Showing posts with label Naskah Drama. Show all posts
Showing posts with label Naskah Drama. Show all posts
Friday, 31 May 2013
On 07:44:00 by Unknown in Naskah Drama No comments
Muhammad Syifa El Zain
Ratapan
Anak Tiri
Dikisahkan, ada sebuah keluarga
rukun yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua orang anak. Pada suatu hari teman
sang ayah berkunjung ke rumah keluarga tersebut untuk menyampaikan kabar
gembira.
Teman : Assalamu’alaikum. Any body home?
Ayah : Wa’alaikum salam. Eh… kirain siapa. Ayo
silahkan masuk.
Teman : Iya, terima kasih
Ayah : Tumben datang kesini. Ada perlu apa?
Teman : Apa ayo……???
Ayah
: Malah balik nanya. Ada apa?
Teman : Saya dan istri saya akan menunaikan ibadah
haji. Saya mau ngajak kamu ikut naik
haji. Biayanya biar saya yang
ngurus. Mau nggak? Sekalian ajak istrimu. Gimana?
Ayah : Hm….gimana yach? Okelah kalo begitu
Teman : Makasih yach udah mau ikut.
Ayah : Ehh…..justru saya yang harus berterima
kasih. Lagi dapet rezeki?
Ibu : (datang membawa minum) ini minumannya.
Silahkan diminum.
Teman : Terima kasih. Ia nih lagi ada rezeki. Dapat
hadiah dari bank satu milyar
Ayah : Waw…! Uang satu milyar bisa beli bala –
bala atau gehu berapa karung?
Teman : Paling satu atau dua truk
Ayah : Bu, ini temen bapak mau ngajak kita naik
haji
Ibu : Masa?
Ayah : Iya
Ibu : Ouh….terima kasih
Teman : Sama – sama. Oh iya, saya ada pelu ke
Bandung. Saya pergi dulu. Assalamu’alaikum
Ayah : Wa’alaikum salam
Dua
minggu kemudian ayah dan ibu kedua anak tersebut akan berangkat ke “tanah
suci.” Ayah dan ibunya pun berpamitan kepada kedua orang tuanya
Ayah : Pak, Syifa dan ………. pamit mau berangkat
naik haji. Syifa titip anak – anak ya.
Kakek
: Iya, hati – hati disana. Jaga diri baik
Ibu : Iya, saya pamit ya bu. Assalamu’alaikum
Kakek
dan Nenek : Wa’alaikum salam
Mereka
pun bergegas pergi ke bandara hingga sampai di Mekkah yaitu di bandara king
Abdul Aziz. Ketika sedang berada di Mekkah Syifa yaitu ayah dari anak – anak
menelpon bapaknya untuk menyampaikan berita duka
Ayah : Assalamu’alaikum
Kakek
: Wa’alaikum salam. Ada apa?
Ayah : Pak…! (sambil menangis)
Kakek
: Ada apa? Kenapa kamu menangis?
Ayah : Pak.! nampaknya ……….. tidak bisa pulang ke
tanah air.
Kakek : Kenapa?
Ayah : Ia telah meninggal tadi siang ketika
sedang thawaf karena berdesakan dengan orang lain
Kakek : (telepon jatuh dan menangis) Hah? Tidak
mungkin…!!!
Ketika
ayahnya menelpon Hilman dan Fitri sedang mengaji bersama kakeknya. Kedua
cucunya pun merasa penasaran kenapa kakeknya menangis
Hilman
: Kek, ada apa? Kenapa kakek menangis?
Kakek : Tidak ada apa – apa. Terusin sendiri baca
qur’annya yach.
Hilman
: Iya. Kakek mau kemana?
Kakek : Kakek mau ke Nenek dulu
Kakek
pun menghampiri istrinya yang sedang berada di kamar
Kakek : Nek, ada berita buruk
Nenek : Ada apa? Apa beritanya?
Kakek : ……… tidak bisa pulang ke Indonesia. Ia
sudah meninggal di Mekkah
Nenek : Apa? (terkejut) inna lillahi wa inna ilaihi
raji’un
Hilman
dan Fitri pun menghampiri kakek dan neneknya
Fitri : Kek, nek ada apa?
Hilman:
Iya, koq kakek sama nenek nangis? Emang ada masalah apa?
Kakek : (sambil merangkul kedua cucunya) Nanti
kalian akan tahu sendiri
Bebarapa
hari kemudian sang ayah pulsng dari Mekkah. Fitri dan Hilman punb bergegas
untuk menemui ayah tercinta. Tapi mereka tidak menemukan ibunda tercinta
Hilman
: Ayah………!!!
Ayah : Anakku…! (dengan mata berlinangan air
mata)
Fitri : Yah ibu mana?
