Friday, 4 July 2014
On 19:59:00 by Unknown in Kumpulan Cerpen No comments
Pukul sepuluh pagi, kereta tiba di stasiun. Terlambat lima belas menit karena perbaikan jalur, sebuah hal yang sangat tidak biasa terjadi. Rumor mengatakan bahwa ada sekelompok teroris yang merusak magnet rel, yang lainnya menuduh kelompok anti-pemerintah, dan lain-lain. Namun aku tahu bahwa semua itu tidak benar.
Rel rusak karena putusnya arus. Sumber listriknya, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir yang terdapat di Cirebon, mengalami kerusakan pagi ini. Aku tahu karena aku bekerja di sana, dan belum ada sejam lalu aku dikabari kerusakan tersebut.
Kereta mulai meluncur, tanpa suara, secepat peluru menuju Jakarta. Aku bersandar di kursiku, menghela napas pelan. Minggu ini bukanlah minggu yang baik, apalagi dengan semua investigasi yang dilakukan terhadapku dan seluruh badan keuangan yang kukepalai.
Setelah pikiranku terasa lebih baik, aku meraih koperku dan mengeluarkan koran hari ini yang ku beli di stasiun. Sebagian besar isinya adalah berita internasional, dan nyaris semuanya adalah mengenai krisis ekonomi di Amerika Serikat. Negara tersebut memutuskan untuk meminjam uang lagi ke Cina, semalam. Padahal ku pikir keputusan mereka untuk menjual tanah mereka ke Brazil sudah cukup buruk. Sepertinya mereka sangat putus asa.
“Permisi bu, apakah ibu perlu baik-baik saja?”
Aku menoleh dan melihat seorang ibu-ibu duduk di kursi beberapa meter dariku. Wajahnya tampak agak pucat, dia berkeringat dan menggigil. Dia mendongak saat seseorang berjalan mendekatinya, berdiri di depannya dan menanyakan pertanyaan barusan.
Salah. Bukan seseorang, melainkan sebuah robot.
“Sebenarnya… saya agak demam,” Ibu-ibu tersebut berkata. “Tapi tidak apa-apa… beberapa hari lagi saya akan ke dokter.”
Robot itu tak berwajah. Di lokasi yang harusnya terdapat sebuah kontur hidung, mulut, dan apapun yang membentuk wajah pada manusia normal, padanya hanya terdapat sebuah bidang mulus kosong. Putih, tanpa ekspresi. Namun dari caranya menunduk, postur tubuhnya, hingga posisi lengannya saat dia berbicara dengan ibu-ibu tersebut, seolah terpancar segenap rasa pengertian yang sangat tinggi.
Dia mengangguk. Setelah diam beberapa saat, robot itu berkata, “Medis kereta akan tiba di sini dalam lima belas detik, bu. Mohon menunggu sebentar.”
“Ah, tidak usah…” kata si ibu, menggeleng. “…saya tak apa-apa kok, cuma demam biasa…”
“Tidak apa-apa. Selama ibu berada di kereta ini, segala kondisi ibu, dari kesehatan, keselamatan, hingga kesejahteraan ibu, adalah tanggungjawab kami,” kata robot itu.
Sebuah robot berlari melewati depanku dengan sangat cepat, gesit dan anggun dalam tiap langkahnya. Aku memandangi saat robot tersebut, yang memiliki corak merah muda di bagian dadanya, berhenti di depan si ibu-ibu dan mengulurkan telapak tangannya, yang bersih dan polos, ke pergelangan tangan ibu-ibu tersebut.
Sebuah robot berlari melewati depanku dengan sangat cepat, gesit dan anggun dalam tiap langkahnya. Aku memandangi saat robot tersebut, yang memiliki corak merah muda di bagian dadanya, berhenti di depan si ibu-ibu dan mengulurkan telapak tangannya, yang bersih dan polos, ke pergelangan tangan ibu-ibu tersebut.
Aku memalingkan wajahku sementara si robot medis memberikan sebuah obat kepada si ibu, dan menunggunya menelannya. Dalam beberapa menit kondisi si ibu akan membaik, dan kemudian berterima kasih kepada kedua robot tersebut, kemudian keduanya akan kembali berjalan, berkeliling kereta untuk menjaga semua penumpang.
—
Kalender menunjukkan tahun 2014 saat generasi pertama robot perfect-humanoid melangkah di daratan. Dua kaki, dua tangan, tubuh yang serupa dengan manusia, berbahan polycarbon, memiliki rangka yang sangat kokoh, dan dapat di program sesuai dengan kebutuhan, dengan segera mereka menjadi perhatian masyarakat dunia. Pembuatnya, seorang ilmuwan dari negara Indonesia, mematenkan mereka dan meneken kontrak dengan perusahaan mobil lokal untuk memproduksi mereka secara masal.
Hasilnya sangat sukses. Tahun 2015, berbagai bidang pekerjaan vital dan berbahaya di berbagai penjuru dunia di ambil alih oleh robot. Perusahaan tersebut, perusahaan mobil lokal dari sebuah negara yang terpuruk akan korupsi mendadak berubah menjadi raksasa teknologi internasional. Produksi dan pengembangan robot terus berlanjut, dengan tujuan utama sebagai pembantu manusia. Tak ada satu profesi pun yang tak bisa dilakukan mereka.
