Monday, 29 June 2015
On 11:17:00 by Unknown in Opini No comments
Setiap makhluk
hidup pasti memiliki kebutuhan, terutama manusia. Kebutuhan manusia semakin
bertambah seiring perubahan dan kemajuan zaman. Perekonomian menjadi salah satu
bidang yang terkena efeknya. Peningkatan kebutuhan manusia menuntut adanya
peningkatan dalam bidang perekonomian. Di antara cara peningkatan perekonomian
suatu negara adalah dengan menambah lapangan kerja bagi para penduduknya, tak
terkecuali di negara kita, Indonesia.
Berbagai usaha
telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan perekonomian di Indonesia. Di antaranya adalah penambahan lapangan kerja,
peningkatan sumber daya manusia, serta pengembangan mutu dan tingkat pendidikan.
Dan mungkin masih banyak lagi langkah-langkah lain yang masih dalam perencanaan
alias belum dilaksanakan.
Meskipun
usaha-usaha tersebut sudah direalisasikan, tapi tak dapat dipungkiri,
peningkatan perekonomian belum merata bagi seluruh rakyat Indonesia. Masih
banyak penduduk Indonesia yang masih di bawah standar hidup sejahtera. Masih
mudah kita jumpai orang-orang yang tinggal di bawah jembatan, di daerah kumuh
dekat tempat pembuangan sampah, maupun di emper-emper toko. Bahkan ada sebagian
yang sama sekali tidak memiliki tempat tinggal.
Persaingan
Ekonomi Melalui Tingkat Pendidikan
Sebagian besar
manusia mempunyai pola pikir (mindset) bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan
seseorang, maka semakin tinggi pula tingkat ekonominya. Begitu juga sebaliknya.
Hal ini membuat manusia berlomba-lomba mencapai tingkat pendidikan
setinggi-tingginya dengan harapan mereka akan meraih kehidupan yang enak, bukan
sekedar layak. Namun, tidak sedikit yang berkehidupan pas-pasan meskipun mereka
telah meraih tingkat pendidikan yang di atas rata-rata dengan seabreg gelar
yang menghiasi namanya. Sehingga tak jarang orang menderita tekanan batin atas
“musibah” tersebut. Banyak yang kecewa pada dirinya sendiri karena tidak
mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan gelarnya. Contoh kecilnya ialah orang
yang meraih gelar S1 dalam bidang pendidikan. Setelah mengajukan beberapa
lamaran pekerjaan yang sesuai bidangnya, ternyata ia tidak mendapatkannya.
Akhirnya ia mencari pekerjaan seadanya yang bahkan jauh dari bidangnya.
Di sisi lain,
cukup banyak orang yang berpendidikan rendah tapi memiliki kehidupan yang
layak, bahkan enak. Apa yang mereka inginkan, dengan mudah bisa mereka dapatkan.
Kehidupan mereka melebihi kehidupan orang yang berpendidikan tinggi.
Seakan-akan strata pendidikan tidak berpengaruh pada perekonomian mereka.
Banyak komentar
muncul dari fenomena tersebut. Pro-kontra tidak bisa terhindarkan. Ada yang menanggapi
hal tersebut wajar karena tidak semua lapangan pekerjaan memiliki
peluang/lowongan kerja dengan jumlah yang melebihi batas sehingga harus menolak
beberapa pelamar. Sebagian orang berpendapat bahwa orang berpendidikan rendah
pun tidak kalah dengan yang berpendidikan tinggi, asalkan memiliki ketrampilan,
kemampuan, kedisiplinan, kemauan serta etos kerja yang tinggi. Sebagian yang
lain dengan tenang mengatakan bahwa semua sudah ada yang mengatur. Rizqi sudah
diatur dan dibagi sesuai kehendak yang mengatur, manusia hanya mampu berusaha,
tapi Allah-lah yang menentukan.
Respon Santri
Terhadap Ekonomi
Kaum sarungan
atau yang lebih dikenal dengan istilah santri, memiliki cara pandang tersendiri
tentang rizqi. Mereka mempunyai kemantapan hati tentang masa depan, tak
terkecuali yang berkaitan dengan rizqi. Tawakkal mereka seakan sudah dilatih
dan terlatih sejak mereka hidup dan belajar di lingkungan pondok pesantren.
Meskipun masih ada santri yang takut akan masa depannya. Esok akan jadi apa?
Esok makan apa? Esok kerja apa? Bagaimana aku menghidupi anak istriku kelak
kalau aku hanyalah seorang santri? Santri bisa apa? Dan seabreg kegundahan lainnya
mungkin masih bersemayam di otaknya. Santri yang berjiwa santri seharusnya
memiliki tawakkal yang kuat, tanpa menafikan ikhtiyar yang keras. Tawakkal dan
kemantapan hati mereka bukan tanpa alasan. Mereka juga punya dasar, tendensi
dari apa yang mereka dapatkan dari khazanah keilmuan di pondok pesantren. Entah
yang berasal dari Al-Qur’an, hadits, ataupun maqolah ulama’.
