Selamat datang di blog saya. Semoga apa yang anda cari ada di sini. Selamat berkunjung :)

Monday, 29 June 2015

On 11:23:00 by Unknown in    No comments
Bus yang aku tumpangi melaju dengan tersendat-sendat. Barang uzur -yang sehausnya tak layak pakai- ini ku tahu betul berusaha sekuat tenaga melawan usia. Dan dalam perlawanannya, ia telah kalah. Kalah berkali-kali. Namun, uang yang selalu berontak dan melawan, merajuk untuk diambil dari segala penjuru membuat sang tuan terpaksa memaksanya untuk bekerja. Beruntungnya,penumpang-penumpang dalam bus ini tidak terlalu ramai. Jadi kepengapan yang menjadi jargon “selamat datang” saat kita memasuki bus belum begitu menyiksa. Ku duduk persis di jok depan bersama pak supiryang matanya selalu jelalatan acap kali melihat wanita-wanita cantik di seberang.melalui kaca spion tengah yang tergantung, aku berusaha melihat seluruh isi penumpang. Di belakangku ada kakek-kakek yang sedang merokok dengan syahdunya. Di depannya, ada ibu-ibu yang mencengkram barang dagangannya dengan erat. Sisanya segerombolan mudi anak-anak pulang sekolah yang sedang berkicau ria, menghasilkan mp3 gratis dalam bus ini. Di masing-masing lengan kiri mereka, terpampang jelas sebuah nama sekolah yang ingin ku tinggalkan. MA Al Aman. Melihat siswi-siswi tersebut, ingatanku langsung melesat cepat mengingat peristiwa-peristiwa yang menyayat hati.
* * *
Kala itu, aku begitu mantap menjejakkan kakiku di depan gapura gerbang sekolah. Sekolah dengan predikat unggulan di pinggir kota pantura ini pasti membuat para orang tua sepertiku ingin sekali memasukkan anak-anaknya di sini. Dengan prestasi akademik yang melimpah, ditunjang fasilitas dan sarana prasarana yang mumpuni, serta beasiswa untuk anak-anak yang pandai –seperti anakku-, wali murid seperti pasti akan tergiur. Namun, bukan itu semua yang aku cari. Tujuanku memindahkan anakku, dan mencarikannya sekolah baru, semata-mata hanya untuk mengajarkan kepadanya tentang satu hal yang mendasar, yang sejatinya begitu sepele. Saking sepelenya, mungkin hal dasar ini mulai dilupakan dan dihilangkan dalam dunia pendidikan di negeri ini. Hampir semua sekolah di negara ini sudah melenyapkannya. Dan tujuanku, mencari sekolah yang masih sudi untuk memakainya. Semoga saja di tempatku berpijak ini, hal yang aku cari ini ada.
* * *
“Silahkan duduk” kata kepala sekolah yang pandangannya masih terjurus kepada lembaran-lembaran berkas yang masih ia garap. Dengan tanpa melihatku, dan memakai setelan jas yang rapi sudah amat gamblang menjelaskan bahwa ia adalah orang yang sibuk. Padahal, sesibuk-sibuknya manusia, pasti tidak akan lupa tentang naluri bagaimana cara menyambut tamu yang baik. Hanya saja, kemewahan memang bisa menutup naluri hati. Aku pun duduk dengan satu umpatan dalam hati. “Dasar orang kaya”.
“Ada yang bisa kami bantu?” ujarnya semrai melirikku sesaat, lalu kembali sibuk dengan urusannya sendiri. “Saya ingin menyekolahkan anak saya di sini. Semua persyaratan dan registrasi sudah saya penuhi” kataku dengan sopan. ”Lalu?” katanya dengan ringan, tanpa melihatku lagi. “Saya ingin agar anak saya .....” “Bapak tidak usah khawatir” sergahnya memotong perkataanku. “Sekolah kami telah menghasilkan ribuan lulusan yang berprestasi, berbudi pekerti yang luhur dan berdedikasi untuk nasib bangsa ini kedepan”. Katanya dengan penuh kesombongan dan kebanggaan. Aku begitu muak mendengarnya. Ucapan itu selalu menghiasi bibir-bibir pegawai dan brosur-brosur setiap sekolahan. Langsung saja, ku utarakan keinginanku kenapa aku kesini. “Saya hanya ingin anak saya diajarkan rasa malu”.
