Monday, 29 June 2015
On 11:23:00 by Unknown in Kumpulan Cerpen No comments
Bus yang aku tumpangi
melaju dengan tersendat-sendat. Barang uzur -yang sehausnya tak layak
pakai- ini ku
tahu betul berusaha sekuat tenaga melawan usia. Dan dalam perlawanannya, ia
telah kalah. Kalah berkali-kali. Namun, uang yang selalu berontak dan melawan,
merajuk untuk diambil dari segala penjuru membuat sang tuan terpaksa memaksanya
untuk bekerja. Beruntungnya,penumpang-penumpang dalam bus ini tidak terlalu ramai.
Jadi kepengapan yang menjadi jargon “selamat datang” saat kita memasuki bus
belum begitu menyiksa. Ku duduk persis di jok depan bersama pak supiryang
matanya selalu jelalatan acap kali melihat wanita-wanita cantik di
seberang.melalui kaca spion tengah yang tergantung, aku berusaha melihat
seluruh isi penumpang. Di belakangku ada kakek-kakek yang sedang merokok dengan
syahdunya. Di depannya, ada ibu-ibu yang mencengkram barang dagangannya dengan
erat. Sisanya segerombolan mudi anak-anak pulang sekolah yang sedang berkicau
ria, menghasilkan mp3 gratis dalam bus ini. Di masing-masing lengan kiri
mereka, terpampang jelas sebuah nama sekolah yang ingin ku tinggalkan. MA Al
Aman. Melihat siswi-siswi tersebut, ingatanku langsung melesat cepat mengingat
peristiwa-peristiwa yang menyayat hati.
* * *
Kala itu, aku begitu mantap menjejakkan
kakiku di depan gapura gerbang sekolah. Sekolah dengan predikat unggulan di
pinggir kota pantura ini pasti membuat para orang tua sepertiku ingin sekali
memasukkan anak-anaknya di sini. Dengan prestasi akademik yang melimpah, ditunjang
fasilitas dan sarana prasarana yang mumpuni, serta beasiswa untuk anak-anak
yang pandai –seperti anakku-, wali murid seperti pasti akan tergiur. Namun,
bukan itu semua yang aku cari. Tujuanku memindahkan anakku, dan mencarikannya
sekolah baru, semata-mata hanya untuk mengajarkan kepadanya tentang satu hal
yang mendasar, yang sejatinya begitu sepele. Saking sepelenya, mungkin hal
dasar ini mulai dilupakan dan dihilangkan dalam dunia pendidikan di negeri ini.
Hampir semua sekolah di negara ini sudah melenyapkannya. Dan tujuanku, mencari
sekolah yang masih sudi untuk memakainya. Semoga saja di tempatku berpijak ini,
hal yang aku cari ini ada.
* * *
“Silahkan duduk” kata kepala sekolah
yang pandangannya masih terjurus kepada lembaran-lembaran berkas yang masih ia
garap. Dengan tanpa melihatku, dan memakai setelan jas yang rapi sudah amat
gamblang menjelaskan bahwa ia adalah orang yang sibuk. Padahal,
sesibuk-sibuknya manusia, pasti tidak akan lupa tentang naluri bagaimana cara
menyambut tamu yang baik. Hanya saja, kemewahan memang bisa menutup naluri
hati. Aku pun duduk dengan satu umpatan dalam hati. “Dasar orang kaya”.
“Ada yang bisa kami bantu?” ujarnya
semrai melirikku sesaat, lalu kembali sibuk dengan urusannya sendiri. “Saya
ingin menyekolahkan anak saya di sini. Semua persyaratan dan registrasi sudah
saya penuhi” kataku dengan sopan. ”Lalu?” katanya dengan ringan, tanpa
melihatku lagi. “Saya ingin agar anak saya .....” “Bapak tidak usah khawatir”
sergahnya memotong perkataanku. “Sekolah kami telah menghasilkan ribuan lulusan
yang berprestasi, berbudi pekerti yang luhur dan berdedikasi untuk nasib bangsa
ini kedepan”. Katanya dengan penuh kesombongan dan kebanggaan. Aku begitu muak
mendengarnya. Ucapan itu selalu menghiasi bibir-bibir pegawai dan brosur-brosur
setiap sekolahan. Langsung saja, ku utarakan keinginanku kenapa aku kesini.
“Saya hanya ingin anak saya diajarkan rasa malu”.
Seketika itu pula, semua aktifitas
sibuknya terhenti. Mungkin ia tercengang, kaget atau malah ingin tertawa. Ia
pun menatapku lamat-lamat.kesibukannya saat ini hanyalah menatapku. Dan aku
hanya diam termagu. Bosan menatapku, ia lalu mengambil napas dalam-dalam,
bersiap mengutarakan jawaban yang sudah aku tunggu dari tadi.
* * *
Di dunia yang fana ini, semua orang
terlihat biasa. Yah.... biasa!. Kakek-kakek yang sedang merokok dibelakangku
terlihat biasa saja dalam kaca mataku. Ibu-ibu yang memegang dagangannya serta
siswi-siswi yang asyik bercengkrama juga terlihat sama, yakni biasa. Padahal,
siapa yang tahu kalau mungkin saja, kakek itu mengidap penyakit dalam yang
sangat kronis. Ibu-ibu tersebut kalut dan takut karena dompetnya baru saja
hilang ketika berjualan. Dan para remaja itu, sedang galau dihinggapi
permasalahan utama anak-anak remaja. Cinta.
