Selamat datang di blog saya. Semoga apa yang anda cari ada di sini. Selamat berkunjung :)

Monday, 30 June 2014

On 20:41:00 by Unknown in    No comments
Adzan shubuh sayup dari kejauhan. Kerik bunyi jangkrik sudah berangsur hilang dari pendengaran. Suara keciprak air dari tiap-tiap kamar mandi asrama mengiringi sayup bunyi adzan yang terdengar sendu. Satu persatu penghuni asrama berhamburan keluar menuju masjid. Kabut pagi masih menyelimuti . Kepulan asap dari tungku-tungku penduduk sekitar membumbung tinggi menyebrangi atap-atap gedung.
           “Hasan bangun, ayo siap-siap ke masjid” seru Hamzah. “Iya Hamzah” jawab Hasan dengan pelan. “Aku tunggu ya Hasan” seru Hamzah. Duduklah Hamzah di atas kasur sambil menyiapkan baju shalat untuk Hasan. “Hasan, ini bajumu. Dan ini tongkatmu. Pelan-pelan ya Hasan” ujar Hamzah. Setelah semua itu, Hamzah menuntun Hasan untuk pergi ke masjid.
*  *  *
            Hasan adalah seorang anak yang terlahir tak seberuntung anak lainnya. Ia terlahir dalam keadaan buta. Hamzahlah yang menemaninya, membantunya, menghiburnya, dan menjadi penyemangat hidupnya. Walaupun suratan tak bisa ia lihat, tapi siratan selalu bisa ia dengar.
            Suatu saat ketika sang matahari mulai menampakkan sinarnya, Hasan terduduk lemah di atas sebuah kursi yang sudah usang. Ia terduduk sendiri tanpa arti. Namun, kesendiriannya itu pudar ketika sang sahabat yang telah ditunggu-tunggu datang. Seperti biasa,  Hasan selalu ingin mendengar alunan merdu dari bacaan Al-Quran yang Hamzah bacakan setiap hari. Memang, Hasan tidak bisa membaca Al-Quran. Tetapi ia tetap bisa mendengar sahabatnya membacakannya. Hamzah selalu memberinya semangat. Selalu membesarkan hatinya untuk menerima suratan takdir.
            Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Ini adalah saat dimana tali persahabatan mereka akan menjauh. Inilah saat-saat perpisahan untuk mereka. Ketika Hamzah akan melanjutkan pencarian ilmunya ke pesantren lain, Hasan akan tetap mengabdi di pesantren tersebut. “Hasan, aku mohon tolong jaga tali persahabatan kita. Aku akan selalu mengingatmu sebagai sahabat yang sangat aku banggakan. Kamu harus terus semangat. Jangan pernah ada kata mundur. Jadikanlah kekuranganmu sebagai kelebihanmu. Aku akan selalu mengingatmu San” kata Hamzah. “Iya Zah, aku juga akan selalu mengingatmu. Akan selalu kuingat pesan-pesan yang selalu kau katakana padaku. Tapi, sekarang gak ada lagi yang jadi temanku, gak ada lagi yang akan membacakan Al-Quran untukku, siapa yang akan membantuku ?” jawab Hasan dengan lirih. ”Hasan, innallaha ma’ana. Allah selalu bersama kita. Bersabarlah. Allah akan selalu ada untukmu. Ingatlah aku. Aku adalah semangatmu” seru Hamzah. “Baik Zah, akan kuingat pesanmu itu” ujar Hasan “semoga kau lekasan di sana”. ‘Iya San. Aku pergi ya. Assalamu’alaikum” kata Hamzah. “Walaikum salam” jawab Hasan.
*  *  *
