksesan Ekonomi
Setiap manusia menginginkan kehidupan yang layak, enak, dan serba tercukupi. Beberapa usaha akan dilakukan demi tercapainya tujuan itu. Berikut ini diantara resep-resep untuk meraih kesuksesan hidup, khususnya di bidang ekonomi:
1.      Percaya kepada Dzat Pemberi Rizqi.
Kita harus menanamkan keyakinan dalam hati kita bahwa kehidupan di dunia ini sudah diatur oleh Allah, berjalan atas kehendak-Nya. Termasuk di dalamnya adalah tentang rizqi kita, sudah terencana di lauhil mahfudh. Ketika kita ditaqdirkan mendapatkan kehidupan yang bahagia dan berkecukupan, kita tidak boleh lalai terhadap Sang Pemberi Rizqi. Kita juga tidak boleh menganggap bahwa semua itu adalah hasil dari jerih payah kita sendiri, tapi semua adalah semata-mata anugerah dari Allah. Karena seandainya Allah tidak menghendaki seperti itu, kita tidak bisa merasakan kenikmatan itu. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Sulaiman dalam Al-Qur’an surat An-Naml ayat 40 yang berbunyi:
هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ (النمل : 40)
Ini termasuk karunia Tuhanku untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya)
Sebaliknya, apabila kita mengalami kehidupan yang susah, sempit, serba kekurangan, kita tidak boleh menyalahkan keadaan apalagi memprotes Allah. Justru kita harus berintrospeksi diri, merenungi kesalahan dan dosa kita, serta meyakini bahwa itu adalah bagian dari kehendak Allah sehingga kita akan selalu husnudzon kepada Allah. Dan tentunya apa yang diberikan Allah kepada kita adalah untuk kebaikan kita, karena Allah pasti memberi yang terbaik untuk kita meskipun kadang yang terbaik bagi kita bukanlah yang terindah di mata kita. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ (البقرة : 216)
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.
فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا (النساء : 19)
Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padana kebaikan yang banyak.
2.      Memenuhi kewajiban kita.
Sebagai seorang hamba, sudah sepatutnya kita melakukan apa yang menjadi tujuan penciptaan kita. Yang tak lain adalah beribadah kepada-Nya. Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (الذاريات : 56)
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى (طه : 132)
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan sholat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizqi kepadamu. Kami-lah yang member rizqi kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.
Dari ayat tersebut, bisa dipahami bahwasanya Allah-lah yang memberi rizqi kepada kita. Allah menyuruh kita untuk memerintah keluarga kita agar melakukan sholat dan bersabar dalam (perintah) sholat. Setelah itu Allah menegaskan bahwa Allah tidak meminta/menuntut rizqi dari kita. Justru sebaliknya, Allah yang akan menjamin rizqi kita jika kita telah melakukan kewajiban atas perintah-Nya tersebut.
3.      Berusaha sungguh-sungguh.
Dalam mencari rizqi, Rasulullah telah mengajarkan kita dalam haditsnya:
اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ أَبَدًا وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا
Bekerjalah untuk (urusan) duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya dan beramallah untuk (urusan) akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.
Rasulullah tetap memerintahkan kita untuk mengusahakan duniawi kita. Namun tidak meninggalkan urusan akhirat kita.
Hal senada juga telah difirmankan Allah dalam kalam-Nya:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ (القصص : 77)
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat. Dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

4.      Memperbanyak dzikir.
Dzikir merupakan salah satu ibadah yang bisa mendekatkan diri kita Allah. Sebagian dzikir juga mempunyai hikmah bisa memperlancarkan rizqi kita, sehingga para ulama banyak yang menganjurkan kita untuk membaca dzikir-dzikir atau do’a-do’a tertentu yang bisa menjadi lantaran lancarnya rizqi.
5.      Bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah kepada kita.
Ketika kita berterimakasih kepada orang yang telah memberikan sesuatu kepada kita, bisa dipastikan orang itu akan merasa senang karena sudah dihargai pemberiannya. Apalagi jika kita membalas dengan do’a kebaikan untuknya, maka orang tersebut tidak akan bosan memberi kita lagi di lain waktu.
Allah Sang Pemberi Rizqi, juga tidak akan segan-segan untuk menambah rizqi yang kita syukuri. Bahkan Allah telah berjanji dengan firman-Nya:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (إبراهيم : 7)
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.