Tahun 2017, melalui kerjasama dengan berbagai pihak, perusahaan tersebut mengubah nama mereka menjadi Company dan mulai membagikan robot-robot secara cuma-cuma ke berbagai tempat di Indonesia. Mereka menjadi pekerja bangunan, pekerja tambang, pekerja umum, hingga pembantu rumah tangga. Dana perawatan di tanggung oleh pemerintah, dan khusus untuk robot-robot yang bekerja di industri, biaya di tanggung industri tersebut.
Selama beberapa belas tahun terakhir, setelah meninggalkan sistem ekonomi liberal, negara Indonesia semakin maju sementara negara-negara Barat mulai lumpuh karena ekonomi. Namun kemajuan tersebut tidaklah cukup. Korupsi dan kejahatan masih kental, sangat amat kental di Indonesia. Hingga akhirnya, pada tahun 2019, seorang Presiden yang baru terpilih – seorang pemuda, ambisius, idealis, dan keras – memerintahkan Company untuk mulai memproduksi robot guna kepentingan penegakan hukum.
Sempat ada kontroversi di sana. Pihak kepolisian menentang rencana tersebut, namun setelah uji coba lapangan, terbukti bahwa para robot bisa lebih efektif dalam mengatasi berbagai masalah hukum di masyarakat. Dan bagaimana tidak? Mereka kuat. Mereka tangguh. Mereka tidak mengenal toleransi terhadap pelanggaran peraturan. Jika kau melanggar hukum, mereka akan datang dan menangkapmu, sangat sederhana.
Para robot juga mulai digunakan di peradilan. Sistem kecerdasan buatan yang mereka miliki terbukti mampu memberikan netralitas, perhitungan, sekaligus kalkulasi yang luar biasa dalam pengambilan keputusan. Lidah sengit para pengacara tidak bisa membela orang yang benar-benar menyalahi hukum.
Nah, dari berbagai kesuksesan itulah, para robot mulai dimanfaatkan untuk pemberantasan korupsi. Tak ada satu pun koruptor yang lolos. Meski hanya sekedar mencuil, pasti tak akan lolos. Para robot adalah penyidik yang luar biasa, mampu mengakses dan mengolah data dengan keefektifan puluhan kali kemampuan manusia.
Dan karena itulah, aku duduk di kotak ini saat ini.
“Audit bulanan. Saya adalah seorang kepala baru di bagian tersebut, baru bekerja beberapa bulan, namun saat itu saya sudah bisa tahu bahwa ada yang tidak beres. Jumlah uang yang masuk dan yang keluar tidaklah sama, dan itu sudah terjadi selama tiga bulan terakhir. Laporan keuangan di atas kertas menyatakan semua beres, namun aliran uang yang terpantau di sistem berbeda. Saat itulah saya tahu bahwa ada yang salah.”
“Korupsi terjadi.”
“Ya, korupsi terjadi,” aku mengiyakan, memandang robot di hadapanku. Baru kali ini aku menemukan sebuah robot yang berfungsi sebagai jaksa penuntut. Aku sudah mendengar cerita-ceritanya, ya, tapi baru kali ini aku benar-benar melihatnya dan mengalaminya sendiri.
“Dan saat Anda menyadari hal tersebut, apa yang Anda lakukan?” Robot tersebut bertanya.
“Saya melapor kepada KPK. Mereka mencatat semua laporan saya, dan setelah itu mereka mulai melakukan penyidikan. Saya memberitahu mereka bahwa kemungkinan besar korupsi terjadi di bagian perbengkelan.”
“Kenapa Anda berpikir seperti itu?”
“Karena laporan keuangan yang salah tersebut diberikan oleh seseorang yang bekerja di bagian tersebut. Saya juga menyarankan agar orang tersebut diselidiki.”
Jaksa penuntut, yang adalah sebuah robot, Dia menoleh kepada hakim, sebuah robot lain – dari golongan dengan ukuran tubuh lebih besar dan kemampuan olah data lebih tinggi – lalu mengangguk. Tak ada pertanyaan lagi.
Aku menghela napas, berjalan kembali ke kursiku sembari menoleh ke meja terdakwa. Putera, seorang pekerja berusia 40-an tahun, menatapku balik dengan mata merah. Dia mengenakan pakaian tahanan, penampilannya acak-acakan, dan seluruh urat wajahnya menunjukkan penyesalan mendalam. Aku tak berani membayangkan perlakuan seperti apa yang dia terima sebagai seorang koruptor di rumah tahanan.
Putera tidak didampingi pembela. Sudah tak ada lagi pengacara yang mau membela tertuduh koruptor selama dua tahun terakhir. Reputasi mereka pasti akan langsung jatuh bila melakukannya. Tuntutan dari masyarakat untuk memberantas korupsi mengalahkan segala hal lainnya.