* * *
Apa itu cinta? Apa itu makna cinta? Bagi
orang tua yang telah belasan tahun ditinggal mati oleh istriku, aku sudah lupa
dan tidak tahu tentang apa itu cinta. Sebenarnya, aku pernah kembali merasakan
apa itu cinta ketika anak putri semata wayangku mulai menginjak remaja. Ku
pondokkan dia di pondok yang terkenal di pesisir pantai utara. Ku mati-matian
kerja membanting tulang demi menyukupi segala kebutuhannya. Harapanku sebagai
orang tua dan ini pasti juga harapan-harapan semua orang tua di seluruh dunia. Cuma
satu, agar ia di masa mendatang bisa bahagia. Namun, apa yang aku peroleh dari
pengorbanan cintaku? Tiap ia pulang liburan pondok, setiap hari ia bergelut
dengan benda kotak kecil bernamakan handphone. Dari bangun tidur sampai
beranjak tidur,barang itu selalu lekat dalam genggamannya. Pun ketika aku
menjenguknya saat di pondok Setelah mencium tanganku dengan –pura-pura-
ta’dzim, menanyakan hal basa yang basi seperti bagaimana keadaanku, maka ia
akan menanyakan apakah aku membawa Hp ( yang sebenarnya, uang untuk membeli dan
mengisi pulsa adalah dariku, tapi diakui dengan ringan tanpa dosa kalau itu hp)
nya. Dengan berat hati, ku keluarkan barang terkutuk itu dari saku celanaku.
Dan hal yang aku rutuki pun terjadi. Ia sibuk dan berbahagia ria dengan hpku
–yang katanya hpnya-, membuka fb atau apalah. Meninggalkanku yang diam terpaku
seperti orang bego. Sepertinya, hp lebih istimewa daripada aku yang
ayahnya.keinginanku untuk sementara waktu telah tercapai. Ia bahagia. Tapi,
bagaimana denganku? Apakah aku bisa merasakan cinta?
Apa itu cinta? Apa itu makna cinta? Jika
kami, aku dan anakku, yang meski dalam satu atap yang sama, jarang sekali
bersua, dan ia bahagia dengan gadgetnya. Ku akui, aku tipikal ayah yang kaku.
Tidak bisa menggantikan peran seorang ibu. Dan aku yakin, hampir semua
laki-laki di dunia ini tidak bisa lembut seperti wanita. Kami, kaum adam,
memang telah dicetak oleh-Nya seperti ini. Ini bukan hanya tentang hal jikalau
para pria ingin dicintai dan para wanita ingin dimengerti. Sebagai adam, aku
begitu berusaha mengerti para kaum hawa macam anakku. Ku penuhi segala
kebutuhannya. Tapi apakah aku, sebagai ayah dan kaum adam, dicintai? Hanya ada
rasa sesak di hati ini.
Akhirnya, aku tahu, bahwa anakku (dan
mungkin seluruh remaja) kehilangan pelajaran rasa malu di sekolahnya. Ajaran
yang bertujuan mendidik mereka, bagaimana cara menghargai orang tua sepertiku.
Maka ku pindahkan ia dan kucarikan sekolah baru, yang masih menghasilkan rasa
malu. Beberapa sekolah telah ku kunjungi. Tapi rata-ratanya jawaban yang ku temukan
sama. Tidak ada pelajaran rasa malu di sekolah-sekolah. Setengah berputus asa,
harapanku tertuju kepada MA Al Aman. Sekolah dengan lingkungan islam yang
terletak tidak jauh dari perbatasan provinsi. Berdasarkan info-info yang
kudengar dari masyarakat sekitar, sekolah ini begitu baik. Hingga akhirnya aku
bisa lega dan mantap begitu menginjakkan kaki di depan gapura gerbang sekolah
tersebut. Perlahan namun pasti, ku langkahkan kakiku menuju kantor sekretariat
yang tak jauh dari tempat ku berpijak.
* * *
“Kiri bang kiri....” teguran salah satu
penumpang membuyarkan lamunanku. Ternyata, salah satu siswi tersebut ada yang
sudah sampai di rumahnya. Melihat paradigma kecil tersebut, pikiranku kembali
tercengang. Apa yang akan aku lakukan ketika aku telah sampai ke rumah? Apa sih
yang aku dapat? Nihil! Apalagi, perkataan kepala sekolah MA Al Aman begitu
menyayat hati.
* * *
“Rasa malu?” tanya kepala sekolah sambil
menaikkan salah satu alisnya. “Ya.... saya ingin agar anak saya diajari rasa
malu. Supaya ia bisa menghormati saya sebagai orang tuanya. Supaya ia bisa....”
“Apa itu rasa malu?” sergah ia mengagetkanku. Aku cukup kaget mendengar
–seperti- pertanyaannya. “Bukannya bapak orang terdidik? Apa bapak terlalu
terdidik hingga lupa apa itu rasa malu?” tanyaku sedikit emosi. Meski ku
berbicara dengan nada yang ketus. Ia malah tersenyum penuh arti. Membuatku
semakin bingung. “Maksud saya apakah bapak tidak tahu kalau di semua sekolah
sudah tidak ada pelajaran rasa malu?”. “Tapi bukankah di sekolah ini ada?
