Selamat datang di blog saya. Semoga apa yang anda cari ada di sini. Selamat berkunjung :)

Friday, 4 July 2014

On 11:29:00 by Unknown in    No comments
Sinar matahari menembus kaca kamar dan membuatku harus terpaksa bangun. Pertama membuka mata dan “Selamat ulang tahun Diniiiii”, sorak ketiga temanku, Ibu, Ayah dan Tri. Hari yang bersinar ini selalu aku tunggu karena di hari ini aku telah menjadi wanita dewasa, ya umurku 17 tahun hari ini.
17 tahun yang lalu, aku dilahirkan oleh seorang ibu yang sangat mulia. Aku terlahir ke daerah fana ini dengan keluarga yang cukup. Ayahku seorang kontraktor dan sampai sekarang pun aku masih anak tunggal. Setiap pulang sekolah aku selalu mencari Ibu untuk bercerita. Dia sungguh Ibu yang baik. Selalu mau mendengarkan ceritaku walau dia sedang sibuk. Ibu sedang masak pun aku selalu mengoceh tapi Ibu hanya bilang “Terus?”. Setiap pulang sekolah Ibu selalu bilang “Bagaimana hari ini?”. Ibu pernah bilang “Walaupun seluruh dunia menjauhimu, percayalah Ibu dan Ayah akan terus ada disini, di sampingmu dan disaat kamu merasa sendiri datanglah pada Ibu, Ibu akan selaluuu mendengar ceritamu”.
“Are you promise?”, mengajukan jari kelingkingku.
“Yes”, melingkarkan jari kelingkingnya.
“Sebelum tiup lilin make a wish dulu”, kata Cindy.
“Ya Allah aku mohon suasana akan selalu sebahagia ini”, ucapku dalam hati. Belum pernah aku merasa sebahagia ini. Betapa tidak? Semua yang aku cintai ada di depan mata disaat aku bangun dan mereka tetap berdiri menungguku tersadar dari alam mimpi, aku pun tak tau sejak kapan mereka berdiri disitu. Cindy adalah sahabatku sejak SD, Dina sahabatku sejak SMP, Melati sahabatku di SMA, betapa beruntungnya aku, kami dipertemukan lagi di SMA. Dan lebih beruntungnya aku menemukan Tri. Dia pangeran berkuda yang datang menjemput putri bergaun merah muda. Itu yang selalu aku dengar dari cerita Ibu saat masih SD dulu. Dan sepanjang masa aku selalu mengharapkan pangeran berkuda putih itu, kini dia datang. Sungguh, Ibu tak bohong padaku. Dia sosok yang selalu bisa aku banggakan di depan temanku karena dia memiliki segudang prestasi di bidang akademik.
Hari itu saat usiaku genap 17 tahun aku merasa aku orang paling bahagia. Tapi sebelum Ibu menghancurkan semua daftar yang aku buat hari ini.
“Ibu ingin di hari ini kita menghabiskan waktu hanya berdua”, desak Ibu.
“Ibu aku bukan anak kecil lagi”, aku medengus.
“Tapi Ibu ingin sekali ini saja merayakannya seperti dulu”, desak Ibu lagi.
“Sekarang aku sudah besar Ibu, aku sudah dewasa, umurku 17 tahun bukan balita yang Ibu gendong kemana-mana lagi”, komentarku makin kesal.
“Tapi kamu tetap putri kecil Ibu yang lucu”, jawab Ibu lembut.
“Aku sudah membuat jadwal bersama Cindy, Dina, Melati dan Tri bu, bukankah hari itu Ibu sudah menyetujuinya?”, dengan muka kesal.
“Apa kamu lebih mementingkan teman dari pada Ibu?”,tanya Ibu dengan tampang sinis.
“Tapi bu…”
“Ibu akan sangat senang jika kamu mau”, potong Ibu sebelum aku berkomentar lebih banyak.
“Hanya hari ini”, kata Ayah.
Dengan berat hati aku terpaksa membatalkan rencanaku bersama mereka hari ini. Sungguh hari yang menyebalkan. Dengan wajah terpaksa dan sangat cemberut aku duduk di atas motor yang dikendarai Ibu. Ayah tak dapat ikut karena harus ke lokasi hari ini. Hari libur pun Ayah tak punya waktu untukku. Tapi tak apalah… Aku terpaksa ikut dan aku harus ikut. Aku tak mau tau kemana motor ini melaju yang aku tau sekarang aku kesal, kesal dan sungguh sangat kesal pada Ibu. Bagaimana mungkin dia dapat membatalkan semua rencana yang jelas-jelas sudah diizinkannya? Aku sudah merancang hari ini dari seminggu yang lalu, tapi hancur lebur hanya karena keinginan Ibu untuk merayakan hari ulang tahun berdua dengannya. Ya hanya berdua.