            Sepuluh tahun berlalu, kedua sahabat itu tidak tahu dimana keberadaan sahabatnya sekarang. Tapi, suatu hari takdir pertemukan mereka. Tanpa mereka duga, mereka bertemu di sebuah masjid. Di sana Hamzah mendapati Hasan sedang duduk di teras masjid. Seketika itu Hamzah langsung menghampiri sahabatnya tersebut. Sebuah kebahagiaan yang tiada tara menyelimuti jiwanya. Hamzah langsung menyapa Hasan dengan nada gembira. “Hasan…!!!!” seru Hamzah. “Iya, siapa ya ?” jawab Hasan. “San, aku Hamzah, sahabatmu. Kamu masih ingat kan ?” kata Hamzah. “Hamzah ? itukah kau ?” jawab Hasan dengan nada naik. “Iya San. Aku Hamzah Assad Abdul Jabbar. Kamu Hasan Syadzilly kan ?” kata Hamzah. “Iya benar. Hamzah, sahabatku, akhirnya aku bisa bertemu lagi denganmu. Sudah lama sekali aku tidak bertemu denganmu Zah. Bagaimana keadaanmu ? baik-baik saja kan?” kata Hasan. “Aku baik-baik aja San. Kamu gimana ? pasti baik kan ?” jawab Hamzah. “Aku masih tetap seperti ini. Tetap menjadi seseorang yang buta tanpa ada sesuatu keindahan yang bisa dilihat” jawab Hasan. “Udah San, jangan ngomong gitu mulu ah. Keep smile and woles. Jalani hidup dengan santai. Jangan kau fikirkan semua beban yang ada di pundakmu” ujar Hamzah. “Iya Hamzah sahabatku…” kata Hasan. Ketika itu mereka berdua mengobrol, bercanda, melepas rindu antara satu sama lain hingga petang tiba. Ketika petang tiba, Hamzah mengajak Hasan untuk menginap di rumahnya dan Hasan pun menyetujuinya. Hamzah kemudian menuntun sang sahabat ke rumahnya.
            Ketika sampai di rumah, Hamzah menuntun Hasan untuk wudlu. Setelah itu mereka berdua shalat berjamaah. Sesuatu terjadi ketika mereka telah selesai shalat. Hamzah jatuh pingsan. Hasan mendengar suara jatuhnya Hasan. “Hamzah, Hamzah? Kamu kenapa Zah ? kamu gak apa-apa kan ? Zah ? jawab aku” seru Hasan berulang kali “Tante, Hamzah kenapa ?”. Ibu Hamzah pun langsung menghampiri Hamzah yang sedang terjatuh lemah. “Nak, kamu kenapa nak ? ayo bangun, lihat wajah ibu. Nak ? bangun nak, bangun” seru ibu Hamzah. Seketika itu ibu Hamzah langsung merangkul Hamzah dan memindahkannya ke atas kasur. “Nak, ayo bangun. Kamu kenapa nak ? jawab ibu nak” seru ibu Hamzah dengan nada panik. Harap harap cemas dia menunggu, menunggu dan menunggu. Hasan menghampirinya untuk mengetahui kondisi Hamzah. “Tante, Hamzah kenapa ? dia gak kenapa-napa kan Tante ?”Tanya Hasan dengan cemas. “Tante gak tau San. Mudah-mudahan saja dia gak kenapa-napa”. Mereka berdua menunggu Hamzah sampai Hamzah terbangun.
            Sekian lama menunggu, akhirnya Hamzah bangun dengan kondisi sangat lemah, lemah sekali. “Bu, kepala Hamzah sakit” kata Hamzah. “Sakit kenapa ? kita ke dokter yuk” jawab sang ibu. “Gak mau bu. Hamzah gak mau ke dokter” jawab Hamzah. “Ya udah kalau kamu gak mau. Nanti ibu bikinkan obat ya” seru sang ibu. “Iya bu”. “Hamzah, kamu gak apa-apa kan ?” Tanya Hasan. “Aku gak apa-apa ko San, tenang aja” jawab Hamzah. “Oh, ya udah kalau kamu gak apa-apa”. “Iya San”.
*  *  *