Buktinya saja, siswa siwi antara putra dan putri dipisah. Pasti ada yang
mengajari rasa malu disini” kataku menggebu-gebu. Ia pun masih menjawab dengan
santai. “Bagaimana ada pelajaran rasa malu? Jika di sekolah ini, dan mungkin di
sekolah lain, ketika ujian, para murid belum sepenuhnya jujur. Mereka masih
saja mencontek. Dan ironisnya, banyak dari guru-guru pengawas yang pura-pura
tidak tahu. Bagaimana diajari rasa malu? Kalau masih banyak murid yang
menganggap guru sebagai teman, bukan orang tua. Mereka pura-pura sopan jika di
depannya, tapi tidak jarang banyak yang mengumpat di belakangnya. Itu hanyalah
hal kecil dalam dunia pendidikan di negeri ini. Jika fondasinya saja masih
rapuh, bagaimana kita dapat membangun gedung yang menjulang tinggi?”
* * *
“Pak.... sudah sampai....” kata supir
bus membuyarkan lamunanku. Aku pun tersadar sepenuhnya. Ku berikan uang dan
segera turun dari bus. Sampailah aku di depan rumahku. Tiga hari aku observasi
kesana kemari, mencoba memetik sebuah harapan asa. Berusaha mengerti, namun
belum dicintai. Usahaku seperti mengukir di atas air. Tak dapat hasil apa-apa.
Dengan langkah tersungkur, ku coba langkahkan kakiku menuju pintu rumah sembari
mencoba menelan pil pahit dalam pencarian ini. Akhirnya, aku pulang dengan
pikiran yang masih gamang.
On 11:22:00 by Unknown in Opini No comments
Ungkapan diatas menggambarkan
kecenderungan selera pasar dibentuk oleh social masyarakat tertentu.Dimana
kecantikan tubuh lebih memiliki nilai tinggi dibandingkan kecantikan otak
,sehingga perempuan berlomba-lomba menghias diri memberikan perhatian pada
perawatan tubuh mereka.Hal ini dibaca oleh kapitalis dengan memanfaatkan
perempuan sebagaai komoditi ( barang) yang menjual dengan menghadirkan produk-produk
dan pernak-pernik kecantikan,mengeksploitasi perempuan dalam berbagai
iklan,bahkan iklan yang tidak ada kaitannya dengan barang yang
ditawarkan,misalnya iklan cat,rokok,mobil,dan banyak lainnya.Betapa perempuan
menjadi daya tarik kemolekan wajah dan tubuhnya,karna konstruksi social dan
imajinasi masyarakat sehingga tidak disadari bahwa perempuan juga korban selera
pasar,korban konstruksi social sehingga mereka hanya menjadi komoditi yang
menjual.Pertanyaannya maukah kita
menjadi korban atau bahkan menikmatinya ?
Konstruk social kemudian
juga membentuk stigma (anggapan ) bahwa perempuan harus cantik tidak penting
pendidikan tinggi,bahkan doktrin orangtua yang menganggap peran perempuan hanya
sebatas kawasan “kasur,dapur,dan sumur” ikut mereduksi kesadaran pentingnya
pendidikan bagi perempuan hingga lebih memprioritaskan laki-laki yang
mendapatkan porsi pendidikan tinggi. Lalu bagaimana Fiqh islam memandang
urgensi pendidikan bagi perempuan?
Hukum menuntut ilmu sebagaimana
dijelaskan dalam sebuah hadis :”tholabul
‘ilmi faridhotun ‘ala kulli muslimin wal muslimat”(menuntut ilmu wajib bagi
setiap muslim dan muslimah),tidak hanya laki-laki,perempuan juga dibebani
kewajiban sama dalam menuntut ilmu. Lebih- lebih perempuan adalah”madrasatul
ula” sekolah prtama bagi anak-anak kita,bagaimana kita bisa mencetak anak-anak
yang berkualitas jika madrasahnya sendiri tidak kita berdayakan secara
keilmuan,menjawab kebutuhan anak-anak kita yang lahir di zaman serba canggih di
era gadget ini menjadi penting seorang ibu mengikuti perkembangan informasi dan
teknologi karena ruang inilah yang paling banyak diakses anak-anak kita
sehingga banyak informasi yang mereka dapatkan tanpa melalui filter,maka tugas
orangtua terutama ibu menjadi pengawas utama bagi pendidikan anak-anaknya
sebagai dampak penbagian peran dan tugas ketika bapak harus lebih banyak diluar
rumah maka permpuanlah yang mengambil peran pengawasan harus dibekali keilmuan
dan wawasan setinggi-tingginya,seluas-luasnya untuk meminimalisir dampak buruk
teknologi dan informasi yang bebas tersebut.
Pentingnya belajar dan mencari ilmu
dalam islam seperti yang telah diperintahkan oleh Allah SWT dalam surat Al-Alaq.
Allah dalam firmanNya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah , dan
Tuhanmulah yang maha pemurah , yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam ,
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (Al-Alaq : 1-5)”.
Islam begitu menekankan betapa
pentingnya pendidikan itu.Dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 122, Allah SWT
berfirman : “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan
perang).Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa
orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi
peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya,supaya mereka
itu dapat menjaga dirinya”.
Berdasarkan Al-Quran surah
Al-Mujadilah ayat 11,niscaya Allah akan memberikan derajad yang tinggi serta
penghargaan kepada orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan.Al-Quran surah
Al-Imran ayat 18 memasukkan orang-orang yang berilmu diantara mereka yang
menyatakan tentang keesaan Allah. Menurut hadis lainnya bahwa seeorang yang
pergi belajar mencari ilmu,dianggap sedang berada di jalan Allah (berjihad)
sampai kembali lagi.