Ayah : Nak, ibu kalian telah berada di sisi
Allah
Hilman
: (sambil menangis) Bu, kenapa ibu tinggalkan Hilman? Tanpa ibu Hilman galau !!
Ayah : Yang sabar ya nak, semoga arwah ibu
kalian diterima di sisi Allah
Hilman
dan Fitri : Amin…
Tahun
– tahun berlalu. Sang ayah pun telah memiliki istri baru bernama Siti. Ia
adalah seorang janda yang haus akan harta. Ia mempunyai dua orang anak. Siti
ini tidak pernah menyayangi Hilman dan Fitri sebagaimana ia menyayangi Novia
dan Rikkeu. Bahkan hampir setiap hari Hilman dan Fitri disiksa tanpa sedikit
pun belas kasihan. Di suatu pagi cerah ketika Syifa telah berangkat kerja,
Fitri dimarahi ibu tirinya karena tidak segera membersihkan kamar ibunya.
Siti : Hey..! cepat bangun tidur terus.
Fitri : Iya bu. Ada apa?
Siti : Malah nanya. Cepat bersihin kamar ibu.
Sudah itu, kamu cuci baju ibu, Novia, dan
Rikkeu. Cepat…!
Fitri : Iiiiya bu
Ketika
sedang mencuci baju, Fitri bersedih karena kematian ibunya. Saat Hilman akan
pergi ke dapur, ia mendapati Fitri yaitu adiknya sedang mencuci sambil
menangis. Hilman pun menghampiri Fitri yang sedang bersedih.
Fitri : Bu, kalau saja ibu masih ada, Fitri gak
akan seperti ini
Hilman
: Fit, kamu kenapa? Kamu dimarahi ibu?
Fitri : Kak, dia bukan ibu kita. Dia hanya
seorang perempuan yang tidak tahu diri
Hilman
: Iya, kakak juga tahu. Kita harus bersabar. Semoga Allah membebaskan kita dari
penyiksaan ini.
Fitri : Amin
Lalu
datanglah Novia dan Rikkeu mengampiri mereka berdua.
Rikkeu
: Heh…!!! Malah ngobrol. Cepat terusin kerjaan kalian
Novia : Ya, bukannya kerja malah santai santai.
Hilman, cepat bersihkan kamar aku. Cepat!!
Hilman
: Memangnya kalian itu siapa? Seenaknya nyuruh ini, nyuruh itu
Rikkeu
: Ouh..kamu gak mau bersihin kamar kita yach, mamah…!!!
Siti : (datang menghampiri) Ada apa manggil
manggil mamah?
Novia : Mah, Hilman gak mau bersihin kamar Novi
Siti : Cepet bersihin kamar Novi ! kalau
nggak mamah hukum nih! (sambil membawa sapu
Lidi)
Hilman
: Aduh aduh. Mah sakit.
Siti : Ahh…gak ada ampun buat kamu
Hilman
: Iya mah…Hilman mau bersihin kamar Novi
Ketika
Hilman membersihkan kamar Novi, Fitri menghampirinya untuk merundingkan tentang
kabur dari rumah tersebut
Fitri : Kak…
Hilman
: Ada apa dek?
Fitri : Kak, Fitri pikir, lebih baik kita kabur
saja dari rumah ini
Hilman
: Ya, ide bagus. Gue suka ide loe. Ayo kita kemasi barang barang kita
Fitri : Iya baik
Mereka
pun mengemasi barang barang mereka. Ketika mereka sudah pergi, Syifa pun pulang
dari tempat kerjanya. Sampai di rumah, Syifa menanyakan keberadaan Hilman dan
Fitri kepada Siti. Saat itu Siti sedang menonton tv
Ayah
: Bu, dimana Hil dan Fit?
Siti : Gak tau, emang gue pikirin? Nggak githu
Ayah
: Dasar wanita gak tau diuntung ! (menamparnya) bukannya jaga anak anak malah
santai
Seenaknya. Sudah, kita cerai ! Loe
gue end!!!!
Siti : Aw…! Oke kalau itu maumu. Aku gak akan
pernah lagi menginjakkan kakiku di rumah
Ini.
Ayah
: Kalau begitu, itu kenapa diinjak keramiknya?
Siti : Hhe..kan belum keluar
Ayah
: Pergi !!!Get out !!! Irji’ii ila ummiki!!
Siti
pun pergi meninggalkan rumah tersebut. Syifa pergi mencari anak anak. Kemana
mana ia mencari Hilman dan Fitri. Hari hari berlalu ia belum menemukan anak
anaknya. Pada hari Ke 3 dalam pencarian, ia menemukan anak anaknya sedang
berjalan di dekat pasar. Dengan wajah berlinangan air mata, ia menghampiri sang
buah hati.