            Suatu malam, ketika Hamzah sedang merasakan sakitnya, ia menulis dua buah surat. Ia menyimpan surat itu di atas mejanya. Kedua surat itu tertuju untuk orang tua dan sahabatnya. Ketika itu, ia merasa seakan ia akan melepas nyawanya. Ia menangis sekencang mungkin. Orang tuanya datang ke kamar Hamzah dan langsung membantu Hamzah. Tapi, ketika akan dibawa ke rumah sakit, nyawanya tak tertolong lagi. Ia meninggal dalam usia muda. Orang tuanya menangis tak kuasa. Ibunya tidak ingin kalau Hasan langsung mengetahui kematian sahabatnya. Keesokan harinya jasad Hamzah langsung dikebumikan dan berpisah untuk selamanya.
            Ketika ibu Hamzah sedang merapikan kamar Hamzah, ia menemukan dua buah surat di atas meja Hamzah. Kedua surat tersebut berwarna hijau dan biru. Di surat hijau tertulis “untuk ibu dan ayah”. Dan di surat berwarna biru tertulis “untuk sahabatku, Hasan”. Sang ibu pun membuka surat berwarna hijau tersebut dan mulai membacanya.
“Assalamu’alaikum wr wb
Untuk ibu dan ayah yang tercinta.
Ibu, ayah, maafkan Hamzah ya. Mungkin Hamzah selama ini tak bisa berbakti kepada ayah dan ibu. Anak bisa menjadi seorang anak yang ibu dan ayah harapkan. Ibu, ayah, sebenarnya sudah lama aku mengidap penyakit tumor otak. Aku sengaja tidak memberitahukan ini agar ayah dan ibu tidak cemas memikirkanku. Aku tidak ingin membuat kalian sedih. Aku hanya ingin melihat kalian tersenyum. Doakan aku di sana ya. Aku akan selalu merindukan ibu dan ayah. Oh ya. Bu, tolong donorkan mataku ini untuk Hasan. Aku ingin dia bisa melihat. Ketika dia sudah bisa melihat, tolong berikan suratku yang berwarna biru. Aku selalu saying ibu dan ayah.
Wa’alaikumsalam wr wb”
            Itulah sepucuk surat yang Hamzah tujukan kepada ibu dan ayahnya. Ibu Hamzah tak kuasa menahan tangis ketika ia membaca surat tersebut.
            Keesokan harinya ibu Hamzah langsung mendonorkan mata Hamzah kepada Hasan. Tanpa mengetahui siapa yang mendonorkan mata kepadanya, ia langsung menjalani operasi di sebuah rumah sakit. Setelah operasi berhasil dilakukan, ibu Hamzah memberikan surat berwarna biru kepada Hasan.
“Hai sobat, apa kabar ? aku adalah Hamzah Assad Abdul Jabbar. Jika kau membaca surat ini, maka kau telah memakai mataku. Gunakanlah mataku sebaik mungkin. Mataku adalah matamu. Aku akan selalu ada dalam semangatmu. Kenanglah aku ya sobat. Aku akan merindukanmu. Jaga dirimu baik-baik ya”.
            Surat yang sangat mendayu telah ia baca. Hanya deraian air mata yang bisa ia keluarkan. Tak ada lagi yang bisa ia katakan. Hanya surat itulah yang menjadi kenangan terakhir dari Hamzah untuknya. Ia hanya terdiam dengan semua memori tentang mereka berdua.

            Setelah semuanya berakhir, setiap hari Hasan selalu berziarah ke makam Hamzah. Hanya tangisan dan tangisan yang selalu ia bawa. Tak ada lagi kebahagiaan dalam hidupnya. Sekarang hidupnya hanya terasa hampa tanpa seorang sahabat yang menemani. Hanya satu yang bisa ia katakan, “Selamat jalan teman, semoga kau tenang di alam sana. Aku akan selalu merindukanmu. Good bye my best friend.”

Semoga bermanfaat :)

0 komentar:

Post a Comment