Islampun memandang bahwa
ditangan seorang perempuan tergenggam masa depan umat karena perempuan adalah
tiang Negara , yang menentukan tegak atau runtuhnya sebuah Negara atau
masyarakat. Islampun mencerdaskan perempuan , karena perempuan adalah bagian
dari warga Negara sebagaimana kaum laki-laki. Keduanya bertanggung jawab untuk
membawa umatnya ke keadaan yang lebih baik dan lebih maju.
Sejalan dengan agama, Negara memahami
betul pentingnya pendidikan bagi perempuan sebagai warga yang ikut berperan dan
berkontribusi pada pembangunan suatu Negara.karena pembangunan suatu bangsa
yang abadi adalah pendidikan. Pendidikan merupakan pondasi utama pembangunan,
dan perempuan mempercepat pembangunan tersebut
dengan menyiapkan generasi yang unggul, bermoral, beriman, bertaqwa,
serta berahlaq. Dalam UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
serta Pancasila dan UUD 1945 Pasal 32 Ayat 1 dan 2 berbunyi : (1)Setiap warga
Negara berhak dan layak mendapatkan pendidikan, dan (2)Setiap warga Negara
bebas memilih pendidikan.
Jadi jelaslah Pendidikan adalah hak setiap
manusia dan kewajiban sebagai seorang muslim baik laki-laki maupun
perempuan tidak ada alasan menomor duakan pendidikan. Kesadaran ini harus
dimiliki tidak hanya oleh perempuan tapi juga laki-laki, mustahil membangun
bangsa yang kuat tanpa persepsi yang sama agar tidak ada lagi deskriminasi
dalam berpendidikan. Sangat urgen dan mendesak membangun generasi unggul kita
melalui tangan-tangan perempuan yang cerdas dan berahlak, bukan oleh perempuan
yang disibukkan dengan bedak dan tubuhnya. Karena generasi yang cerdas lahir
dari ibu yang cerdas, selamat belajar !!!!On 11:17:00 by Unknown in Opini No comments
Setiap makhluk
hidup pasti memiliki kebutuhan, terutama manusia. Kebutuhan manusia semakin
bertambah seiring perubahan dan kemajuan zaman. Perekonomian menjadi salah satu
bidang yang terkena efeknya. Peningkatan kebutuhan manusia menuntut adanya
peningkatan dalam bidang perekonomian. Di antara cara peningkatan perekonomian
suatu negara adalah dengan menambah lapangan kerja bagi para penduduknya, tak
terkecuali di negara kita, Indonesia.
Berbagai usaha
telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan perekonomian di Indonesia. Di antaranya adalah penambahan lapangan kerja,
peningkatan sumber daya manusia, serta pengembangan mutu dan tingkat pendidikan.
Dan mungkin masih banyak lagi langkah-langkah lain yang masih dalam perencanaan
alias belum dilaksanakan.
Meskipun
usaha-usaha tersebut sudah direalisasikan, tapi tak dapat dipungkiri,
peningkatan perekonomian belum merata bagi seluruh rakyat Indonesia. Masih
banyak penduduk Indonesia yang masih di bawah standar hidup sejahtera. Masih
mudah kita jumpai orang-orang yang tinggal di bawah jembatan, di daerah kumuh
dekat tempat pembuangan sampah, maupun di emper-emper toko. Bahkan ada sebagian
yang sama sekali tidak memiliki tempat tinggal.
Persaingan
Ekonomi Melalui Tingkat Pendidikan
Sebagian besar
manusia mempunyai pola pikir (mindset) bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan
seseorang, maka semakin tinggi pula tingkat ekonominya. Begitu juga sebaliknya.
Hal ini membuat manusia berlomba-lomba mencapai tingkat pendidikan
setinggi-tingginya dengan harapan mereka akan meraih kehidupan yang enak, bukan
sekedar layak. Namun, tidak sedikit yang berkehidupan pas-pasan meskipun mereka
telah meraih tingkat pendidikan yang di atas rata-rata dengan seabreg gelar
yang menghiasi namanya. Sehingga tak jarang orang menderita tekanan batin atas
“musibah” tersebut. Banyak yang kecewa pada dirinya sendiri karena tidak
mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan gelarnya. Contoh kecilnya ialah orang
yang meraih gelar S1 dalam bidang pendidikan. Setelah mengajukan beberapa
lamaran pekerjaan yang sesuai bidangnya, ternyata ia tidak mendapatkannya.
Akhirnya ia mencari pekerjaan seadanya yang bahkan jauh dari bidangnya.
Di sisi lain,
cukup banyak orang yang berpendidikan rendah tapi memiliki kehidupan yang
layak, bahkan enak. Apa yang mereka inginkan, dengan mudah bisa mereka dapatkan.
Kehidupan mereka melebihi kehidupan orang yang berpendidikan tinggi.
Seakan-akan strata pendidikan tidak berpengaruh pada perekonomian mereka.
Banyak komentar
muncul dari fenomena tersebut. Pro-kontra tidak bisa terhindarkan. Ada yang menanggapi
hal tersebut wajar karena tidak semua lapangan pekerjaan memiliki
peluang/lowongan kerja dengan jumlah yang melebihi batas sehingga harus menolak
beberapa pelamar. Sebagian orang berpendapat bahwa orang berpendidikan rendah
pun tidak kalah dengan yang berpendidikan tinggi, asalkan memiliki ketrampilan,
kemampuan, kedisiplinan, kemauan serta etos kerja yang tinggi. Sebagian yang
lain dengan tenang mengatakan bahwa semua sudah ada yang mengatur. Rizqi sudah
diatur dan dibagi sesuai kehendak yang mengatur, manusia hanya mampu berusaha,
tapi Allah-lah yang menentukan.