Ayah : Anakku, kemana saja kalian?
Hilman
: Kami kabur dari rumah karena tidak tahan dengan perlakuan ibu.
Ayah : Tenang saja, ibu telah ayah ceraikan
Fitri : Hah…! Benarkah itu?
Ayah : Iya. Ibu telah ayah ceraikan
Hilman
dan Fitri : Asyik………
Fitri : Berarti kita tidak akan menderita lagi
Hilman
: Setan pergi, malaikat pun datang
Ayah : Ayo
pulang ke rumah
Hilman
dan Fitri : Ayo
Mereka
pun pulang ke rumah mereka. Akhirnya mereka hidup dengan damai tanpa ada
hambatan yang menerjang
Selesai
On 07:41:00 by Unknown in Naskah Drama No comments
Pertemananku Terhalang Geng Kucing
Dikisahkan pada suatu sekolah ada
dua geng yang saling bermusuhan, yaitu geng tikus dan geng kucing. Seperti sudah
dimafhumi oleh kita semua, bahwa kucing dan tikus itu tidak pernah bisa untuk berdamai. Tapi ternyata salah satu
dari kedua geng tersebut ada yang saling menyukai.
Riri : “Teman teman, kita janji ya kalau kita gak bakalan
deket dan kenal sama geng tikus”
Nhaii : “Ok, gue suka ide loe”
Dha” : “Sip sip”
Di
suatu pagi yang buruk, geng tikus dan geng kucing saling berpapasan
Nhaii : “Lihat tuh ada geng tikus yang”
Geng
Kucing : ”Kamseupay iww”
Ejje : “Lihat tuh ada geng kucing”
Aziz : “Terus gue harus bilang waw githu?”
Geng
Tikus : “Waw takut”
Saat mereka berpapasan wajah mereka melihat satu sama
lain dengan tatapan tajam kecuali Dha” dan Zain yang saling melempar senyuman.
Keesokan harinya tanpa disengaja
Dha” dan Zain bertemu di perpustakan. Mereka akan mengambil sebuah buku yang
sama.
Zain : “Eh ini kamu ambil aja”
Dha” : “Oh gak. Kamu aja yang ambil”
Zain : “Eh gak apa apa. Kamu aja yang ambil”
Dha” : “Gak ah, kan kamu yang pegang duluan”
Zain : “Ya udah deh gini aja, kita kan pegangnya
barengan, gimana kalau buku ini kamu duluan
yang baca. Entar giliran aku”
(sambil memberikan buku tersebut)
Dha” : “Ya udah kalo gitu. Makasih ya”
Zain : “Eh tunggu! Kamu punya waktu sebentar aja”
Dha” : “Bisa” (sambil duduk berdua)
Zain : “Aku mau ngomongin tentang geng kucing dan
geng tikus. Bagaimana kalau kita
persatukan mereka”
Dha” : “Tapi bagaimana caranya ? mereka kan sudah
bermusuhan sejak lama”
Zain : “Kita kan belum coba. Siapa tau mereka
bisa rukun”
Mereka pun berencana untuk
mempersatukan kedua geng tersebut dengan cara memertemukan mereka di taman
sekolah.
Tanpa tidak disengaja, ejje
memergoki mereka yang sedang duduk berdua. Ejje pun langsung berpikiran negatif
bahwa Dha” dan Zain mempunyai hubungan khusus.
Ejje : “Sialan (sambil memukul dinding) gak
nyangka bisa bisanya Zain mengkhianati
perjanjian geng tikus.
Ini gak bisa dibiarin. Gue harus bilang sama anak anak lain”
Ejje pun bergegas pergi ke kelas
untuk segera menghampiri teman temannya.
Ejje : “Woy ! gila tadi gue gak sengaja
mergokin Zain berduaan sama salah satu anggota geng
kucing musuh kita”
Aziz : “Apa ? berduaan ? (sambil memukul meja)
sama geng kucing musuh kita ? ini gak bisa
dibiarin. Kita harus melabrak
geng kucing”
Ejje dan Aziz pun segera menemui
geng kucing yang sedang asyik ngobrol di taman. Dari kejauhan Ejje dan Aziz
sudah kesal melihat geng kucing.
Aziz : “Woy.....! apa maksud kalian ngedeketin
salah satu geng gue ? (sambil menunjuk
muka
geng kucing)”
Nhaii : “Maksud loe apa ??? gue nggak ngerti sama
omongan loe..(sambil berdiri tegas balik
memarahi Aziz)”
Ejje : “Jangan belaga gak tau loe...!”
Riri : “Woy...! biasa aja kali, jangan nyolot
segala (sambil mendorong Ejje sampai terjatuh)”
Ejje : “Biasa aja kali jangan pake emosi”
Aziz : “Apa maksud geng loe ngedeketin geng gue
?”