Beberapa menit kemudian, giliran Putera untuk ditanyai. Jaksa penuntut maju, dan kali ini, alih-alih berbicara dan bersikap dengan sopan dan baik seperti yang dia gunakan kepadaku, dia berdiri sangat dekat dengan kotak terdakwa, menjulang di hadapan Putera dan menunduk dengan sangat merendahkan. Aku mencoba membayangkan apa yang Putera sedang lihat sekarang, dan aku mendapati tanganku gemetar.
“Bisa kau ceritakan apa sebenarnya alasanmu melakukannya?”
Suara yang mengancam dan tegas. Nada yang mengintimidasi sekaligus bersimpati, bergema hingga ke seluruh ruangan. Dia sangat mengerti caranya memancing informasi keluar dari seorang manusia.
Putera bergetar, dan sejenak kukira dia akan menangis, luluh seketika. Namun ternyata tidak. Dia menarik napas dalam-dalam beberapa kali, kemudian menjawab, dengan suara yang serak dan parau seolah menahan tangis selama berabad-abad.
“Namanya Ani. Dia temanku saat SMP sampai SMA. Perempuan cantik, juara kelas, anggota OSIS, dan teman karibku. Aku… aku menyukainya sejak saat pandangan pertama, kalian tahu…” dia mencoba tersenyum, memandang kami semua, namun yang dia lihat hanyalah para penonton yang menatapnya balik dengan sengit di dalam ruang sidang ini, serta para juri yang tak berwajah. Sia-sia usahanya mencoba menarik simpati.
Air matanya mulai mengalir. Dia melanjutkan, “Aku tak pernah bisa memberanikan diriku untuk menyatakan perasaan kepadanya. Tidak sampai… aku bertemu kembali dengannya empat bulan lalu. Dia berantakan. Dia berbeda dari Ani yang dulu, namun dia masih Ani yang ku kenal. Kami bertemu beberapa kali, aku membantunya dalam banyak hal – mencarikannya pekerjaan, mencarikannya tempat tinggal tetap, dan masih banyak lagi.”
Aku mengangkat alisku sedikit. Aku bisa menebak kemana arah pembicaraan ini.
“Aku hanya… aku benar-benar tak menyangka. Dia berkata dia mencintaiku. Dia berkata dia juga suka padaku. Aku merasa seperti remaja lagi, kalian tahu…” dia terkekeh pelan, menggeleng sedih. “…hal berikutnya yang kutahu, dia mengirimkan sebuah video berisi rekaman kami yang sedang bermesraan.
“Dia mengancamku. Dia bilang dia akan memberitahukan itu kepada istriku, keluargaku, kepada semua orang jika aku tidak memberikannya uang dalam jumlah besar setiap minggu. Aku berhasil memenuhinya selama sebulan pertama, namun…”
“Kau kehabisan uang, dan kau terpaksa mencari jalan untuk memenuhinya,” kata robot jaksa penuntut.
Putra mengangguk pelan, menatap lantai dengan lemah. Banyak orang di ruang sidang ini mengangguk, mengerti bahwa alasannya ternyata adalah karena ancaman wanita. Cukup baru, dibandingkan dengan alasan-alasan yang biasanya mereka dengar.
“Kenapa kau tidak melaporkannya?” tanya robot penuntut.
“Aku… tidak tahu,” kata Putra pelan. “Mungkin karena… di dalam hatiku, sebenarnya aku masih menyukai dia. Aku masih ingin bersama dengan dia. Makan siang bersama tanpa beban, menghabiskan malam-malam berdua… membicarakan apa-apa yang kami alami bersama saat SMA dulu. Setidaknya itu harapanku… dan meskipun dia tak pernah memberikannya padaku setelah ancaman itu, aku tak pernah berhenti berharap… Tapi aku juga tak ingin kehilangan istriku… Aku tak tahu apa yang harus ku-”
“Jadi kau mengutamakan keegoisanmu, gairahmu, di atas hak-hak orang yang kau rebut karena uang mereka kau curi?” robot penuntut bertanya lagi, menyela Putra dengan keras.
“Ti-tidak, tidak begitu!” kata Putra buru-buru. “Aku – aku hanya mengambil beberapa puluh juta! Aku mengambil uang tersebut dari dana sisa, dana yang toh nantinya akan dikucurkan untuk dana perawatan robot! Uang tersebut tak akan mengalir ke gaji siapapun, tak ada yang rugi -”
“Dana tersebut akan mengalir untuk perawatan para robot pembantu pekerja PLTN. Kau tahu apa yang akan terjadi jika dana tersebut kurang, jika jumlah oli dan bahan bakar mereka tidak mencukupi karena uangnya kurang dari jumlah seharusnya? Bahwa mereka harus di kirim ke pabrik pusat dalam waktu cukup lama, dan mengharuskan para pekerja, para manusia, bekerja sendiri tanpa bantuan? Kau menempatkan mereka dalam bahaya! Kau dengar kerusakan yang terjadi di PLTN hari ini?”
