Selamat datang di blog saya. Semoga apa yang anda cari ada di sini. Selamat berkunjung :)

Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts
Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts

Tuesday, 1 July 2014

On 14:43:00 by Unknown in    No comments
Judul Novel          : Sepatu Dahlan
Pengarang            : Khrisna Pabichara
Penerbit                : Noura Books
Tahun Terbit        : Mei 2012
Kota Terbit            : Jakarta
Jumlah Halaman   : 369 hal


Pengantar
Buku ini merupakan buku pertama dari trilogy buku Dahlan Iskan. Buku kedua nanti berjudul Surat Dahlan, buku terakhir Kursi Dahlan. Buku ini sekaligus menggambarkan kegigihan dan semangat Pak Dahlan Iskan dalam mengejar cita-cita. Namun beberapa adegan dan tokoh yang terdapat dalam novel ini adalah fiktif belaka namun semangatnya tetaplah sama.
Novel ini resmi diluncurkan oleh Dahlan Iskan di Bundaran Hotel Indonesia, dengan berbagi sepatu kepada sedikitnya seribu anak Sekolah Dasar dari berbagai sudut Jakarta yang secara simbolis di ikuti oleh sepuluh anak sebagai perwakilan
Resume
Buku pertama ‘Sepatu Dahlan’ mengisahkan tentang perjuangan seorang Dahlan yang berasal dari keluarga sangat miskin untuk membeli sepatu. Keinginannya itu terlahir sejak dia masih kecil. Sepatu menjadi impiannya sekaligus menjadi barang mahal karena setiap ke sekolah dia harus nyeker dan mirisnya hal tersebut dilakukannya hingga Madrasah Aliyah (setara SMA)Sebenarnya dia bisa menjual satu dari domba-domba yang dimilikinya namun ayahnya selalu berkata bahwa ada barang lain yang jauuuh lebih penting dari sebuah sepatu. Ketika lulus SR nilai yang dimiliknya tidak terlalu memuaskan hingga keinginannya melanjutkan ke Sekolah Magetan kandas, sesuai titah Ayah, ia meneruskan ke Madrasah Tsanawiyah, sekolah tradisi keluarganya. Hingga akhirnya ia bertemu dengan sahabat-sahabat yang luar biasa. Belum sempat terkabul membeli sepatu, ia harus menelan pahit ketika sang ibu meninggal. Rumahnya pun menjadi sunyi senyap hanya ia adiknya, Zain dan ayah.
Keadaan itu diperparah dengan kondisi keluarga Dahlan yang selalu ditemani dengan kelaparan hingga akhirnya ia harus mengikat tubuhnya dengan sarung untuk mengurangi rasa lapar, tangannya sampai bergetar , pandangannya kabur hingga keadaan itu bisa lenyap dengan tidur, ya tidur adalah obat yang manjur untuk menghilangkan sakit laparnya. Ia dan juga adiknya. Sempat ketika dirumah hanya ada ia dan adiknya, ia harus mencuri tebu untuk mengganjal perut. Aksinya pun ketahuan oleh mandor penjaga dan dan diadiahi menjadi kuli tebu selama seminggu tanpa upah.
Cerita ini diiringi dengan kisah pergolakan PKI, Laskar Merah, FDR yang saat itu menjadi trending topic masyarakat, kabar penculikan, pembantaian, pembunuhan mantan aktivis PKI hingga terjadi aksi salah tangkap yang menyeret ibu salah satu sahabat Dahlan.
Dikisahkan bahwa Dahlan terpilih menjadi kapten tim voli dan berhasil menjuarai perhelatan akbar ketika di babak final berhasil mempertemukan sekolahnya dengan SMA Magetan sekolah eksklusif di kotanya yang dihuni oleh orang-orang kaya. Saat petandingan pun ia masih tidak memiliki sepatu namun secara diam-diam sahabat-sahabatnya mengumpulkan uang untuk membeli sepatu bekas. Alhasil sepatu itu pun terlalu kecil hingga menyiksa kakinya sendiri, dan ia pun harus keluar lapangan. Namun ketangkasan, kecerdikan dan semangatnya mampu mengalahkan rasa sakit yang ada hingga saat menerima piala, jempolnya pun harus mencuat keluar sepatu. Kejadian yang sangat mengharukan.