Respon Santri
Terhadap Ekonomi
Kaum sarungan
atau yang lebih dikenal dengan istilah santri, memiliki cara pandang tersendiri
tentang rizqi. Mereka mempunyai kemantapan hati tentang masa depan, tak
terkecuali yang berkaitan dengan rizqi. Tawakkal mereka seakan sudah dilatih
dan terlatih sejak mereka hidup dan belajar di lingkungan pondok pesantren.
Meskipun masih ada santri yang takut akan masa depannya. Esok akan jadi apa?
Esok makan apa? Esok kerja apa? Bagaimana aku menghidupi anak istriku kelak
kalau aku hanyalah seorang santri? Santri bisa apa? Dan seabreg kegundahan lainnya
mungkin masih bersemayam di otaknya. Santri yang berjiwa santri seharusnya
memiliki tawakkal yang kuat, tanpa menafikan ikhtiyar yang keras. Tawakkal dan
kemantapan hati mereka bukan tanpa alasan. Mereka juga punya dasar, tendensi
dari apa yang mereka dapatkan dari khazanah keilmuan di pondok pesantren. Entah
yang berasal dari Al-Qur’an, hadits, ataupun maqolah ulama’.
Allah memiliki
sifat Al-Rozzaq yang berarti Maha Pemberi Rizqi. Semua yang ada di dunia ini,
sudah ditanggung rizqinya oleh Allah, Sang Pemilik Rizqi. Dari makhluk terkecil
hingga terbesar, semua sudah ada jatah masing-masing. Allah berfirman dalam
surat Hud ayat 6:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي
الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا
كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (هود : 6)
Dan tidak ada
suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizqinya,
dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya.
Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauhil Mahfudh).
Rizqi tidak
hanya berupa materi. Tidak sesempit yang mayoritas orang awam pikirkan. Kesehatan,
keselamatan, kebahagiaan, dan jodoh juga merupakan rizqi. Sebagai orang yang
beriman, kita harus percaya akan hal itu. Kita harus percaya bahwa semuanya
telah diatur oleh Allah, termasuk pekerjaan dan tingkat kehidupan kita. Bukan
berarti kita hanya berpangku tangan menunggu nasib kita, menanti skenario
taqdir Allah. Bukan! Sebagai hamba, kita hanya diwajibkan untuk
berikhtiyar/berusaha. Adapun hasilnya, kita pasrahkan kepada Allah, Tuhan yang
menciptakan kita.
Kita
boleh-boleh saja mengejar cita-cita kita setinggi langit, mengenyam pendidikan
sesuai keinginan kita. Namun jangan sampai hal tersebut membuat kita lalai
bahwa yang menentukan masa depan kita adalah Allah. Meskipun banyak yang
mendapatkan pekerjaan sesuai dengan pendidikannya, tapi tak sedikit pula yang
berbelok dan melenceng jauh dari harapan. Dan tak jarang ada yang terhenti dalam
perjalanan meraih cita-citanya disebabkan ajal lebih
dulu menghampiri.
Oleh karena
itu, setinggi apapun tingkat pendidikan kita, tidak menjadi jaminan kelayakan
hidup kita. Dan sebaliknya, serendah apapun tingkat pendidikan kita, kita tidak
boleh pesimis akan masa depan kita. Kurang baik jika kita mencari ilmu dengan
tujuan agar nantinya kita bisa menjadi seperti ini dan itu, atau agar bisa
mendapatkan pekerjaan sesuai dengan pendidikan kita. Namun yang harus kita
lakukan adalah membenahi niat kita dalam mencari ilmu. Menuntut ilmu dengan
niat mengharap serta menggapai ridlo Allah, menghilangkan kebodohan, mencerdaskan
bangsa, mengisi pembangunan nasional, menghidupkan agama Allah, ataupun tujuan
lain yang berorientasi pada agama dan akhirat, tanpa mengesampingkan kemaslahatan
dunia kita.
Dan ketika
Allah menaqdirkan kehidupan yang tidak sesuai dengan harapan kita, kita tidak boleh
menyalahkan keadaan apalagi menyalahkan taqdir Allah. Dalam sebuah hadits
qudsiy disebutkan:
مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِي وَلَمْ يَصْبِرْ
عَلَى بَلَائِي فَاطْلُبْ رَبًّا سِوَائِي
Barang siapa tidak ridlo terhadap qodlo’ (ketentuan)-Ku dan tidak sabar atas
bala’ (cobaan)-Ku, maka carilah Tuhan selain Aku.
Guru kita,
Syaikh Maimoen Zubair pernah dawuhan:
-
Ngaji seng
tenanan! Ora usah mikir arep dadi opo. Angger ngalim lak biso dadi opo-opo. Mengaji/belajar
yang sungguh-sungguh! Tidak usah memikirkan mau jadi apa. Kalau alim (pandai
dalam hal agama) pasti bisa jadi apa saja.
-
Wong nek ngalim
iku uripe mesti kepenak. Gene gak kepenak, mergo gak patio ngalim. Orang
alim itu hidupnya pasti enak. Kenapa tidak enak, karena tidak begitu alim.
Kiat-Kiat Meraih Kesuksesan Ekonomi
Setiap manusia
menginginkan kehidupan yang layak, enak, dan serba tercukupi. Beberapa usaha
akan dilakukan demi tercapainya tujuan itu. Berikut ini diantara resep-resep
untuk meraih kesuksesan hidup, khususnya di bidang ekonomi:
1.
