Selamat datang di blog saya. Semoga apa yang anda cari ada di sini. Selamat berkunjung :)

Monday, 29 June 2015

On 11:13:00 by Unknown in    No comments
Jamin masih dipenuhi ragu berdiri di depan sebuah rumah kecil berdinding kayu jati tua. Dia masih sangsi untuk masuk rumah yang kata orang adalah rumah Mbah Jan, seorang dukun sakti. Rumah itu terletak di tengah hutan belantara yang jauh dari pemukiman penduduk. Harus menempuh bukit terjal dan sungai yang cukup panjang untuk mencapainya.
              Jamin mendatangi Mbah Jan bukan berarti tanpa tujuan. Dia ingin minta tolong tentang pergulatan jiwanya. Belakangan ini Jamin tidak bisa memungkiri datangnya kesunyian dan diserbu oleh rasa takut yang mencekram pada hari-harinya. Mungkin kehampaan spiritual yang mendominasi dirinya membuatnya selalu merasa suram dalam menjalani hidup. Kerinduan rohnya yang menggebu terhadap sang Kholiq selalu terbelenggu terhadap nafsu dunia. Berujung pada keinginan rohnya untuk lepas dari belenggu jasmaninya yang hanya menuruti keinginan nafsu belaka.
              Entah suara darimana yang membuat dia merasa bahwa jatah umur dari Tuhan akan segera berakhir. Jamin sudah berusaha keras mengusirnya jauh-jauh, namun rasa itu sudah melebur pada jiwanya. Pernah dia mendatangi seorang temannya yang ahli jiwa, namun hasilnya nihil. Bahkan, dia juga mendatangi seorang Kiai untuk minta tolong. Namun hasilnya sama saja. Bukan kesalahan Jamin mendatangi seorang Kiai, mungkin kesalahanya kurang pintarnya Jamin memilah dan mimilih Kiai yang tepat. Mungkin juga bukan kurang pintarnya Jamin, karena di zaman dan di Negeri -yang katanya Agamis- ini, mencari seorang Kiai pewaris para Nabi sama dengan mencari jarum di tumpukan jerami. Hingga ada seorang teman yang menganjurkan untuk mendatangi dukun. Rasa takut akan kematian membuatnya mau melakukan saran temannya itu.
              “Masuklah nak!“, sebuah suara dari dalam rumah yang membuyarkan lamunan jamin. Dengan sedikit keberanian yang dipaksa, Jaminpun masuk rumah yang mengesankan keangkeran itu. Terlihat isi rumah yang hanya terdiri dari satu ruangan dengan cahaya remang-remang dari sudut-sudut rumah, dan gulatan api di atas bambu yang terletak di pinggiran ruangan. Seorang laki-laki setengah baya berambut panjang mengenakan pakain serba hitam kecoklatan dengan leher yang terhiasi kalung dari tulang dan setengah dari sepuluh jari tangan penuh dengan cincin berbatu (Akik).
              “Apa dia yang namanya Mbah Jan?”, Jamin bertanya pada diri sendiri dalam hati.
              “Ya, jika kau mencari seorang dukun ternama, itu adalah aku, Mbah Sumijan alias Mbah Jan”. Kata laki-laki yang ternyata Mbah Sumijan atau Mbah Jan dengan gaya ala dukun memamerkan ketajaman ilmunya.
              “Duduklah! ”, lanjut Mbah Jan dengan suara serak yang khas itu.
              Masih belum menguasai diri, Jamin asal duduk berhadapan dengan Mbah Jan. Ketika jarak mereka hanya beberapa jengkal, yang hanya terhalang meja penuh sesejen, Mbah Jan bekata untuk meyakinkan kearifannya sebagai seorang dukun.
              “Aku tahu maksud kedatanganmu ke sini. Kau merasa sangat resah karena kematian semakin mengakrabimu kan?”. Dengan lantang dan seolah hanya dia dukun yang mahir di dunia ini, Mbah Jan menebak krentek hati sang lelaki yang resah itu.
              “Ya, Mbah”, jawab Jamin seiring dengan badan yang gemetar dan tetesan air keringat dari jidat hingga ke dagu.