Nhaii
dan Riri : “Apa !!! maksud loe ?”(dengan wajah terkejut)
Ejje : “Gue liat dengan mata kepala gue sendiri
salah satu dari geng loe ngedeketin geng gue !”
Nhaii
dan Riri : “Dha””!!!
Nhaii : “Dimana mereka sekarang ??”
Aziz : “Tuh di perpus lagi berduaan sama Zain”
Nhaii dan Riri segera ke
perpustakaan untuk menghampiri mereka. Aziz dan Ejje menyusul dari belakang
Nhaii : “Maksud kalian apa berduaan kaya gini ?”
(sambil memukul meja yang berada di depan
mereka)
Riri : ”Nggak nyangka ya Dha loe bisa kaya gini
sama kita. Kita kan udah punya janji buat gak
deket dengan geng tikus !!! tapi
loe apa ??”
Nhaii
dan Riri : “Dasar perhianat !” (sambil pergi meninggalkan mereka)
Dha” : “Hey tunggu dulu bentar. Aku bisa jelasin
semuanya...! ini gak seperti yang kalian pikir.
Aku sama Zain ciman ngobrol
biasa. Kalian jangan marah dulu dong, kita kan bisa
bicarain dengan baik baik” (sambil
mengajak Nhaii dan Riri duduk)
Nhaii : “Baiklah, akan ku dengarkan penjelasan
kalian, tapi aku gak mau duduk bersebelahan
dengan kalian berdua”
Riri : “Cepatlah katakan”
Dha” : “Sebenarnya aku tadi tidak sengaja bertemu
dengan Zain. Tiba tiba Zain mengajakku
berbicara mengenai...”
Aziz : “Hubungan kalian ! kenapa sih kalian tidak
berterus terang kalo kalian tuh udah jadian”
(Dha” dan Zain pun
tersenyum)
Riri : “Kenapa kalian senyum senyum ? Apakah yang
Aziz katakan itu benar ?”
Dha” : “Dengarkan penjelasanku dulu, ini gak
seperti yang kalian pikir. Aku dan Zain hanya
sedang membicaran permusuhan
geng tikus dan geng kucing. Maksud kita hanya ingin
menyatukan geng kucing dan geng
tikus agar saling akrab”
Nhaii,
Ejje, Riri, Aziz : “Ouhh...”
Nhaii : “Bentar, gue gak setuju buat akur sama geng
tikus yang kamseupay iuw..”
Ejje : “Emang loe pikir gue mau gitu akur sama
geng loe itu ?”
Zain : “Apa salahnya sih kita rukun ? emang
kalian gak cape apa musuhan terus ?”
Dha” : “Emang salah ya kalo aku dan Zain
memersatukan kalian ? aku cuma nggak mau kalau
geng kita musuhan terus sama
geng tikus”
Nhaii : “Gue tetep nggak mau kalau geng kucing sama
geng tikus berteman”
Dha” : “Kenapa sih kalian keras kepala ? padahal
kan geng tikus pada baik”
Riri : “Termasuk Zain ?“ (semuanya terdiam)
Nhaii : “Kenapa Dha diem ? gak bisa jawab ya ?”
Zain : “Udah udah ! kenapa kalian jadi ribut ?
kalian ini kan sahabat ? buat apa bertengkar ? kan
Nhaii pun menundukkan kepala dan ia pun merasa
perkataan Zain itu benar.
Nhaii : “Ma’afin Nhaii ya Dha, kita tetep best
friend kan ?”
Dha” : “Ia dong” (sambil bersalaman)
Zain : “Jadi kita semua setuju ni kalau geng
kucing dan geng tikus berteman?”
Semuanya
: “Setuju...!”
Mereka
tersenyum tanda setuju. Akhirnya mereka pun berteman dan memutuskan untuk tidak
saling bermusuhan.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Search
Popular Posts
-
Muhammad Syifa El Zain Ratapan Anak Tiri Dikisahkan, ada sebuah keluarga rukun yang terdiri dari ayah, ...
-
Jenis Buku : Buku Fiksi Judul Buku : The Chronicles of Ghazi Pengarang ...
-
Apa kamu ingat ketika kita besama .. melewati segala rintangan yang ada didepan mata .. Apa kamu ingat saat kita tertawa ...
-
Pertemananku Terhalang Geng Kucing Dikisahkan pada suatu sekolah ada dua geng yang saling bermusuhan, yaitu geng tikus da...
-
PERPISAHAN Dulu.... Ketika Aku masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah Aku dan temanku selalu tertawa. Penuh senda gurau. Se...
Categories
Blog Archive
Total Pageviews
Blog Archive
Powered by Blogger.