Seketika itu pula, semua aktifitas sibuknya terhenti. Mungkin ia tercengang, kaget atau malah ingin tertawa. Ia pun menatapku lamat-lamat.kesibukannya saat ini hanyalah menatapku. Dan aku hanya diam termagu. Bosan menatapku, ia lalu mengambil napas dalam-dalam, bersiap mengutarakan jawaban yang sudah aku tunggu dari tadi.
* * *
Di dunia yang fana ini, semua orang terlihat biasa. Yah.... biasa!. Kakek-kakek yang sedang merokok dibelakangku terlihat biasa saja dalam kaca mataku. Ibu-ibu yang memegang dagangannya serta siswi-siswi yang asyik bercengkrama juga terlihat sama, yakni biasa. Padahal, siapa yang tahu kalau mungkin saja, kakek itu mengidap penyakit dalam yang sangat kronis. Ibu-ibu tersebut kalut dan takut karena dompetnya baru saja hilang ketika berjualan. Dan para remaja itu, sedang galau dihinggapi permasalahan utama anak-anak remaja. Cinta.
* * *
Apa itu cinta? Apa itu makna cinta? Bagi orang tua yang telah belasan tahun ditinggal mati oleh istriku, aku sudah lupa dan tidak tahu tentang apa itu cinta. Sebenarnya, aku pernah kembali merasakan apa itu cinta ketika anak putri semata wayangku mulai menginjak remaja. Ku pondokkan dia di pondok yang terkenal di pesisir pantai utara. Ku mati-matian kerja membanting tulang demi menyukupi segala kebutuhannya. Harapanku sebagai orang tua dan ini pasti juga harapan-harapan semua orang tua di seluruh dunia. Cuma satu, agar ia di masa mendatang bisa bahagia. Namun, apa yang aku peroleh dari pengorbanan cintaku? Tiap ia pulang liburan pondok, setiap hari ia bergelut dengan benda kotak kecil bernamakan handphone. Dari bangun tidur sampai beranjak tidur,barang itu selalu lekat dalam genggamannya. Pun ketika aku menjenguknya saat di pondok Setelah mencium tanganku dengan –pura-pura- ta’dzim, menanyakan hal basa yang basi seperti bagaimana keadaanku, maka ia akan menanyakan apakah aku membawa Hp ( yang sebenarnya, uang untuk membeli dan mengisi pulsa adalah dariku, tapi diakui dengan ringan tanpa dosa kalau itu hp) nya. Dengan berat hati, ku keluarkan barang terkutuk itu dari saku celanaku. Dan hal yang aku rutuki pun terjadi. Ia sibuk dan berbahagia ria dengan hpku –yang katanya hpnya-, membuka fb atau apalah. Meninggalkanku yang diam terpaku seperti orang bego. Sepertinya, hp lebih istimewa daripada aku yang ayahnya.keinginanku untuk sementara waktu telah tercapai. Ia bahagia. Tapi, bagaimana denganku? Apakah aku bisa merasakan cinta?
Apa itu cinta? Apa itu makna cinta? Jika kami, aku dan anakku, yang meski dalam satu atap yang sama, jarang sekali bersua, dan ia bahagia dengan gadgetnya. Ku akui, aku tipikal ayah yang kaku. Tidak bisa menggantikan peran seorang ibu. Dan aku yakin, hampir semua laki-laki di dunia ini tidak bisa lembut seperti wanita. Kami, kaum adam, memang telah dicetak oleh-Nya seperti ini. Ini bukan hanya tentang hal jikalau para pria ingin dicintai dan para wanita ingin dimengerti. Sebagai adam, aku begitu berusaha mengerti para kaum hawa macam anakku. Ku penuhi segala kebutuhannya. Tapi apakah aku, sebagai ayah dan kaum adam, dicintai? Hanya ada rasa sesak di hati ini.