“Ti-tidak, aku tidak mendengarnya! Aku sedang di penjara dan -”
“Dua petugas meninggal. Meninggal, Pak Putra, karena dua robot yang yang biasa membantu mereka sedang di kirim ke pabrik pusat, karena kedua robot tersebut sudah tiga bulan terakhir kekurangan asupan pelumas sebanyak dua belas mililiter! Kemana perginya dua belas mililiter pelumas tersebut, kalau bukan karena uangnya tidak ada, eh, Pak Putra? Dan apakah kau tahu, bahwa kedua petugas tersebut memiliki keluarga, yang satu anaknya akan menikah bulan depan dan yang satu seharusnya akan pensiun empat hari lagi?”
Hening. Semua orang yang di ruang sidang kini mengerti penuh akibat dari korupsi yang dilakukan oleh Putera. Meski tergolong hanya sedikit, dan karena alasan yang cukup manusiawi, namun akibatnya sangat fatal.
Dan sementara Putra mulai menangis, dan robot penuntut mulai berbicara lagi dengan tajam, aku menghela napas dan menatap ke luar jendela. Cuaca cerah, udara bersih. Aku membuka ponselku dan mulai mengetik SMS. Kereta jurusan Cirebon baru akan berangkat enam jam lagi. Mungkin masih ada waktu untuk bertemu dengan temanku, makan siang bersama dan mengobrol selama beberapa jam.
Aku tak mendengar apa keputusan dari hakim, namun dari riuhnya tepuk tangan dan sorakan penuh kemenangan dari sekelilingku, aku yakin betul bahwa hasilnya memuaskan.
Dan aku mulai memikirkan dimana sebaiknya aku makan siang.
On 19:56:00 by Unknown in Kumpulan Cerpen No comments
“Hidup ini ibarat labirin yang hanya mempunyai dua pintu, pintu masuk dan pintu keluar. Ketika telah masuk maka akan ada simpangan berliku yang harus dihadapi walau tanpa seteguk kopi”
Aku mendengus pelan memperhatikan setiap jentik tulisan yang ku buat berulang kali.
Aku mendengus pelan memperhatikan setiap jentik tulisan yang ku buat berulang kali.
“ah kalau begini ceritanya bagaimana kau bisa menjadi penulis sejati?” berucap monolog
“huh sudah lah sudah larut malam, lebih baik aku menulis di dalam mimpiku saja” ucapku mengakhiri pembicaraan kepada diriku sendiri.
“huh sudah lah sudah larut malam, lebih baik aku menulis di dalam mimpiku saja” ucapku mengakhiri pembicaraan kepada diriku sendiri.
Pagi itu adalah selasa dengan cinta, di saat semalam aku benar-benar frustasi dengan hidup yang mengecewakan. Terlebih dengan kenyataan bahwa aku tak pernah mengerti tentang trigonometri atau laju reaksi. Aku juga tak ahli dalam biologi bahkan seni musik pun tak pernah ku ilhami.
Setelah sekian lama berargumen dengan diriku sendiri, akhrinya aku memutuskan untuk bergegas ke sekolah lebih awal. Untung saja jarak sekolah dan rumahku terlampau dekat, hanya butuh 10 menit untuk berjalan kaki.
“Kota medan kali ini benar-benar tumpah dengan desakan air, november yang menutup mentari” ucap seseorang yang mendahuluiku
Aku melihatnya sekilas, dan kemudian tak ku sangka dia adalah yugo. Yugo? Benarkah? Mimpi apa aku semalam?
aku tak berani menatap, hanya bisa tersenyum tak terungkap. dia meninggalkan ku lagi – berulang kali.
aku tak berani menatap, hanya bisa tersenyum tak terungkap. dia meninggalkan ku lagi – berulang kali.
Setelah sampai di kelas, segalanya lebih berbeda. Tidak ada ku lihat percikan air yang menggenang. Suasana tak terkendali, mereka panik. Sementara aku meneguk kopi yang dibungkus dalam botol minumku dengan santai. Suma melihatku sekilas
“sudah siap fisika, ulna?” tanyanya dengan rancu
Aku masih saja melamunkan hujan tadi, hujan yang mempertemukanku dengan yugo
“u-l-n-a? Kau tak mendengarkan ku ya?” ucapnya memaksimalkan tekanan suara
“ah yaa. Aku mendengar perkataanmu, coba ulangi sekali lagi? Hehe” ucapku
“itu sama saja, kau tidak mendengarkan ku. KAU SUDAH SIAP FISIKA, ULNA?” sumi bertanya dengan wajah datar
“ah yaa. Aku mendengar perkataanmu, coba ulangi sekali lagi? Hehe” ucapku
“itu sama saja, kau tidak mendengarkan ku. KAU SUDAH SIAP FISIKA, ULNA?” sumi bertanya dengan wajah datar
Aku langsung meninggalkan sumi dan mencari buku fisika ku, alhasil tak ada goresan tinta yang ku buat sedikitpun. Aku mencoba untuk mencari jalan keluar dari persoalan fisika yang benar-benar membawaku ke dunia fantasi blantara. Seakan aku tercabik-cabik dalam hitungan detik, dalam dekap sang raja rimba atau bahkan Crocodylus porosus. Aku benar-benar tak mengerti. Untung saja ada sumi beserta jawaban fisika sumi yang terbungkus dalam cover buku minimous yang lucu.