Percaya kepada Dzat Pemberi Rizqi.
Kita harus menanamkan keyakinan dalam hati kita bahwa kehidupan di dunia
ini sudah diatur oleh Allah, berjalan atas kehendak-Nya. Termasuk di dalamnya
adalah tentang rizqi kita, sudah terencana di lauhil mahfudh.
Ketika kita ditaqdirkan mendapatkan kehidupan yang bahagia dan berkecukupan,
kita tidak boleh lalai terhadap Sang Pemberi Rizqi. Kita juga tidak boleh
menganggap bahwa semua itu adalah hasil dari jerih payah kita sendiri, tapi
semua adalah semata-mata anugerah dari Allah. Karena seandainya Allah tidak
menghendaki seperti itu, kita tidak bisa merasakan kenikmatan itu. Sebagaimana
yang telah dicontohkan oleh Nabi Sulaiman dalam Al-Qur’an surat An-Naml ayat 40 yang berbunyi:
هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي
لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ (النمل : 40)
Ini termasuk karunia Tuhanku untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau
mengingkari (nikmat-Nya)
Sebaliknya,
apabila kita mengalami kehidupan yang susah, sempit, serba kekurangan, kita
tidak boleh menyalahkan keadaan apalagi memprotes Allah. Justru kita harus
berintrospeksi diri, merenungi kesalahan dan dosa kita, serta meyakini bahwa
itu adalah bagian dari kehendak Allah sehingga kita akan selalu husnudzon
kepada Allah. Dan tentunya apa yang diberikan Allah kepada kita adalah untuk
kebaikan kita, karena Allah pasti memberi yang terbaik untuk kita meskipun
kadang yang terbaik bagi kita bukanlah yang terindah di mata kita. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا
شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ (البقرة : 216)
Boleh
jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula)
kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.
فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا
شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا (النساء : 19)
Karena
mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padana kebaikan
yang banyak.
2.
Memenuhi kewajiban kita.
Sebagai seorang hamba, sudah sepatutnya kita melakukan apa yang menjadi
tujuan penciptaan kita. Yang tak lain adalah beribadah kepada-Nya. Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
(الذاريات : 56)
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah
kepada-Ku.
وَأْمُرْ أَهْلَكَ
بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ
وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى (طه : 132)
Dan
perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan sholat dan bersabarlah kamu dalam
mengerjakannya. Kami tidak meminta rizqi kepadamu. Kami-lah yang member rizqi
kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.
Dari ayat
tersebut, bisa dipahami bahwasanya Allah-lah yang memberi rizqi kepada kita. Allah
menyuruh kita untuk memerintah keluarga kita agar melakukan sholat dan bersabar
dalam (perintah) sholat. Setelah itu Allah menegaskan bahwa Allah tidak
meminta/menuntut rizqi dari kita. Justru sebaliknya, Allah yang akan menjamin
rizqi kita jika kita telah melakukan kewajiban atas perintah-Nya tersebut.
3.
Berusaha sungguh-sungguh.
Dalam mencari rizqi,
Rasulullah telah mengajarkan kita dalam haditsnya:
اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ
أَبَدًا وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا
Bekerjalah
untuk (urusan) duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya dan beramallah
untuk (urusan) akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.
Rasulullah
tetap memerintahkan kita untuk mengusahakan duniawi kita. Namun tidak
meninggalkan urusan akhirat kita.
Hal senada juga
telah difirmankan Allah dalam kalam-Nya:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ
اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ
كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ
اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ (القصص
: 77)
Dan carilah
pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat.
Dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat
baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
4.
Memperbanyak dzikir.
Dzikir
merupakan salah satu ibadah yang bisa mendekatkan diri kita Allah. Sebagian
dzikir juga mempunyai hikmah bisa memperlancarkan rizqi kita, sehingga para
ulama banyak yang menganjurkan kita untuk membaca dzikir-dzikir atau do’a-do’a
tertentu yang bisa menjadi lantaran lancarnya rizqi.
5.
Bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah kepada kita.
Ketika
kita berterimakasih kepada orang yang telah memberikan sesuatu kepada kita,
bisa dipastikan orang itu akan merasa senang karena sudah dihargai
pemberiannya. Apalagi jika kita membalas dengan do’a kebaikan untuknya, maka
orang tersebut tidak akan bosan memberi kita lagi di lain waktu.
Allah Sang
Pemberi Rizqi, juga tidak akan segan-segan untuk menambah rizqi yang kita
syukuri. Bahkan Allah telah berjanji dengan firman-Nya:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ
لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (إبراهيم : 7)
Sesungguhnya
jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu
mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.
Semoga kita
bisa menjadi hamba Allah yang benar-benar menghamba kepada-Nya, yang selalu
mengingat-Nya dalam suka maupun duka. Dan semoga Allah senantiasa mencurahkan
rizqi-Nya kepada kita dengan penuh rahmat-Nya sehingga rizqi kita barokah dan
bermanfaat bagi sesama, untuk kepentingan dunia, agama dan akhirat. Aaamiiin…
On 11:16:00 by Unknown in Opini No comments
Sinar matamu tajam namun ragu
Kokoh sayapmu semua tahu
Tegak tubuhmu tak ‘kan tergoyahkan
Kuat jarimu kala mencengkram
Bermacam suku yang berbeda
Bersatu dalam cengkrammu
Angin genit mengelus merah putihku
Yang berkibar sedikit malu-malu
Merah membara, tertanam wibawa
Putihmu suci, penuh kharisma
Pulau-pulau yang berpencar
bersatu dalam kibarmu
“Iwan Fals”
“Garudapun malu merebahkan sayapnya”, terbaca
lagi kalimat penuh arti itu di buku inspirator saya. Sejenak saya mencoba
memperjelas alur otak yang sedang bergulat, mengapa saya menulis kalimat itu?.
