Monday, 29 June 2015
On 11:16:00 by Unknown in Opini No comments
Sinar matamu tajam namun ragu
Kokoh sayapmu semua tahu
Tegak tubuhmu tak ‘kan tergoyahkan
Kuat jarimu kala mencengkram
Bermacam suku yang berbeda
Bersatu dalam cengkrammu
Angin genit mengelus merah putihku
Yang berkibar sedikit malu-malu
Merah membara, tertanam wibawa
Putihmu suci, penuh kharisma
Pulau-pulau yang berpencar
bersatu dalam kibarmu
“Iwan Fals”
“Garudapun malu merebahkan sayapnya”, terbaca
lagi kalimat penuh arti itu di buku inspirator saya. Sejenak saya mencoba
memperjelas alur otak yang sedang bergulat, mengapa saya menulis kalimat itu?.
Wal hashil, saya pun tau, sebelum saya menulis kalimat itu saya sempat
mengikuti upacara di kantor camat, yang dipimpin oleh para komando rayon
militer. Teringat pada hari itu adalah tanggal 01 Juni, yang dalam mayoritas
dimana-mana pada hari itu diperingati sebagai ‘Hari Kelahiran PANCASILA’.
Seusai saya melaksanakan kegiatan yang penuh semangat reformasi dan berat
mengandung nilai Nasonalisme, entah mengapa imaginasi saya melayang terbang ke
arah titik Ideologi Bangsa ini “PANCASILA”. Pun juga sekilas saja untuk
merebahkan kembali sayap Garuda yang kini terlipat rapat sedikit malu, mari
menyelam sejenak dalam pergolakan paradigma ini.
Anda masih paham dengan asas negara kita,
Pancasila?, Anda masih ingat butir-butir kandungan tiap-tiap Sila, dari Sila
pertama hingga Sila ke-5?, Atau masih hafal dengan Pancasila?, Atau bahkan
minimal anda pernah dengar dengan istilah ‘Pancasila’?. Dengar saja tidak
pernah, lantas bagaimana untuk menghafalkan?, Bila hafal saja tidak, lalu
bagaimana untuk mengerti?, Mengerti saja nihil, lalu bagaimana bisa paham?,
Paham atau mencoba untuk paham saja tidak pernah mencongol di kepala bahkan terbesit dalam ingatan, lalu
bagaimana bisa menerapkannya?, Pancasialiskah ?.
Pancasila sebagai dasar negara sekaligus
sebagai ideologi bangsa yang bisa diterima oleh semua kalangan, golongan dan
lapisan masyarakat, bahkan semua khalayak, yang dicetuskan oleh tokoh-tokoh dan
badan-badan khusus dengan berbagai kajiannya yang cukup panjang. Dan yang sekarang ini mungkin hanya bisa dibilang
sebagai dokumen negara atau surat warisan para leluhur yang harus disimpan
rapat-rapat agar tidak menguap. Kecenderungan saya atas apa yang telah terfikir
dan terucap bukannya tidak beralasan, melihat pancasila sekarang ini tak
ubahnya hanya sebagai goresan-goresan sajak indah yang hanya bisa
dikumandangkan. Pancasila nampaknya belum bisa mendarah daging pada kegiatan
non formal kita. Pancasila seakan-akan tak mempunyai ruang untuk bisa hidup
selain pada acara-acara tertentu, lebih seringnya seperti upacara bendera di
pendidikan-pendidikan formal dan semacamnya.
Melihat fenomena yang sedikit meresahkan hati
tersebut, Pancasila merupakan tema yang pas dan tepat untuk masa kini (semoga
tak juga untuk masa mendatang). Bila NU pada muktamarnya kemarin di Makassar
menyerukan agar NU kembali ke khittahnya yaitu awal di bentuknya organisasi
islam terbesar di Indonesia, maka Pancasila adalah khittah bagi negara agar
mengaktualkan kembali lima dasar negara tersebut. Akan tetapi nihil sekali
semua itu dapat terealisasi jika kita enggan mengemban nilai Nasionalisme dalam
diri kita. Dan kiranya itulah yang menjadi tonggak utama pada pembahasan kali
ini.
Anda masih ingat saat menjelang runtuhnya
orde baru?, Bangsa kita di guncangkan dengan adanya pergolakan dasyhat 2
komponen yang sangat penting, yakni aparat TNI dengan oknum-oknum mahasiswa dan
berbagai macam aktifis di jakarta. Ya, saat itulah perlawanan hebat antara
aparat TNI dan oknum-oknum tersebut yang menandai awal dari Reformasi di negeri penuh perjuangan ini. Waktu itu
aparat TNI seolah-olah “dilawankan” oleh sebagian orang dengan para mahasiswa,
aktifis, dan berbagai macam elemen masyarakat yang menuntut adanya pembaruan
setelah lama terpuruk dan mengancam kesejahteraan negara.
Menurut hemat penulis, pertikaian hebat yang
menyita waktu cukup lama tersebut antara aparat dan mahasiswa tidak ada yang
dapat disalahkan. Karena aparat tersebut meskipun bertindak secara tragis, tapi
mereka mengemban apa yang telah menjadi kewajibannya,
yakni menjaga kestabilan dan keamanan negara. Di lain pihak para mahasiswa juga
menuntut apa yang menjadi hak dari rakyat indonesia yang telah lama mereka
harap-harapkan yakni reformasi.