Tik-tok-tik-tok tak ku sangka pak burhan datang dengan segala pesona, mereka langsung diam seribu bahasa, begitu juga denganku. Aku tak bisa berkutik sedikitpun. Aku~ selalu kalah dalam materi pembelajaran ini. aku selalu terasingkan. aku~ aku~ aku~
Jam berotasi dengan segala himpunan detik. Waktu berputar tanpa arti, aku sudah bosan mendengar cerita pak burhan. Kopi yang dibuat ibuku telah dingin, tak ada pasokan energi lagi untuk meminum kopi itu. aku mendengus nafas secara perlahan kemudian bunyi bell mengambang di permukaan. Itu bell istirahat kesukaanku
Aku melanjutkan tepak langkah berikutnya, menuju kantin idaman setiap pelajar. Membeli secangkir kopi. Kemudian merasakan canda-tawa teman-temanku. Namun bagian terfavorit adalah melihat senyum yugo. Yugo ada di sana. Di ujung bangku sebelah meja merah.
Aku selalu malu-malu dalam desakan yang temaram, aku tak mengerti tentang segala sanubari. Dahulu, yugo yang memulainya dengan memanggilku “si wajah oriental” dia bilang aku seperti putri malu. Jika disentuh sedikit saja langsung menguncup! Huh menyebalkan.
Waktu tak pernah berhenti dalam aksinya. Dia selalu saja mendahuluiku. Kopiku juga sudah dingin, dan yugo juga sudah meninggalkan ku. Berulang kali meninggalkanku. Sumi mengajakku untuk masuk dan meinggalkan gemuruh kantin. Namun batinku berkata untuk tetap tinggal di kantin. Dan nyatanya sumi berjalan ke kelas tanpa aku.
Di tengah perjalanan di lorong taman sekolah, aku melihat sepotong ubin terepecah belah. Aku mencatat dalam buku labirin merah jambuku
“sungguh kasihan ubin itu. di saat seluruh ubin terlihat luarbiasa, hanya sepotong ubin itu yang terpuruk dalam nasibnya. Kisahnya hampir sama denganku, namun nasibku tidak seburuk itu”
Setelah memperhatikan dengan seksama. Aku agak menggeser ubin itu ke tempat semula, agar sepotong ubin tersebut tidak sendirian, tidak kesepian.
“sungguh kasihan ubin itu. di saat seluruh ubin terlihat luarbiasa, hanya sepotong ubin itu yang terpuruk dalam nasibnya. Kisahnya hampir sama denganku, namun nasibku tidak seburuk itu”
Setelah memperhatikan dengan seksama. Aku agak menggeser ubin itu ke tempat semula, agar sepotong ubin tersebut tidak sendirian, tidak kesepian.
Lantas terjajar sebuah kertas buram berwarna kuning dengan segala tulisan yang menghentak
Lembar pertama:
“Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil”
“Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil”
Lembar kedua:
“jika memang hal itu diperlukan, maka beranikanlah diri anda untuk melakukannya.”
“jika memang hal itu diperlukan, maka beranikanlah diri anda untuk melakukannya.”
Lembar ketiga :
“peluang emas selalu berada satu langkah dari anda. Yang anda butuhkan adalah keberanian untuk melangkahkan kaki pertama”
“peluang emas selalu berada satu langkah dari anda. Yang anda butuhkan adalah keberanian untuk melangkahkan kaki pertama”
Dan lembar terakhir :
“semua karya besar, diawali dengan keberanian untuk membuatnya.”
“semua karya besar, diawali dengan keberanian untuk membuatnya.”
Aku mencerna hal-hal tersebut. Kemudian inisiatifku memintanya untuk menyimpan tulisan-tulisan itu. Aku berjalan menjauhi ubin itu, semakin jauh dan jauh. Hingga sumi menemukan ku dan bertanya mengapa jalanku terseok-seok seperti seorang mafia yang diselidiki polisi.
Aku terdiam seribu kata, tanpa jeda tanpa suara hanya udara yang terdengar. Tiga detik kemudian, aku menceritakannya kepada sumi. Dan sumi tak mau menanggapi, mungkin hanya aku saja yang termotivasi atau aku yang melebihkan arti? Entahlah aku juga tak mengerti.
Siang itu juga ketika sumi dan seluruh isi sekolah meninggalkanku. Aku masih saja menepaki sekolahku. Melihat yugo di tengah-tengah desakan pelajar yang merindukan rumah mereka. Aku memandangnya dari jauh.
“jika memang hal itu diperlukan, maka beranikanlah diri anda untuk melakukannya.”
“jika memang hal itu diperlukan, maka beranikanlah diri anda untuk melakukannya.”