Semoga kita bisa menjadi hamba Allah yang benar-benar menghamba kepada-Nya, yang selalu mengingat-Nya dalam suka maupun duka. Dan semoga Allah senantiasa mencurahkan rizqi-Nya kepada kita dengan penuh rahmat-Nya sehingga rizqi kita barokah dan bermanfaat bagi sesama, untuk kepentingan dunia, agama dan akhirat. Aaamiiin…
On 11:16:00 by Unknown in    No comments
Sinar matamu tajam namun ragu
Kokoh sayapmu semua tahu
Tegak tubuhmu tak ‘kan tergoyahkan
Kuat jarimu kala mencengkram
Bermacam suku yang berbeda
Bersatu dalam cengkrammu

Angin genit mengelus merah putihku
Yang berkibar sedikit malu-malu
Merah membara, tertanam wibawa
Putihmu suci, penuh kharisma
Pulau-pulau yang berpencar
bersatu dalam kibarmu

“Iwan Fals”

“Garudapun malu merebahkan sayapnya”, terbaca lagi kalimat penuh arti itu di buku inspirator saya. Sejenak saya mencoba memperjelas alur otak yang sedang bergulat, mengapa saya menulis kalimat itu?. Wal hashil, saya pun tau, sebelum saya menulis kalimat itu saya sempat mengikuti upacara di kantor camat, yang dipimpin oleh para komando rayon militer. Teringat pada hari itu adalah tanggal 01 Juni, yang dalam mayoritas dimana-mana pada hari itu diperingati sebagai ‘Hari Kelahiran PANCASILA’. Seusai saya melaksanakan kegiatan yang penuh semangat reformasi dan berat mengandung nilai Nasonalisme, entah mengapa imaginasi saya melayang terbang ke arah titik Ideologi Bangsa ini “PANCASILA”. Pun juga sekilas saja untuk merebahkan kembali sayap Garuda yang kini terlipat rapat sedikit malu, mari menyelam sejenak dalam pergolakan paradigma ini.
Anda masih paham dengan asas negara kita, Pancasila?, Anda masih ingat butir-butir kandungan tiap-tiap Sila, dari Sila pertama hingga Sila ke-5?, Atau masih hafal dengan Pancasila?, Atau bahkan minimal anda pernah dengar dengan istilah ‘Pancasila’?. Dengar saja tidak pernah, lantas bagaimana untuk menghafalkan?, Bila hafal saja tidak, lalu bagaimana untuk mengerti?, Mengerti saja nihil, lalu bagaimana bisa paham?, Paham atau mencoba untuk paham saja tidak pernah mencongol  di kepala bahkan terbesit dalam ingatan, lalu bagaimana bisa menerapkannya?, Pancasialiskah ?.
Pancasila sebagai dasar negara sekaligus sebagai ideologi bangsa yang bisa diterima oleh semua kalangan, golongan dan lapisan masyarakat, bahkan semua khalayak, yang dicetuskan oleh tokoh-tokoh dan badan-badan khusus dengan berbagai kajiannya yang cukup panjang. Dan yang  sekarang ini mungkin hanya bisa dibilang sebagai dokumen negara atau surat warisan para leluhur yang harus disimpan rapat-rapat agar tidak menguap. Kecenderungan saya atas apa yang telah terfikir dan terucap bukannya tidak beralasan, melihat pancasila sekarang ini tak ubahnya hanya sebagai goresan-goresan sajak indah yang hanya bisa dikumandangkan. Pancasila nampaknya belum bisa mendarah daging pada kegiatan non formal kita. Pancasila seakan-akan tak mempunyai ruang untuk bisa hidup selain pada acara-acara tertentu, lebih seringnya seperti upacara bendera di pendidikan-pendidikan formal dan semacamnya.

Melihat fenomena yang sedikit meresahkan hati tersebut, Pancasila merupakan tema yang pas dan tepat untuk masa kini (semoga tak juga untuk masa mendatang). Bila NU pada muktamarnya kemarin di Makassar menyerukan agar NU kembali ke khittahnya yaitu awal di bentuknya organisasi islam terbesar di Indonesia, maka Pancasila adalah khittah bagi negara agar mengaktualkan kembali lima dasar negara tersebut. Akan tetapi nihil sekali semua itu dapat terealisasi jika kita enggan mengemban nilai Nasionalisme dalam diri kita. Dan kiranya itulah yang menjadi tonggak utama pada pembahasan kali ini.
Anda masih ingat saat menjelang runtuhnya orde baru?, Bangsa kita di guncangkan dengan adanya pergolakan dasyhat 2 komponen yang sangat penting, yakni aparat TNI dengan oknum-oknum mahasiswa dan berbagai macam aktifis di jakarta. Ya, saat itulah perlawanan hebat antara aparat TNI dan oknum-oknum tersebut yang menandai awal dari Reformasi  di negeri penuh perjuangan ini. Waktu itu aparat TNI seolah-olah “dilawankan” oleh sebagian orang dengan para mahasiswa, aktifis, dan berbagai macam elemen masyarakat yang menuntut adanya pembaruan setelah lama terpuruk dan mengancam kesejahteraan negara.
Menurut hemat penulis, pertikaian hebat yang menyita waktu cukup lama tersebut antara aparat dan mahasiswa tidak ada yang dapat disalahkan. Karena aparat tersebut meskipun bertindak secara tragis, tapi mereka mengemban apa yang telah menjadi kewajibannya, yakni menjaga kestabilan dan keamanan negara. Di lain pihak para mahasiswa juga menuntut apa yang menjadi hak dari rakyat indonesia yang telah lama mereka harap-harapkan yakni reformasi.
Dari sejarah singkat perjalanan bangsa ini, mungkin bisa di ambil pelajaran dari dua blok yang bertikai tersebut. Menurut banyak kacamata masyarakat, kedua pihak tersebut hanya tampak melampaui batas dari apa yang seharusnya mereka lakukan. Tetapi harus di ingat bahwa apa yang melandasi mereka tak lain dari buah semangat Nasionalisme  mereka yang berpacu dengan keikhlasan tugas masing-masing. Tak mudah memang, mengemban amanat negara yang sudah terpatri dalam semangat berpatriot di tengah badai kebobrokan Bangsa.