Sejak itu ia ditawari menjadi pelatih di sebuah sekolah dengan gaji yang cukup tinggi dan diterimanya. Namun jarak tempat latihan dengan rumahnya sangat jauh namun demi sebuah sepatu ia pun tak surut semangat. Selain itu perjuangan untuk membeli sepatu dilakoninya dengan banyak cara termasuk menjadi kuli nyeset, ngangon, kuli pabrik tebu. Walau upah yang diterimanya belum seberapa. Bahkan ia sempat berniat mencuri uang simpanan ayahnya, ia sangat terdesak harus membeli sepatu karena peraturan pertandingan final bola voli mengharuskan setiap pemain memiliki sepatu. Namun ia tidak jadi karena uang curiannya tidak cukup untuk membeli sepatu. Ia merasa bersalah, mungkin caranya yang tidak halal ini berujung pada kehampaan –tanpa sepatu-.
Kisah kasih disekolahnya pun dibumbui dengan banyak cerita. Seorang Dahlan banyak disukai oleh gadis-gadis baik dari dalam maupun diluar sekolahnya. Mungkin karena ia menjadi kapten tim voli yang merupakan andalan sekolahnya. Ia pun menaruh hati dengan Aisa, siswi SMP Magetan yang sekaligus putri mandor tebu di Kebon Dalem. Dahlan seorang monster ganas di lapangan voli namun kurcaci kecil nan pemalu ketika harus berhadapan dengan makhluk Tuhan bernama, Aisa.
Pada akhirnya Dahlan memiliki cukup uang untuk membeli sepatu dari keringatnya sendiri tanpa menjual domba. Sepatu yang ia beli pun hanyalah sepatu bekas agar uangnya cukup untuk membeli dua sepatu, satu untuknya satu lagi untuk Zain, adiknya. Mimpinya memiliki sepatu kini sudah tekabul namun ia sekarang merasa sepatu bukanlah mimpi besarnya , ada mimpi yang lebih besar lagi yang harus ia kejar.
Setamat Madrasah Aliyah ia mendapat surat dari Aisa. Isinya kurang lebih mengatakan bahwa diantara ia dan Aisa ada suatu rasa namun karena kedua-duanya hanyalah sama-sama pemalu maka ia hanya menuliskan lewat surat. Aisa sekaligus berpamitan akan melanjutkan belajar ke Jogja. Secara tersirat Aisa menginginkan kelak ia dan Dahlan bertemu selepas sarjana. Permasalahan baru pun muncul lagi karena Dahlan harus berpikir keras melanjutkan studinya. Namun ia berkeinginan untuk melanjutkan kuliah bukan semata karena Aisa yang meminta namun ia memang memiliki keinginan untuk mengejar mimpi-mimpinya yang lain.
Bagaimanakah petualangan Dahlan di bangku kuliah? Mari kita simak di novel kedua ‘Surat Dahlan’
Kelebihan
Novel ini diceritakan secara gamblang menyesuaikan dengan kehidupan wong cilik pada umumnya. Padahal si penulis sama sekali bukan asli jawa. Khrisna Pabichara adalah lelaki kelahiran Jeneponto, 89 kilometer dari Makasar. Namun bahasa-bahasa yang digunakan sudah belepotan dengan istilah jawa. Penggambaran kemiskinan, kesengasaraan dan perjuangan untuk meraih mimpi begitu kuat. Mampu membuka mainset pembaca bahwa dimanapun dan siapapun kita wajib untuk mengejar dengan keras meski harus bersusah susah untuk mewujudkan apapun mimpi kita.
Kelemahan
Bagi pembaca non jawa akan mengalami kesulitan dalam menafsirkan beberapa kosa kata jawa. Alangkah lebih baik jika di bawah diberi keterangan arti makna, sehingga tidak mengurangi pesan penulis secara langsung.
On 13:13:00 by Unknown in    No comments
Jenis Buku                     : Buku Fiksi
Judul Buku                     : The Chronicles of Ghazi
Pengarang                      : Sayf Muhammad Isa dan Felix Y. Siauw
Penerbit                         : Mizania
Tempat dan tahun terbit  : Bandung, 2014
Halaman                         : 305 halaman
Harga                             : Rp 55.000,00