Tiba-tiba saja tulisan tersebut muncul di lorong pemikiran, yugo juga melihatku. Aku memberanikan diri untuk tersenyum. Yugo menghampiriku dengan perawakan langkahnya yang panjang,
aku tak bisa bernafas, segalanya menjadi terdesak. Sungguh sesak sekali
aku tak bisa bernafas, segalanya menjadi terdesak. Sungguh sesak sekali
“ulna kan? Yang rumahnya di kompleks utara?” yugo bertanya memastikan
“eh iya? Kok tau?” aku menjawabnya tanpa sengaja
“kita kan satu kompleks?” yugo menjawabnya juga dengan heran
“eh iya? Kok tau?” aku menjawabnya tanpa sengaja
“kita kan satu kompleks?” yugo menjawabnya juga dengan heran
Setelah heran dan heran menyatu, akhirnya kami tertawa berasamaan. Yugo menemaniku dalam perjalanan pulangku. Aku sungguh bahagia kala itu, yang terpenting karena tulisan di balik ubin itu aku jadi mengetahui ternyata yugo satu kompleks denganku.
Keesokan paginya ketika aku yang telah siap menerima pelajaran pak basuki tentang laju reaksi, suma menghampiri ku lagi
“ulna, ada apa gerangan? Mengapa kau terlihat anteng begini? Seperti bukan dirimu saja” tanya suma dengan heran
“sudahlah jangan terlalu kau fikirkan tentang aku, jalani saja hidupmu” jawabku sambil tertawa
Selepas dari pembicaraan itu, suara pak basuki yang berat menghentikan pembicaraan kami, dia menulis soal laju reaksi di papan tulis putih.
“ada yang bisa menjawab” tanyanya dengan sangat serius
Tak ada yang berani menjawab. Semuanya terkena (bahasa latin dari bisu), termasuk aku juga.
Lagi-lagi fikiranku masih saja menerawang tulisan ubin yang lampau
“Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil”
“sudahlah jangan terlalu kau fikirkan tentang aku, jalani saja hidupmu” jawabku sambil tertawa
Selepas dari pembicaraan itu, suara pak basuki yang berat menghentikan pembicaraan kami, dia menulis soal laju reaksi di papan tulis putih.
“ada yang bisa menjawab” tanyanya dengan sangat serius
Tak ada yang berani menjawab. Semuanya terkena (bahasa latin dari bisu), termasuk aku juga.
Lagi-lagi fikiranku masih saja menerawang tulisan ubin yang lampau
“Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil”
On 13:48:00 by Unknown in Kumpulan Cerpen No comments
“Pohon itu angker. Kau tidak boleh pergi ke sekitar pohon itu. Nanti kau bisa sakit, atau hilang dibawa makhluk hitam besar!” Kata-kata itu yang selalu diucapkan oleh ayahku. Bosan rasanya mendengar kata itu. Aku yang masih polos lantas mempercayainya.
Ayah hampir setiap hari membacakan dongeng kepadaku dengan judul “si makhluk hitam besar”. Entah dari mana cerita itu ia dapatkan. Yang aku tahu hantu si hitam besar memang menjadi tokoh utama dalam cerita mistik di desaku. Makhluk yang ditakuti.
Aku bertempat tinggal di sebuah desa yang bisa dikatakan indah. Desa yang masih menjunjung tinggi adat istiadat dan berpegang teguh pada kepercayaan orang terdahulu. Jelas saja desaku desa yang masih terpencil. Jauh dari peradaban. Pemandangan indah dan udara segar masih dapat dirasakan hingga saat ini. Rumah-rumah penduduk pun masih menggunakan bahan kayu. Bukan sebuah desa namanya jika alam sekitarnya tak dihiasi dengan rindangnya pohon-pohon. Karena jika kau tampaki desaku penuh dengan pohon. Bertambah asri dengan sebuah Pohon beringin besar yang berada tepat di ujung desa. Dimana pohon beringin selalu dikaitkan akan hal-hal mistik. Dikaitkan akan hal-hal gaib. Terlepas dari semua itu memang pohon beringin terlihat angker karena pohonnya yang sangat besar.
Banyak isu mengatakan bahwa orang-orang desa sering melihat penampakan hantu yang sangat menyeramkan. Ada juga yang mengatakan ada makhluk hitam besar yang tinggal di sana. Makhluk tersebut bisa menyesatkan orang atau membuat orang tidak mengenali jalan dan bahkan katanya pernah menyembunyikan orang terdahulu yang sampai sekarang tidak ditemukan. Tapi ada juga orang sering meletakkan sesajen di sana. Entah hajat apa yang mereka inginkan. Yang sering kudengar banyak orang memohon pesugihan dari pohon tersebut berharap makhluk gaib yang ada di pohon tersebut bisa memperlancar rezeki. Terang saja orang-orang di desaku masih tergolong kolot yang masih percaya akan hal-hal gaib.
Mendengar hal-hal tersebut aku sangat takut dengan pohon tersebut. Aku selalu memikirkan si makhluk hitam besar. Si makhluk yang bisa menghilangkan manusia. Jika aku pulang sekolah aku tidak berani menatap ke arah pohon tersebut. Desa nan indah namun sarat akan mistik berbalut kekolotan terasa harmoni jika bersanding. Nyanyian mistik selalu mengalun dari mulut ayahku. Nadanya yang kasar setengah memarahi tak pernah nyaman di telingaku. Mistik. Aku membencinya seperti aku membenci ayahku.
