Monday, 29 June 2015
On 11:22:00 by Unknown in Opini No comments
Ungkapan diatas menggambarkan
kecenderungan selera pasar dibentuk oleh social masyarakat tertentu.Dimana
kecantikan tubuh lebih memiliki nilai tinggi dibandingkan kecantikan otak
,sehingga perempuan berlomba-lomba menghias diri memberikan perhatian pada
perawatan tubuh mereka.Hal ini dibaca oleh kapitalis dengan memanfaatkan
perempuan sebagaai komoditi ( barang) yang menjual dengan menghadirkan produk-produk
dan pernak-pernik kecantikan,mengeksploitasi perempuan dalam berbagai
iklan,bahkan iklan yang tidak ada kaitannya dengan barang yang
ditawarkan,misalnya iklan cat,rokok,mobil,dan banyak lainnya.Betapa perempuan
menjadi daya tarik kemolekan wajah dan tubuhnya,karna konstruksi social dan
imajinasi masyarakat sehingga tidak disadari bahwa perempuan juga korban selera
pasar,korban konstruksi social sehingga mereka hanya menjadi komoditi yang
menjual.Pertanyaannya maukah kita
menjadi korban atau bahkan menikmatinya ?
Konstruk social kemudian
juga membentuk stigma (anggapan ) bahwa perempuan harus cantik tidak penting
pendidikan tinggi,bahkan doktrin orangtua yang menganggap peran perempuan hanya
sebatas kawasan “kasur,dapur,dan sumur” ikut mereduksi kesadaran pentingnya
pendidikan bagi perempuan hingga lebih memprioritaskan laki-laki yang
mendapatkan porsi pendidikan tinggi. Lalu bagaimana Fiqh islam memandang
urgensi pendidikan bagi perempuan?
Hukum menuntut ilmu sebagaimana
dijelaskan dalam sebuah hadis :”tholabul
‘ilmi faridhotun ‘ala kulli muslimin wal muslimat”(menuntut ilmu wajib bagi
setiap muslim dan muslimah),tidak hanya laki-laki,perempuan juga dibebani
kewajiban sama dalam menuntut ilmu. Lebih- lebih perempuan adalah”madrasatul
ula” sekolah prtama bagi anak-anak kita,bagaimana kita bisa mencetak anak-anak
yang berkualitas jika madrasahnya sendiri tidak kita berdayakan secara
keilmuan,menjawab kebutuhan anak-anak kita yang lahir di zaman serba canggih di
era gadget ini menjadi penting seorang ibu mengikuti perkembangan informasi dan
teknologi karena ruang inilah yang paling banyak diakses anak-anak kita
sehingga banyak informasi yang mereka dapatkan tanpa melalui filter,maka tugas
orangtua terutama ibu menjadi pengawas utama bagi pendidikan anak-anaknya
sebagai dampak penbagian peran dan tugas ketika bapak harus lebih banyak diluar
rumah maka permpuanlah yang mengambil peran pengawasan harus dibekali keilmuan
dan wawasan setinggi-tingginya,seluas-luasnya untuk meminimalisir dampak buruk
teknologi dan informasi yang bebas tersebut.
Pentingnya belajar dan mencari ilmu
dalam islam seperti yang telah diperintahkan oleh Allah SWT dalam surat Al-Alaq.
Allah dalam firmanNya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah , dan
Tuhanmulah yang maha pemurah , yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam ,
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (Al-Alaq : 1-5)”.
Islam begitu menekankan betapa
pentingnya pendidikan itu.Dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 122, Allah SWT
berfirman : “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan
perang).Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa
orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi
peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya,supaya mereka
itu dapat menjaga dirinya”.
Berdasarkan Al-Quran surah
Al-Mujadilah ayat 11,niscaya Allah akan memberikan derajad yang tinggi serta
penghargaan kepada orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan.Al-Quran surah
Al-Imran ayat 18 memasukkan orang-orang yang berilmu diantara mereka yang
menyatakan tentang keesaan Allah. Menurut hadis lainnya bahwa seeorang yang
pergi belajar mencari ilmu,dianggap sedang berada di jalan Allah (berjihad)
sampai kembali lagi.
Islampun memandang bahwa
ditangan seorang perempuan tergenggam masa depan umat karena perempuan adalah
tiang Negara , yang menentukan tegak atau runtuhnya sebuah Negara atau
masyarakat. Islampun mencerdaskan perempuan , karena perempuan adalah bagian
dari warga Negara sebagaimana kaum laki-laki. Keduanya bertanggung jawab untuk
membawa umatnya ke keadaan yang lebih baik dan lebih maju.
Sejalan dengan agama, Negara memahami
betul pentingnya pendidikan bagi perempuan sebagai warga yang ikut berperan dan
berkontribusi pada pembangunan suatu Negara.karena pembangunan suatu bangsa
yang abadi adalah pendidikan. Pendidikan merupakan pondasi utama pembangunan,
dan perempuan mempercepat pembangunan tersebut
dengan menyiapkan generasi yang unggul, bermoral, beriman, bertaqwa,
serta berahlaq. Dalam UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
serta Pancasila dan UUD 1945 Pasal 32 Ayat 1 dan 2 berbunyi : (1)Setiap warga
Negara berhak dan layak mendapatkan pendidikan, dan (2)Setiap warga Negara
bebas memilih pendidikan.
Jadi jelaslah Pendidikan adalah hak setiap
manusia dan kewajiban sebagai seorang muslim baik laki-laki maupun
perempuan tidak ada alasan menomor duakan pendidikan. Kesadaran ini harus
dimiliki tidak hanya oleh perempuan tapi juga laki-laki, mustahil membangun
bangsa yang kuat tanpa persepsi yang sama agar tidak ada lagi deskriminasi
dalam berpendidikan. Sangat urgen dan mendesak membangun generasi unggul kita
melalui tangan-tangan perempuan yang cerdas dan berahlak, bukan oleh perempuan
yang disibukkan dengan bedak dan tubuhnya. Karena generasi yang cerdas lahir
dari ibu yang cerdas, selamat belajar !!!!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Search
Popular Posts
-
Muhammad Syifa El Zain Ratapan Anak Tiri Dikisahkan, ada sebuah keluarga rukun yang terdiri dari ayah, ...
-
Jenis Buku : Buku Fiksi Judul Buku : The Chronicles of Ghazi Pengarang ...
-
Apa kamu ingat ketika kita besama .. melewati segala rintangan yang ada didepan mata .. Apa kamu ingat saat kita tertawa ...
-
Pertemananku Terhalang Geng Kucing Dikisahkan pada suatu sekolah ada dua geng yang saling bermusuhan, yaitu geng tikus da...
-
PERPISAHAN Dulu.... Ketika Aku masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah Aku dan temanku selalu tertawa. Penuh senda gurau. Se...
Categories
Blog Archive
Total Pageviews
Blog Archive
Powered by Blogger.
0 komentar:
Post a Comment