              “Jangan takut dan bimbang nak, sebenarnya yang patut disalahkan adalah para Malaikat yang memegang amanat di devisi kematian para umat manusia”.
              “Maksudnya apa Mbah?“, jawab Jamin dengan nada keras dan muka setengah setengah-setengah, dilanda bingung dan resah.
              “Dalam arsip umur manusia, baru saja Malaikat melakukan kesalahan pendataan, sehingga datanya terbengkalai. Dan mungkin sekarang para malaikat devisi kematian sedang bingung membenarkannya.”
              “Mana mungkin Malaikat keliru?”, hujat si Jamin kepada Mbah Jan dengan mimik sedikit geram.
              “Diam!, kalau kau tak percaya padaku, sampai di sini saja perjumpaan kita.”, Mbah Jan meluapkan kata dengan sangat lantang.
              “Maaf Mbah, silakan anda melanjutkan perbincangan yang tadi.”, selat Jamin cepat-cepat. Supaya Mbah Jan tidak tersinggung dan murka.
              “Karena takut atasan para Malaikat dengan liciknya menyulap catatan umur kehidupan, sehingga umurmu yang sebenarnya masih cukup panjang menjadi tidak lama lagi. Sayang di bumi ini tidak ada ‘Dewan Perwakilan Bumi’ yang bisa mewakili aspirasi penghuni bumi untuk menuntut penghuni langit. Tapi percuma juga mencari orang yang pantas menduduki jabatan tinggi itu, akan sangat sulit mencari orang yang bisa dipercaya, apalagi di Negeri ini. Untuk mewakili daerahnya saja sudah ‘sak karepe dewe’. Mereka hanya bisa membuncitkan perut dan tidur di dalam mobil mewah berplat merah dengan gaji yang melimpah. Memang bila kita kaji lebih jauh dalam kecarut-marutan masih banyak tangan yang tega berbuat nista”. Keluh Mbah Jan dengan menggelengkan kepala.
              “Lantas saya harus bagaimana Mbah?, apa saya harus menjadi Dewan Perwakilan Bumi?”, Tanya si Jamin dengan sedikit menelan ludah.
              “Tidak usah nak!, itu terlalu besar untuk kita. Kau sembunyi saja pada hari kematianmu. Bagaimana?”, Jawab Mbah Jan dengan tenangnya.
              “Kemana kita akan sembunyi?, sedangkan Tuhan tiada pernah menikmati tidur dan Tuhanpun juga tak pernah buta akan pantauanNya.”, Lontar Jamin yang tetap menahan pergulatan jiwanya.
              “Tanyakan pada rumput yang bergoyang!!!”, Dengan santai dan langkah gontai si dukun kondang -katanya- itu menyauti.
              Jamin menahan tawa, “Ternyata Mbah Jan tahu juga lagunya Ebit.”, bisiknya dalam hati.
              “Kau pikir ini waktu yang tepat untuk bercanda?, kau akan aku rubah menjadi rerumputan di depan rumah, pasti malaikat tidak menyangka kau di sana”.
              “Kalau itu cara yang terbaik untuk menawar kematian, saya manut saja kepada Mbah.", saut Jamin bernada lugu yang dengan menundukkan kepala.
              Ringkas cerita, dengan mencurahkan seluruh kesaktiannya, tokoh kita "Jamin" disihir menjadi segumpal rumput yang kemudian oleh Mbah Jan ditaruh di depan rumah dekat pintu. Setelah mepertimbangkan dan memperkirakan segala kemungkin terburuk, Mbah Jan kembali ke meja kerjanya.

              Keesokan harinya, ketika mentari baru saja menampakkan raut wajahnya, Mbah Jan ingin keluar dari rumah untuk menengok rerumputan yang merupakan jelmaan dari wujud si Jamin itu. Betapa kaget dan geramnya ketika Mbah Jan melihat segerombolan Kambing -entah darimana datangnya- tengah asyik menyantap rerumputan segar jelmaan dari si Jamin, seolah sesegar manusia yang sedang menikmati hidangan sarapan. Mbah Jan hanya bisa bengong disertai memegang dahinya melihat dengan lahapnya para kambing menghabiskan rerumputan tanpa tersisa.

0 komentar:

Post a Comment