Dari sejarah singkat perjalanan bangsa ini,
mungkin bisa di ambil pelajaran dari dua blok yang bertikai tersebut. Menurut
banyak kacamata masyarakat, kedua pihak tersebut hanya tampak melampaui batas
dari apa yang seharusnya mereka lakukan. Tetapi harus di ingat bahwa apa yang
melandasi mereka tak lain dari buah semangat Nasionalisme mereka yang berpacu dengan keikhlasan tugas
masing-masing. Tak mudah memang, mengemban amanat negara yang sudah terpatri
dalam semangat berpatriot di tengah badai kebobrokan Bangsa.
Anda masih ingat pula di satu masa yang lalu,
saat menghormat kepada sang Saka Merah Putih sempat diharamkan?,
Setelah ratusan tahun di jajah dan setelah mendapatkan apa yang telah lama
mereka impikan, tiba-tiba mereka disuruh kembali untuk melepaskannya,
Lucu bukan?. Satu yang jadi pertanyaan,“mengapa sampai diharamkan?”, “Haram hormat pada Sang Saka Merah Putih, karena itu
Musyrik!!” jawab-nya. Dengan Entengnya
lontaran kalimat itu keluar dari lidah tak bertulangnya, lebih-lebih Musyrik
yang menjadi alasan. Mungkin orang tersebut mengikuti Thoriqot Terlalu Islam.
Hahaha.... Ternyata sudah dari dulu Nasionalisme bernegara hanya memang
perilaku tolol yang harus ditertawakan.
Mungkin bangsa kita sekarang ini butuh saling
pengertian atau konferensi nasional yang berakar dalam semangat bernegara serta
memberi dan menerima, sehingga sadar betul apa yang seharusnya mereka kerjakan
dan tidak lalai dari buah tindakan tersebut apa yang harus mereka berikan untuk
negara. Tentu hal itu tidak mudah bila tidak ditopang dengan pemanfa’atan yang
semestinya (profesional), apa yang menjadi kelebihannya dan tidak berusaha
untuk memanfaatkan celah dan kelemahan orang lain.
Selain itu,
yang perlu kiranya adalah belajar dari kesalahan yang telah terlewatkan, agar
kekhianatan itu tidak terulang kembali dan mengenang kejayaan bangsa kita
Indonesia sebagai sumber inspirasi yang menjelma menjadi kekuatan yang sangat
hebat. Tapi kita jangan terlalu menengok ke belakang dan meremehkan apa yang
kita hadapi saat ini. Artinya sudah saatnya kita kembali ke Khittah awal kita,
yaitu tujuan di bentuknya sutau negara.
Jika hal-hal tersebut dapat terealisasi,
cepat atau lambat perataan beban dan kesempatan tak lagi hanya berupa tong
kosong yang nyaring bunyinya. Karena pembangunan demi pembangunan di segala
bidang akan silihberganti berproses secara otomatis. Dan image buruk pancasila
pun akan pudar dengan sendirinya dari ke-tuan-an yang kaya raya
menjadi Ke-Tuhan-an yang maha Esa, kemanusiaan sipil yang biadab
menjadi kemanusiaan yang adil dan beradab, perceraian indonesia
menjadi persatuan indonesia, kesewenang-wenangan yang di pimpin oleh penjabat dalam ucapan dan
tindakan menjadi kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan, dan kecurangan sosial bagi seluruh rakyat
indonesia menjadi keadilan
sosial bagi seluruh rakyat indonesia.
Dengan begitu, Garudapun tak lagi melipat rapat sayapnya karena malu, justru ia
malu jika tetap melipat rapat-rapat sayapnya.
Wahai Presiden Kami yang baru
Kamu harus dengar suara ini
Suara yang keluar dari dalam goa
Goa yang penuh lumut kebosanan
Walau hidup adalah permainan
Walau hidup adalah hiburan
Tetapi kami tak mau dipermainkan
Dan kami juga bukan hiburan
Masalahnya sekarang satu, perubahan yang
dimaksudkan tersebut apakah karena kita sadar dan merasa perlu dengan
persiapan-persiapan yang matang?, Bila tidak,
maka kita tunggu saja perubahan tersebut akan terjadi dengan sendirinya karena
adanya desakan sejarah. Atau bahkan malah sebaliknya, sedikit demi sedikit luka
itu akan semakin parah dengan sendirinya karena adanya tuntutan zaman yang
semakin edan.
Terbanglah garudaku
Singkirkan kutu-kutu di sayapmu
Berkibarlah benderaku
Singkirkan benalu di tiangmu
Jangan ragu, dan jangan malu
Tunjukkan pada dunia
Bahwa sebenarnya kita mampu
Mentari pagi sudah membumbung tinggi
Bangunlah putra-putri ibu pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi
Setelah itu kita berjanji
Tadi pagi, esok hari atau lusa nanti
Garuda bukan burung perkutut
Sang saka bukan sandang pembalut
Dan coba kau dengarkan
Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut
Yang hanya berisi harapan
Yang hanya berisi
hayalan
“Iwan Fals”
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Search
Popular Posts
-
Muhammad Syifa El Zain Ratapan Anak Tiri Dikisahkan, ada sebuah keluarga rukun yang terdiri dari ayah, ...
-
Jenis Buku : Buku Fiksi Judul Buku : The Chronicles of Ghazi Pengarang ...
-
Apa kamu ingat ketika kita besama .. melewati segala rintangan yang ada didepan mata .. Apa kamu ingat saat kita tertawa ...
-
Pertemananku Terhalang Geng Kucing Dikisahkan pada suatu sekolah ada dua geng yang saling bermusuhan, yaitu geng tikus da...
-
PERPISAHAN Dulu.... Ketika Aku masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah Aku dan temanku selalu tertawa. Penuh senda gurau. Se...
Categories
Blog Archive
Total Pageviews
Blog Archive
Powered by Blogger.
0 komentar:
Post a Comment