Pada suatu hari aku diajak oleh teman-teman untuk bermain. Waktu itu aku yang masih berumur 12 tahun tepatnya kelas 6 SD. Setelah bosan bermain petak umpet di dekat sungai, tanpa sepengetahuanku teman-teman mengajak bermain ke tempat yang menyeramkan itu. Aku langsung teringat kata-kata ayah si makhluk hitam besar. Dan ternyata niat teman-temanku adalah mengambil sesajen yang sering diletakkan orang-orang desa. Sebenarnya aku sangat takut. Tapi aku berpura-pura berani karena malu dengan teman-temanku. Terang saja aku tidak ingin dicap lelaki penakut.
Teman-temanku dengan lantang mulai memasuki tempat dimana pohon tersebut. Sedangkan aku berjalan perlahan dengan kaki gemetar. Aku mulai berhalusinasi tak karuan. Si makhluk hitam besar. Bisa membuat orang lupa jalan pulang. Aku takut aku akan dibawa makhluk halus ke alamnya. Mulutku mulai komat-kamit tak karuan. Surah-surah pendek yang bisa kubaca, kubaca pada saat itu. Kulempar pandangan mataku pada setiap sudut-sudut tempat itu.
Aku berada tepat di bawah pohon beringin angker yang sangat besar. Sangat gelap karena pohon ini sangat rindang. Akar-akarnya yang bergantung pun bisa dijadikan tali ayunan. Terlihat temanku sangat menikmati perannya menjadi tarzan. Suasana mistik makin terasa dramatis dengan suara-suara hewan sekitar pohon. Tapi aku berusaha memberanikan diri.
Ku lihat ada banyak sekali sesajen, buku yang bertuliskan angka-angka yang tak kumengerti di sekitar pohon tersebut. Teman-temanku pun mulai memungut satu per satu sesajen tersebut kemudian menaruhnya ke dalam kantong kresek.
Sesampainya di rumah aku dimarahi habis-habisan oleh ayahku. Makanan sesajen yang kubawa langsung dibuang oleh ayahku. Beliau sangat marah. Aku bercerita pada ayah kalau disana tidak ada makhluk-makhluk yang menyeramkan. Tidak ada makhluk hitam besar yang membuat orang hilang. Buktinya aku masih bisa pulang dengan selamat. Sedikit pun ayah tidak mempercayaiku malah semakin memahariku. “Kau tidak tau apa-apa, dari zaman kakek nenek orang-orang di desa kita sudah tidak berani mendekati pohon itu. Pohon itu sangat angker. Jangan sekali-kali pergi ke pohon itu lagi!” Wajah ayahku merah padam marah padaku. Aku hanya bisa mengangguk, mengiyakan perkataan ayahku.
Beberapa hari kemudian. Aku yang masih penasaran berniat untuk pergi lagi ke pohon itu. Saat itu ayahku tidak ada di rumah. Sudah larut malam ayah belum juga pulang. Katanya pada ibu pergi ke rumah temannya. Kulihat ibu sudah tidur nyenyak di kamarnya. Aku pun secara diam-diam keluar rumah. Dengan sebuah senter menjadi penerang di setiap langkahku. Sebenarnya aku masih merasa takut. Tapi beberapa hari yang lalu aku tidak merasakan suasana mistik sama sekali. Makanya aku ingin mencobanya sekali lagi. Agar aku bisa mengatakan kepada ayah kalau tempat itu tidak angker. Aku ingin mengatakan kalau pohon beringin itu tidak angker.
Tempat yang kutuju mulai terlihat. Dengan perasaan tidak enak. Terus aku berjalan. Dengan berjalan terseok-seok karena kakiku menginjak akar-akar yang lumayan besar. Ku dengar ada suara berisik sekali. Suara orang tertawa. Hahahaha. Aku pun sangat terkejut. Jantungku berdebar cepat. Si makhluk hitam besar. Suara si makhluk hitam besar. Aku mulai berhalusinasi tak karuan. Dengan memberanikan diri aku berjalan lagi mengiringi suara yang kudengar tadi. Dan tepat aku berada di tengah pohon beringin itu. Sunggguh aku sangat terkejut. Ternyata bukan suara makhluk hitam besar. Tetapi suara orang yang selalu memarahiku pergi ke tempat ini. Dia sedang asyik bermain j*di bersama teman-temannya. Sekarang aku mengerti bahwa dongeng si makhluk hitam besar hanyalah dongeng untuk membohongi anak-anak yang ayahnya seorang penj*di ulung. Makhluk hitam besar adalah ayahku.
On 13:43:00 by Unknown in Kumpulan Cerpen No comments
Orang baik yang selalu bersyukur akan menjadi tokoh yang serba kekurangan dan teraniaya, sedangkan orang jahat akan menjadi tokoh dengan kekayaan berlebih namun angkuh, dan enggan memikirkan sesama-nya. Jika tukar posisi, apakah si miskin yang telah menjadi kaya akan tetap menjadi orang baik yang selalu bersyukur, dan si kaya yang telah menjadi miskin akan tetap egois dan angkuh?