Wal hashil, saya pun tau, sebelum saya menulis kalimat itu saya sempat
mengikuti upacara di kantor camat, yang dipimpin oleh para komando rayon
militer. Teringat pada hari itu adalah tanggal 01 Juni, yang dalam mayoritas
dimana-mana pada hari itu diperingati sebagai ‘Hari Kelahiran PANCASILA’.
Seusai saya melaksanakan kegiatan yang penuh semangat reformasi dan berat
mengandung nilai Nasonalisme, entah mengapa imaginasi saya melayang terbang ke
arah titik Ideologi Bangsa ini “PANCASILA”. Pun juga sekilas saja untuk
merebahkan kembali sayap Garuda yang kini terlipat rapat sedikit malu, mari
menyelam sejenak dalam pergolakan paradigma ini.
Anda masih paham dengan asas negara kita,
Pancasila?, Anda masih ingat butir-butir kandungan tiap-tiap Sila, dari Sila
pertama hingga Sila ke-5?, Atau masih hafal dengan Pancasila?, Atau bahkan
minimal anda pernah dengar dengan istilah ‘Pancasila’?. Dengar saja tidak
pernah, lantas bagaimana untuk menghafalkan?, Bila hafal saja tidak, lalu
bagaimana untuk mengerti?, Mengerti saja nihil, lalu bagaimana bisa paham?,
Paham atau mencoba untuk paham saja tidak pernah mencongol di kepala bahkan terbesit dalam ingatan, lalu
bagaimana bisa menerapkannya?, Pancasialiskah ?.
Pancasila sebagai dasar negara sekaligus
sebagai ideologi bangsa yang bisa diterima oleh semua kalangan, golongan dan
lapisan masyarakat, bahkan semua khalayak, yang dicetuskan oleh tokoh-tokoh dan
badan-badan khusus dengan berbagai kajiannya yang cukup panjang. Dan yang sekarang ini mungkin hanya bisa dibilang
sebagai dokumen negara atau surat warisan para leluhur yang harus disimpan
rapat-rapat agar tidak menguap. Kecenderungan saya atas apa yang telah terfikir
dan terucap bukannya tidak beralasan, melihat pancasila sekarang ini tak
ubahnya hanya sebagai goresan-goresan sajak indah yang hanya bisa
dikumandangkan. Pancasila nampaknya belum bisa mendarah daging pada kegiatan
non formal kita. Pancasila seakan-akan tak mempunyai ruang untuk bisa hidup
selain pada acara-acara tertentu, lebih seringnya seperti upacara bendera di
pendidikan-pendidikan formal dan semacamnya.
Melihat fenomena yang sedikit meresahkan hati
tersebut, Pancasila merupakan tema yang pas dan tepat untuk masa kini (semoga
tak juga untuk masa mendatang). Bila NU pada muktamarnya kemarin di Makassar
menyerukan agar NU kembali ke khittahnya yaitu awal di bentuknya organisasi
islam terbesar di Indonesia, maka Pancasila adalah khittah bagi negara agar
mengaktualkan kembali lima dasar negara tersebut. Akan tetapi nihil sekali
semua itu dapat terealisasi jika kita enggan mengemban nilai Nasionalisme dalam
diri kita. Dan kiranya itulah yang menjadi tonggak utama pada pembahasan kali
ini.
Anda masih ingat saat menjelang runtuhnya
orde baru?, Bangsa kita di guncangkan dengan adanya pergolakan dasyhat 2
komponen yang sangat penting, yakni aparat TNI dengan oknum-oknum mahasiswa dan
berbagai macam aktifis di jakarta. Ya, saat itulah perlawanan hebat antara
aparat TNI dan oknum-oknum tersebut yang menandai awal dari Reformasi di negeri penuh perjuangan ini. Waktu itu
aparat TNI seolah-olah “dilawankan” oleh sebagian orang dengan para mahasiswa,
aktifis, dan berbagai macam elemen masyarakat yang menuntut adanya pembaruan
setelah lama terpuruk dan mengancam kesejahteraan negara.
Menurut hemat penulis, pertikaian hebat yang
menyita waktu cukup lama tersebut antara aparat dan mahasiswa tidak ada yang
dapat disalahkan. Karena aparat tersebut meskipun bertindak secara tragis, tapi
mereka mengemban apa yang telah menjadi kewajibannya,
yakni menjaga kestabilan dan keamanan negara. Di lain pihak para mahasiswa juga
menuntut apa yang menjadi hak dari rakyat indonesia yang telah lama mereka
harap-harapkan yakni reformasi.
Dari sejarah singkat perjalanan bangsa ini,
mungkin bisa di ambil pelajaran dari dua blok yang bertikai tersebut. Menurut
banyak kacamata masyarakat, kedua pihak tersebut hanya tampak melampaui batas
dari apa yang seharusnya mereka lakukan. Tetapi harus di ingat bahwa apa yang
melandasi mereka tak lain dari buah semangat Nasionalisme mereka yang berpacu dengan keikhlasan tugas
masing-masing. Tak mudah memang, mengemban amanat negara yang sudah terpatri
dalam semangat berpatriot di tengah badai kebobrokan Bangsa.