Allah memiliki
sifat Al-Rozzaq yang berarti Maha Pemberi Rizqi. Semua yang ada di dunia ini,
sudah ditanggung rizqinya oleh Allah, Sang Pemilik Rizqi. Dari makhluk terkecil
hingga terbesar, semua sudah ada jatah masing-masing. Allah berfirman dalam
surat Hud ayat 6:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي
الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا
كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (هود : 6)
Dan tidak ada
suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizqinya,
dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya.
Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauhil Mahfudh).
Rizqi tidak
hanya berupa materi. Tidak sesempit yang mayoritas orang awam pikirkan. Kesehatan,
keselamatan, kebahagiaan, dan jodoh juga merupakan rizqi. Sebagai orang yang
beriman, kita harus percaya akan hal itu. Kita harus percaya bahwa semuanya
telah diatur oleh Allah, termasuk pekerjaan dan tingkat kehidupan kita. Bukan
berarti kita hanya berpangku tangan menunggu nasib kita, menanti skenario
taqdir Allah. Bukan! Sebagai hamba, kita hanya diwajibkan untuk
berikhtiyar/berusaha. Adapun hasilnya, kita pasrahkan kepada Allah, Tuhan yang
menciptakan kita.
Kita
boleh-boleh saja mengejar cita-cita kita setinggi langit, mengenyam pendidikan
sesuai keinginan kita. Namun jangan sampai hal tersebut membuat kita lalai
bahwa yang menentukan masa depan kita adalah Allah. Meskipun banyak yang
mendapatkan pekerjaan sesuai dengan pendidikannya, tapi tak sedikit pula yang
berbelok dan melenceng jauh dari harapan. Dan tak jarang ada yang terhenti dalam
perjalanan meraih cita-citanya disebabkan ajal lebih
dulu menghampiri.
Oleh karena
itu, setinggi apapun tingkat pendidikan kita, tidak menjadi jaminan kelayakan
hidup kita. Dan sebaliknya, serendah apapun tingkat pendidikan kita, kita tidak
boleh pesimis akan masa depan kita. Kurang baik jika kita mencari ilmu dengan
tujuan agar nantinya kita bisa menjadi seperti ini dan itu, atau agar bisa
mendapatkan pekerjaan sesuai dengan pendidikan kita. Namun yang harus kita
lakukan adalah membenahi niat kita dalam mencari ilmu. Menuntut ilmu dengan
niat mengharap serta menggapai ridlo Allah, menghilangkan kebodohan, mencerdaskan
bangsa, mengisi pembangunan nasional, menghidupkan agama Allah, ataupun tujuan
lain yang berorientasi pada agama dan akhirat, tanpa mengesampingkan kemaslahatan
dunia kita.
Dan ketika
Allah menaqdirkan kehidupan yang tidak sesuai dengan harapan kita, kita tidak boleh
menyalahkan keadaan apalagi menyalahkan taqdir Allah. Dalam sebuah hadits
qudsiy disebutkan:
مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِي وَلَمْ يَصْبِرْ
عَلَى بَلَائِي فَاطْلُبْ رَبًّا سِوَائِي
Barang siapa tidak ridlo terhadap qodlo’ (ketentuan)-Ku dan tidak sabar atas
bala’ (cobaan)-Ku, maka carilah Tuhan selain Aku.
Guru kita,
Syaikh Maimoen Zubair pernah dawuhan:
-
Ngaji seng
tenanan! Ora usah mikir arep dadi opo. Angger ngalim lak biso dadi opo-opo. Mengaji/belajar
yang sungguh-sungguh! Tidak usah memikirkan mau jadi apa. Kalau alim (pandai
dalam hal agama) pasti bisa jadi apa saja.
-
Wong nek ngalim
iku uripe mesti kepenak. Gene gak kepenak, mergo gak patio ngalim. Orang
alim itu hidupnya pasti enak. Kenapa tidak enak, karena tidak begitu alim.
Kiat-Kiat Meraih Kesuksesan Ekonomi
Setiap manusia
menginginkan kehidupan yang layak, enak, dan serba tercukupi. Beberapa usaha
akan dilakukan demi tercapainya tujuan itu. Berikut ini diantara resep-resep
untuk meraih kesuksesan hidup, khususnya di bidang ekonomi:
1.
Percaya kepada Dzat Pemberi Rizqi.
Kita harus menanamkan keyakinan dalam hati kita bahwa kehidupan di dunia
ini sudah diatur oleh Allah, berjalan atas kehendak-Nya. Termasuk di dalamnya
adalah tentang rizqi kita, sudah terencana di lauhil mahfudh.