Anda masih ingat pula di satu masa yang lalu, saat menghormat kepada sang Saka Merah Putih sempat diharamkan?, Setelah ratusan tahun di jajah dan setelah mendapatkan apa yang telah lama mereka impikan, tiba-tiba mereka disuruh kembali untuk melepaskannya, Lucu bukan?. Satu yang jadi pertanyaan,“mengapa sampai diharamkan?”, “Haram hormat pada Sang Saka Merah Putih, karena itu Musyrik!!” jawab-nya. Dengan Entengnya lontaran kalimat itu keluar dari lidah tak bertulangnya, lebih-lebih Musyrik yang menjadi alasan. Mungkin orang tersebut mengikuti Thoriqot Terlalu Islam. Hahaha.... Ternyata sudah dari dulu Nasionalisme bernegara hanya memang perilaku tolol yang harus ditertawakan.
Mungkin bangsa kita sekarang ini butuh saling pengertian atau konferensi nasional yang berakar dalam semangat bernegara serta memberi dan menerima, sehingga sadar betul apa yang seharusnya mereka kerjakan dan tidak lalai dari buah tindakan tersebut apa yang harus mereka berikan untuk negara. Tentu hal itu tidak mudah bila tidak ditopang dengan pemanfa’atan yang semestinya (profesional), apa yang menjadi kelebihannya dan tidak berusaha untuk memanfaatkan celah dan kelemahan orang lain. 
Selain itu, yang perlu kiranya adalah belajar dari kesalahan yang telah terlewatkan, agar kekhianatan itu tidak terulang kembali dan mengenang kejayaan bangsa kita Indonesia sebagai sumber inspirasi yang menjelma menjadi kekuatan yang sangat hebat. Tapi kita jangan terlalu menengok ke belakang dan meremehkan apa yang kita hadapi saat ini. Artinya sudah saatnya kita kembali ke Khittah awal kita, yaitu tujuan di bentuknya sutau negara.
Jika hal-hal tersebut dapat terealisasi, cepat atau lambat perataan beban dan kesempatan tak lagi hanya berupa tong kosong yang nyaring bunyinya. Karena pembangunan demi pembangunan di segala bidang akan silihberganti berproses secara otomatis. Dan image buruk pancasila pun akan pudar dengan sendirinya dari ke-tuan-an yang kaya raya menjadi Ke-Tuhan-an yang maha Esa, kemanusiaan sipil yang biadab menjadi kemanusiaan yang adil dan beradab, perceraian indonesia menjadi persatuan indonesia, kesewenang-wenangan yang di pimpin oleh penjabat dalam ucapan dan tindakan menjadi kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan kecurangan sosial bagi seluruh rakyat indonesia menjadi keadilan  sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Dengan begitu, Garudapun tak lagi melipat rapat sayapnya karena malu, justru ia malu jika tetap melipat rapat-rapat sayapnya.
Wahai Presiden Kami yang baru
Kamu harus dengar suara ini
Suara yang keluar dari dalam goa
Goa yang penuh lumut kebosanan
Walau hidup adalah permainan
Walau hidup adalah hiburan
Tetapi kami tak mau dipermainkan
Dan kami juga bukan hiburan

Masalahnya sekarang satu, perubahan yang dimaksudkan tersebut apakah karena kita sadar dan merasa perlu dengan persiapan-persiapan yang matang?, Bila tidak, maka kita tunggu saja perubahan tersebut akan terjadi dengan sendirinya karena adanya desakan sejarah. Atau bahkan malah sebaliknya, sedikit demi sedikit luka itu akan semakin parah dengan sendirinya karena adanya tuntutan zaman yang semakin edan.
Terbanglah garudaku
Singkirkan kutu-kutu di sayapmu
Berkibarlah benderaku
Singkirkan benalu di tiangmu
Jangan ragu, dan jangan malu
Tunjukkan pada dunia
Bahwa sebenarnya kita mampu

Mentari pagi sudah membumbung tinggi
Bangunlah putra-putri ibu pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi
Setelah itu kita berjanji
Tadi pagi, esok hari atau lusa nanti
Garuda bukan burung perkutut
Sang saka bukan sandang pembalut
Dan coba kau dengarkan
Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut
Yang hanya berisi harapan
Yang hanya berisi hayalan


“Iwan Fals”