Anda masih ingat pula di satu masa yang lalu,
saat menghormat kepada sang Saka Merah Putih sempat diharamkan?,
Setelah ratusan tahun di jajah dan setelah mendapatkan apa yang telah lama
mereka impikan, tiba-tiba mereka disuruh kembali untuk melepaskannya,
Lucu bukan?. Satu yang jadi pertanyaan,“mengapa sampai diharamkan?”, “Haram hormat pada Sang Saka Merah Putih, karena itu
Musyrik!!” jawab-nya. Dengan Entengnya
lontaran kalimat itu keluar dari lidah tak bertulangnya, lebih-lebih Musyrik
yang menjadi alasan. Mungkin orang tersebut mengikuti Thoriqot Terlalu Islam.
Hahaha.... Ternyata sudah dari dulu Nasionalisme bernegara hanya memang
perilaku tolol yang harus ditertawakan.
Mungkin bangsa kita sekarang ini butuh saling
pengertian atau konferensi nasional yang berakar dalam semangat bernegara serta
memberi dan menerima, sehingga sadar betul apa yang seharusnya mereka kerjakan
dan tidak lalai dari buah tindakan tersebut apa yang harus mereka berikan untuk
negara. Tentu hal itu tidak mudah bila tidak ditopang dengan pemanfa’atan yang
semestinya (profesional), apa yang menjadi kelebihannya dan tidak berusaha
untuk memanfaatkan celah dan kelemahan orang lain.
Selain itu,
yang perlu kiranya adalah belajar dari kesalahan yang telah terlewatkan, agar
kekhianatan itu tidak terulang kembali dan mengenang kejayaan bangsa kita
Indonesia sebagai sumber inspirasi yang menjelma menjadi kekuatan yang sangat
hebat. Tapi kita jangan terlalu menengok ke belakang dan meremehkan apa yang
kita hadapi saat ini. Artinya sudah saatnya kita kembali ke Khittah awal kita,
yaitu tujuan di bentuknya sutau negara.
Jika hal-hal tersebut dapat terealisasi,
cepat atau lambat perataan beban dan kesempatan tak lagi hanya berupa tong
kosong yang nyaring bunyinya. Karena pembangunan demi pembangunan di segala
bidang akan silihberganti berproses secara otomatis. Dan image buruk pancasila
pun akan pudar dengan sendirinya dari ke-tuan-an yang kaya raya
menjadi Ke-Tuhan-an yang maha Esa, kemanusiaan sipil yang biadab
menjadi kemanusiaan yang adil dan beradab, perceraian indonesia
menjadi persatuan indonesia, kesewenang-wenangan yang di pimpin oleh penjabat dalam ucapan dan
tindakan menjadi kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan, dan kecurangan sosial bagi seluruh rakyat
indonesia menjadi keadilan
sosial bagi seluruh rakyat indonesia.
Dengan begitu, Garudapun tak lagi melipat rapat sayapnya karena malu, justru ia
malu jika tetap melipat rapat-rapat sayapnya.
Wahai Presiden Kami yang baru
Kamu harus dengar suara ini
Suara yang keluar dari dalam goa
Goa yang penuh lumut kebosanan
Walau hidup adalah permainan
Walau hidup adalah hiburan
Tetapi kami tak mau dipermainkan
Dan kami juga bukan hiburan
Masalahnya sekarang satu, perubahan yang
dimaksudkan tersebut apakah karena kita sadar dan merasa perlu dengan
persiapan-persiapan yang matang?, Bila tidak,
maka kita tunggu saja perubahan tersebut akan terjadi dengan sendirinya karena
adanya desakan sejarah. Atau bahkan malah sebaliknya, sedikit demi sedikit luka
itu akan semakin parah dengan sendirinya karena adanya tuntutan zaman yang
semakin edan.
Terbanglah garudaku
Singkirkan kutu-kutu di sayapmu
Berkibarlah benderaku
Singkirkan benalu di tiangmu
Jangan ragu, dan jangan malu
Tunjukkan pada dunia
Bahwa sebenarnya kita mampu
Mentari pagi sudah membumbung tinggi
Bangunlah putra-putri ibu pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi
Setelah itu kita berjanji
Tadi pagi, esok hari atau lusa nanti
Garuda bukan burung perkutut
Sang saka bukan sandang pembalut
Dan coba kau dengarkan
Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut
Yang hanya berisi harapan
Yang hanya berisi
hayalan
“Iwan Fals”
Subscribe to:
Comments (Atom)
Search
Popular Posts
-
Muhammad Syifa El Zain Ratapan Anak Tiri Dikisahkan, ada sebuah keluarga rukun yang terdiri dari ayah, ...
-
Jenis Buku : Buku Fiksi Judul Buku : The Chronicles of Ghazi Pengarang ...
-
Apa kamu ingat ketika kita besama .. melewati segala rintangan yang ada didepan mata .. Apa kamu ingat saat kita tertawa ...
-
Pertemananku Terhalang Geng Kucing Dikisahkan pada suatu sekolah ada dua geng yang saling bermusuhan, yaitu geng tikus da...
-
PERPISAHAN Dulu.... Ketika Aku masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah Aku dan temanku selalu tertawa. Penuh senda gurau. Se...
Categories
Blog Archive
Total Pageviews
Blog Archive
Powered by Blogger.