Akhirnya, aku tahu, bahwa anakku (dan mungkin seluruh remaja) kehilangan pelajaran rasa malu di sekolahnya. Ajaran yang bertujuan mendidik mereka, bagaimana cara menghargai orang tua sepertiku. Maka ku pindahkan ia dan kucarikan sekolah baru, yang masih menghasilkan rasa malu. Beberapa sekolah telah ku kunjungi. Tapi rata-ratanya jawaban yang ku temukan sama. Tidak ada pelajaran rasa malu di sekolah-sekolah. Setengah berputus asa, harapanku tertuju kepada MA Al Aman. Sekolah dengan lingkungan islam yang terletak tidak jauh dari perbatasan provinsi. Berdasarkan info-info yang kudengar dari masyarakat sekitar, sekolah ini begitu baik. Hingga akhirnya aku bisa lega dan mantap begitu menginjakkan kaki di depan gapura gerbang sekolah tersebut. Perlahan namun pasti, ku langkahkan kakiku menuju kantor sekretariat yang tak jauh dari tempat ku berpijak.
* * *
“Kiri bang kiri....” teguran salah satu penumpang membuyarkan lamunanku. Ternyata, salah satu siswi tersebut ada yang sudah sampai di rumahnya. Melihat paradigma kecil tersebut, pikiranku kembali tercengang. Apa yang akan aku lakukan ketika aku telah sampai ke rumah? Apa sih yang aku dapat? Nihil! Apalagi, perkataan kepala sekolah MA Al Aman begitu menyayat hati.
* * *
“Rasa malu?” tanya kepala sekolah sambil menaikkan salah satu alisnya. “Ya.... saya ingin agar anak saya diajari rasa malu. Supaya ia bisa menghormati saya sebagai orang tuanya. Supaya ia bisa....” “Apa itu rasa malu?” sergah ia mengagetkanku. Aku cukup kaget mendengar –seperti- pertanyaannya. “Bukannya bapak orang terdidik? Apa bapak terlalu terdidik hingga lupa apa itu rasa malu?” tanyaku sedikit emosi. Meski ku berbicara dengan nada yang ketus. Ia malah tersenyum penuh arti. Membuatku semakin bingung. “Maksud saya apakah bapak tidak tahu kalau di semua sekolah sudah tidak ada pelajaran rasa malu?”. “Tapi bukankah di sekolah ini ada? Buktinya saja, siswa siwi antara putra dan putri dipisah. Pasti ada yang mengajari rasa malu disini” kataku menggebu-gebu. Ia pun masih menjawab dengan santai. “Bagaimana ada pelajaran rasa malu? Jika di sekolah ini, dan mungkin di sekolah lain, ketika ujian, para murid belum sepenuhnya jujur. Mereka masih saja mencontek. Dan ironisnya, banyak dari guru-guru pengawas yang pura-pura tidak tahu. Bagaimana diajari rasa malu? Kalau masih banyak murid yang menganggap guru sebagai teman, bukan orang tua. Mereka pura-pura sopan jika di depannya, tapi tidak jarang banyak yang mengumpat di belakangnya. Itu hanyalah hal kecil dalam dunia pendidikan di negeri ini. Jika fondasinya saja masih rapuh, bagaimana kita dapat membangun gedung yang menjulang tinggi?”
* * *

“Pak.... sudah sampai....” kata supir bus membuyarkan lamunanku. Aku pun tersadar sepenuhnya. Ku berikan uang dan segera turun dari bus. Sampailah aku di depan rumahku. Tiga hari aku observasi kesana kemari, mencoba memetik sebuah harapan asa. Berusaha mengerti, namun belum dicintai. Usahaku seperti mengukir di atas air. Tak dapat hasil apa-apa. Dengan langkah tersungkur, ku coba langkahkan kakiku menuju pintu rumah sembari mencoba menelan pil pahit dalam pencarian ini. Akhirnya, aku pulang dengan pikiran yang masih gamang. 

0 komentar:

Post a Comment