Nama lahirnya adalah Muhammad Isa. Sayf adalah nama pena, yang bermakna ‘pedang’, diambil dari bahasa Arab. Dia berharap tulisan yang ia buat bisa tajam seperti pedang ketika mengungkap kebatilan dan menyatakan kebenaran. Dia dilahirkan di Sukabumi tanggal 3 Juni 1986 hari Selasa. Dia sudah menekuni dunia tulis-menulis sejak kelas II SMA yang dia jalani di SMAN 4 Sukabumi.
Saat ini dia aktif sebagai redaksi di Majalah Remaja Islam D’Rise yang terbit bulanan di Bogor. Beberapa kali dia pernah mengelola media indie Islam ideologis bersama teman-temannya di Sukabumi. Dia juga aktif sebagai ghostwritter dari beberapa orang terkenal. Dia mengkhususkan diri untuk berkarya di bidang fiksi, dalam genre fiksi-sejarah. Beberapa novelnya yang telah beredar adalah Dwilogi Sabil, Draculesti, dan Cinta Sang Penakluk.
Sukses dengan buku sebelumnya yaitu Muhammad Al Fatih, Felix Y. Siauw kembali merilis buku terbarunya yaitu The Chronicles of Ghazi. Kali ini dia berkolaborasi dengan Sayf Muhammad Isa dalam pembuatannya. Di buku ini, Felix kembali mengangkat kisah tentang Muhammad Al Fatih. Yang berbeda dengan buku sebelumnya adalah di buku ini dia menonjolkan kisah tentang Muhammad Al Fatih melawan salah satu musuhnya yang sangat kejam yaitu Vlad III Dracula.
            Di suatu belahan bumi, lahir seorang lelaki yang kelak akan menjadi salah satu pemimpin terbaik kaum muslim. Di belahan bumi yang lain, lahir pula lelaki yang akan menjadi salah satu manusia terkejam dalam sejarah. Muhammad II Al Fatih dan Vlad III Dracula menjadi wakil dari pertarungan haq dan bathil, antara Kesultanan Usmani dan Kerajaan Eropa Timur, dan takdir mereka telah digariskan untuk berbenturan sejak awal kelahirannya.
            Dengan sangat apik, Sayf Muhammad Isa dan Felix Y. Siauw menyuguhkan perjalanan dan perjuangan Muhammad Al Fatih bersama Khilafah Utsmaniyah untuk membela agama yang haq dan membebaskan orang-orang yang tertindas oleh kaum kafir Eropa Timur. Alur yang digunakan dalam karyanya ini adalah alur maju mundur Dalam buku ini, pertama ia menceritakan masa kecil dari Muhammad Al Fatih. Lalu di bab selanjutnya, sebelum dia menceritakan lebih lanjut tentang Muhammad Al Fatih dan Vlad III Dracula, terlebih dahulu ia menceritakan tentang peperangan yang terjadi antara leluhur Muhammad Al Fatih dan Vlad III Dracula.
            Keunggulan yang terkandung dalam buku ini adalah dalam segi gaya bahasa. Dalam buku ini, Felix Y. Siauw dan Sayf Muhammad Isa menggunakan gaya bahasa yang enak dan mudah dimengerti oleh para pembaca, sehingga membuat buku ini sangat digemari oleh para pembaca dan menjadi buku favorit mereka.