Sepanjang jalan di dalam hati aku hanya mendengus menyesali hari ini. Kenapa harus begini? Aku kan jadi segan sama mereka. Rencana yang sudah sangat matang, harus terkubur dalam-dalam.
“Sudah jangan mengatai Ibu lagi”, kata Ibu dan membuat aku sangat tersentak. Bagaimana Ibu bisa tau kalau aku mendengusinya terus?
“Ibu hanya ingin hari ini saja, hari ini saja”, kata Ibu lagi.
“Ya ya ya”, jawabku dengan sangat malas.
“Kita punya banyak tempat yang akan kita kunjungi hari ini”
“Oke”, jawabku singkat.
Setelah cukup lama Ibu mengendarai motor maticnya, kami pun sampai di sebuah pusat perbelanjaan di kota ini. Telusur demi telusur kami sampai di sebuah toko yang Minggu kemarin kami datangi.
“Kamu boleh ambil baju itu”, menunjuk baju yang Minggu kemarin aku renggut padanya.
“Are you sure?”, jawabku tak yakin.
“Kenapa tidak?”, sambil tersenyum.
“Tapikan mahal banget bu”, jawabku.
“Ibu sudah kumpulkan uang untuk hari istimewa ini”, tepis Ibu dengan senyuman paling indahnya.
Aku sangat terharu, ternyata Ibu sudah merencanakan hari ini dengan sangat matang. “Terimakasih Ibu”, jawabku terharu sambil memeluk Ibu.
“Sudah ambil gih sana, ntar diambil orang loh”, kata Ibu melepaskan pelukannya.
Aku segera berlari dan meraih baju itu. Dress berwarna hijau lembut tanpa lengan dan simple itu dalam sekejap menjadi milikku. Dress itu seminggu yang lalu aku rengut pada Ibu. Tapi Ibu tak ingin membelikannya karena harganya yang sangat mahal. Teman-temanku juga menginginkannya tapi sekarang apa yang mereka impikan telah menjadi milikku hehe…
“Kita mau kemana lagi bu?”, tanyaku saat ke luar dari toko baju.
“Kamu lapar?”, tanya Ibu saat berjalan menelusuri jalan ke luar dari pusat perbelanjaan ini sambil merangkulku.
“Sedikit”, jawabku singkat.
“Mau makan dimana?”
“Ibu kok baik banget hari ini?”, tanyaku dengan tatapan sinis.
“Kalau gak mau ya udah”, jawab Ibu cuek.
“Oke oke. Gimana kalau kita makan sate bu? Kepingin niiii”, dengan tampang memelas.
“Oke, dimana?”
“Di dekat sekolahku ada sate enak loh bu, Ibu belum coba kan? Kalau Ibu makan pasti ketagihan deh”, kataku mencoba merayu Ibu.
“Masa?”, jawab Ibu jutek.
“Iya, teksturnya itu loh ma yang beda, pedasnya? Ughhh…”, sambil mengeluarkan lidah dan membasahi bibir.
“Hahaha kamu ini”, kata Ibu sambil merusak tata rambutku.
“Ibuuu… kan gak cantik lagi deh” dengusku sambil merapikan rambut.
Setelah selesai makan.
“Ibu sayang padamu”, katanya sambil menatap mataku dalam.
“Kenapa Ibu berkata seperti itu?”, tanyaku bingung.
“Apa kau sayang pada Ibu?”, tanya Ibu.
“Sayang sekali”, kataku singkat.
“Maafkan Ibu udah jadi Ibu yang menyebalkan karena membatalkan rencanamu hari ini bersama mereka”, kata Ibu sambil memegang mataku.
“Tadi mereka sudah kukasih tau, dan mereka bisa mengerti kok, Ibu tenang saja”, jawabku.
“Ibu hanya takut lain kali tidak bias membuatmu tersenyum lagi seperti hari ini”, kata Ibu dan membuat aku makin resah.
“Ibu apa-apaan sih. Ini kan hari bahagia aku, kenapa dibuat mellow gini?”, dengusku.
“Ibu hanya ingin kau tau, Ibu sangat mencintaimu”, jawab Ibu dengan senyuman indahnya.
“Ya aku tau, aku lebiiih banget cinta Ibu”, jawabku sambil memeluk Ibu.
“Kita mau kemana lagi?”, tanya Ibu memecahkan suasana.
“Terserah Ibu aja deh”, jawabku.
“Gimana kalau kita beli kue ulang tahun saja?”, usul Ibu.
“Ayoook”, jawabku dengan antusias..