Ketika kita ditaqdirkan mendapatkan kehidupan yang bahagia dan berkecukupan,
kita tidak boleh lalai terhadap Sang Pemberi Rizqi. Kita juga tidak boleh
menganggap bahwa semua itu adalah hasil dari jerih payah kita sendiri, tapi
semua adalah semata-mata anugerah dari Allah. Karena seandainya Allah tidak
menghendaki seperti itu, kita tidak bisa merasakan kenikmatan itu. Sebagaimana
yang telah dicontohkan oleh Nabi Sulaiman dalam Al-Qur’an surat An-Naml ayat 40 yang berbunyi:
هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي
لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ (النمل : 40)
Ini termasuk karunia Tuhanku untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau
mengingkari (nikmat-Nya)
Sebaliknya,
apabila kita mengalami kehidupan yang susah, sempit, serba kekurangan, kita
tidak boleh menyalahkan keadaan apalagi memprotes Allah. Justru kita harus
berintrospeksi diri, merenungi kesalahan dan dosa kita, serta meyakini bahwa
itu adalah bagian dari kehendak Allah sehingga kita akan selalu husnudzon
kepada Allah. Dan tentunya apa yang diberikan Allah kepada kita adalah untuk
kebaikan kita, karena Allah pasti memberi yang terbaik untuk kita meskipun
kadang yang terbaik bagi kita bukanlah yang terindah di mata kita. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا
شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ (البقرة : 216)
Boleh
jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula)
kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.
فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا
شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا (النساء : 19)
Karena
mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padana kebaikan
yang banyak.
2.
Memenuhi kewajiban kita.
Sebagai seorang hamba, sudah sepatutnya kita melakukan apa yang menjadi
tujuan penciptaan kita. Yang tak lain adalah beribadah kepada-Nya. Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
(الذاريات : 56)
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah
kepada-Ku.
وَأْمُرْ أَهْلَكَ
بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ
وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى (طه : 132)
Dan
perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan sholat dan bersabarlah kamu dalam
mengerjakannya. Kami tidak meminta rizqi kepadamu. Kami-lah yang member rizqi
kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.
Dari ayat
tersebut, bisa dipahami bahwasanya Allah-lah yang memberi rizqi kepada kita. Allah
menyuruh kita untuk memerintah keluarga kita agar melakukan sholat dan bersabar
dalam (perintah) sholat. Setelah itu Allah menegaskan bahwa Allah tidak
meminta/menuntut rizqi dari kita. Justru sebaliknya, Allah yang akan menjamin
rizqi kita jika kita telah melakukan kewajiban atas perintah-Nya tersebut.
3.
Berusaha sungguh-sungguh.
Dalam mencari rizqi,
Rasulullah telah mengajarkan kita dalam haditsnya:
اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ
أَبَدًا وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا
Bekerjalah
untuk (urusan) duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya dan beramallah
untuk (urusan) akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.
Rasulullah
tetap memerintahkan kita untuk mengusahakan duniawi kita. Namun tidak
meninggalkan urusan akhirat kita.
Hal senada juga
telah difirmankan Allah dalam kalam-Nya:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ
اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ
كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ
اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ (القصص
: 77)
Dan carilah
pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat.
Dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat
baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
4.
Memperbanyak dzikir.
Dzikir
merupakan salah satu ibadah yang bisa mendekatkan diri kita Allah. Sebagian
dzikir juga mempunyai hikmah bisa memperlancarkan rizqi kita, sehingga para
ulama banyak yang menganjurkan kita untuk membaca dzikir-dzikir atau do’a-do’a
tertentu yang bisa menjadi lantaran lancarnya rizqi.
5.
Bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah kepada kita.
Ketika
kita berterimakasih kepada orang yang telah memberikan sesuatu kepada kita,
bisa dipastikan orang itu akan merasa senang karena sudah dihargai
pemberiannya. Apalagi jika kita membalas dengan do’a kebaikan untuknya, maka
orang tersebut tidak akan bosan memberi kita lagi di lain waktu.
Allah Sang
Pemberi Rizqi, juga tidak akan segan-segan untuk menambah rizqi yang kita
syukuri. Bahkan Allah telah berjanji dengan firman-Nya:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ
لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (إبراهيم : 7)
Sesungguhnya
jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu
mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.
Semoga kita
bisa menjadi hamba Allah yang benar-benar menghamba kepada-Nya, yang selalu
mengingat-Nya dalam suka maupun duka. Dan semoga Allah senantiasa mencurahkan
rizqi-Nya kepada kita dengan penuh rahmat-Nya sehingga rizqi kita barokah dan
bermanfaat bagi sesama, untuk kepentingan dunia, agama dan akhirat. Aaamiiin…
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Search
Popular Posts
-
Muhammad Syifa El Zain Ratapan Anak Tiri Dikisahkan, ada sebuah keluarga rukun yang terdiri dari ayah, ...
-
Jenis Buku : Buku Fiksi Judul Buku : The Chronicles of Ghazi Pengarang ...
-
Apa kamu ingat ketika kita besama .. melewati segala rintangan yang ada didepan mata .. Apa kamu ingat saat kita tertawa ...
-
Pertemananku Terhalang Geng Kucing Dikisahkan pada suatu sekolah ada dua geng yang saling bermusuhan, yaitu geng tikus da...
-
PERPISAHAN Dulu.... Ketika Aku masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah Aku dan temanku selalu tertawa. Penuh senda gurau. Se...
Categories
Blog Archive
Total Pageviews
Blog Archive
Powered by Blogger.
0 komentar:
Post a Comment