Selama di perjalanan aku selalu bercerita pada Ibu. Aku beruntung mempunyai Ibu sepertinya. Bagaimana tidak? Dia bisa menjadi teman sekaligus Ibu untukku. Terimakasih Allah.
Saat kami telah sampai di seberang toko kue. Aku berkata, “Bu, Ibu saja deh yang ke seberang, aku pingin beli pulsa dulu disini”
“Tapi kan kita bisa pilih kue berdua disana”
“Aku selalu suka apapun yang Ibu suka”
“Ya udah motornya Ibu letakkan disini aja ya, kamu hati-hati, Ibu cuma sebentar kok”
“Iya bu”
Baru selesai aku membeli pulsa dan berbalik badan, aku melihat banyak kerumunan orang-orang dan ada yang berteriak “Bawa ke rumah sakit secepatnya”. Aku segera berlari kesana. Menarik orang-orang yang mengahalangiku. Aku melihat sesosok wanita tergeletak di aspal dengan kepala dilumuri darah. Terdiam. Sedih. Bingung. Terpaku dan meneteskan air mata. Memeluknya. Di sampingnya kulihat ada sebuat kue yang tak tau bentuknya dan seikat bunga mawar kesukaanku.
“Telfon ambulan sekarang!!!” perintahku.
“Siapapun bantu aku” kataku dengan tersedu.
“Ibu? Bertahanlah” kataku sambil mengelus pipi Ibu.
“Allah” jawab Ibu lirih.
Beberapa saat kemudian ada seorang pria yang berbaik hati menumpangkan mobilnya untuk kami. Di dalam mobil Ibu berkata dengan lirih “Ibu mencintaimu”
“Aku juga” sambil mencium Ibu.
Aku menelfon ayah. “A..Yah..” kataku tak tahan menahan nangis.
“Apa sayang? Kenapa kamu menangis?” Tanya ayah heran
“Ibu yah..”
“Kenapa dengan Ibu?”
“Ibu kecelakaan”
“Apaaaa?! Dimana kalian sekarang?”
“Ayah datang saja ke rumah sakit Senja”
“Oke Ayah segera kesana”
Setelah sampai di rumah sakit terdekat aku melihat banyak suster yang menolong Ibu. Ibuku dibawa ke sebuah ruangan Unit Darurat yang aku sendiri saja tak boleh masuk. Apa mau dokter-dokter itu? Aku anaknya. Aku berhak mengetahui keadaan Ibuku. Aku hanya duduk di depan pintu dengan air mata yang terus mengalir. Banyak yang menatapku heran, tapi aku sudah tak perduli pada tatapan orang asing itu. Yang ada di fikiranku hanya bagaimana keadaan Ibu?
Selang beberapa jam Ayah datang dengan tergesa, saat melihatku dia berlari ke arahku dan berkata “Mana Ibu?”
“Ada di dalam, Yah”, jawabku dengan tatapan kosong.
“Bagaimana ini bisa terjadi?”, tanya Ayah dengan cemas.
“Aku tak tau”, jawabku sambil menangis.
Dokter keluar dari ruangan Ibu. Aku dan Ayah langsung menghampiri dokter.
“Bagaimana keadaan Ibu kami dok?,” tanyaku menghapus air mata.
“Maaf”, kata dokter dengan wajah tertunjuk.
“Kenapa dok?!”, bentak Ayah.
“Allah berkehendak lain”
Runtuh. Gemuruh menghampiriku. Bagaimana mungkin? Dia Ibuku. Tak mungkin!!!
“Yah, dokternya gak serius kan?” kataku menggelengkan kepala.
“Yah jawab aku” dengan suara tersedu.
“Yah…”
Ayah hanya menggelengkan kepala dan memelukku. Aku merasakan tangisan Ayah di dalam pelukannya. Kami segera memasuki ruangan Ibu. Aku melihat ada sesesok di balik kain putih itu.
“Bu, Ibu dulu janji katanya gak mau buat aku sedih, katanya gak mau buat aku nangis. Sekarang kenapa? Ibu lupa sama janji Ibu? Dulu Ibu janji gak bakal tinggalin aku. Sekarang? Ibu pembohong. Dulu, Ibu janji kalau aku nangis, Ibu bakal hapus air mata aku. Sekarang? Ibu pembohong. Dulu Ibu janji sama aku bakal selalu di samping aku, tapi Ibu bohong. Kenapa Ibu pergi? Kenapa Bu? Ibu mau tinggalin aku sama Ayah berdua aja? Kenapa secepat ini, Bu? Ibu, jawab aku! Ibu… Bu…”, dengan suara tersedu dan memeluk Ibu.

0 komentar:

Post a Comment