Hanya mereka dan Tuhan yang tahu.
Dan apakah Tuhan sendiri itu benar-benar ada? Atau Tuhan hanyalah sosok yang ‘diciptakan’ imajinasi naif manusia yang mengalami keberuntungan? Mungkin banyak orang yang memiliki pemikiran seperti ini setelah ditimpa hal memilukan yang menghilangkan semangat hidup, bahkan, aku sendiri pernah meragukan keberadaan Tuhan. Bagaimana bocah kelas 2 SMP yang sedang dalam fase labil masih bisa percaya Tuhan yang katanya akan selalu melindungi dan menjaga umat-Nya jika dia dihadapkan kenyataan bahwa ibunya menderita kanker payudara sekaligus kanker paru-paru dan sudah berada pada stadium mematikan?
Semua orang bilang, Tuhan akan mengabulkan doa umat-Nya jika orang itu berdoa dengan tulus. Walaupun begitu, Tuhan hanya akan memberi sesuatu yang ‘dibutuhkan’ umat-Nya, bukan yang ‘diinginkan’.
—
Saat itu bulan Agustus, awal semester pertama di kelas VII. Di sekolah, aku mendapat pesan bahwa papa menelepon pihak sekolah, dan memberitahu bahwa keluargaku sedang membawa mama ke rumah sakit. Aku bukan orang realistis, aku juga tidak bisa menerima sesuatu yang merugikan hidupku dengan ikhlas, walaupun alasannya sudah sangat logis. Entah, apa-apaan perasaanku saat itu. Sedih, kesal, marah… dan yang lebih menyakitkan adalah, seharusnya di saat seperti itu aku menangis.. tetapi aku malah tidak bisa menangis.
Libur lebaran aku habiskan dengan menjaga mama di rumah sakit. Yang bisa kulakukan hanyalah menemaninya, menyuapi makan, memandikannya (atau lebih tepatnya mengusap tubuhnya dengan handuk basah). Aku senang mengipasi dan memijit tangannya. Memang tak akan memberikan efek yang berarti untuk kesehatan mama, tapi aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan..
Dulu, sewaktu kecil, aku senang menyisir rambut mama dan mencabut uban mama. Saat mama mulai sakit, rambutnya memutih, dan ketika aku menyisir rambut mama, ada banyak gumpalan rambut yang menyangkut di sela-sela gigi sisir. Ya, sekarang, tanpa kucabut pun rambutnya akan rontok.
Aku senang mengelus punggung mama sampai mama tertidur. Namun, melihat wajah mama yang tengah tertidur, aku membayangkan, bagaimana jika itu adalah tidur mama yang terakhir? Bagaimana jika saat itu mama berhenti bernafas? Dan bagaimana jika mama enggan membuka kembali kedua kelopak matanya? Aku sungguh ingin menangis jika menatap wajah mama, tapi aku tidak bisa..
Hal menyedihkan tidak berhenti sampai di situ saja. Suatu hari, Pastor datang bersama teman-teman gereja mama. Pastor memberikan sakramen pengurapan/orang sakit kepada mama. Walaupun maksud sakramen itu adalah minta penyembuhan kepada Tuhan, tapi saya yang masih kecil pun tahu bahwa itu adalah sakramen untuk orang yang hampir meninggal, atau mengalami penyakit parah yang sudah tidak bisa disembuhkan.
Beberapa minggu setelahnya, mama dipindahkan ke rumah sakit yang lebih baik dari rumah sakit sebelumnya. Saat aku datang mengunjunginya, mama terlihat lebih segar. Wajahnya cerah, bola matanya memancarkan semangat kehidupan, mungkin itu adalah awal pertanda mukjizat Tuhan, dan aku sangat mensyukurinya.
Namun, banyak kejanggalan di hari itu. Mama biasanya berbicara jika diajak ngobrol, namun di hari itu mama hanya diam saja. Mengangguk dan menggeleng, atau bahkan tak merespon. Diberi makan pun mama menolak terang-terangan, tetapi aku dan keluarga yang lain masih bersikap biasa-biasa saja. Kami menganggap bahwa mama sedang beradaptasi dengan lingkungan barunya, atau mama memang sedang membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri.
Perkiraan kami ternyata salah. Beberapa jam dari saat itu mama mendadak merasa sesak. Ia tiba-tiba berteriak tersendat sambil terus memegangi dadanya. Sontak aku memencet bel perawat sambil berteriak histeris memanggil suster. Papa yang tak tahan menunggu, berlari keluar ruangan, berharap segera menemukan suster. Tak lama dari saat itu, para suster datang berbondong-bondong, kemudian larut dalam kesibukan mereka masing-masing. Ada yang memasang masker oksigen, ada yang mendorong ranjang mama, ada yang memindahkan infus, dan ada juga yang kebingungan menelepon dokter.
Mama pun harus dibawa ke ruang ICU. Aku bisa melihat wajah papa yang dijamah kepanikan. Dari kedua bola matanya yang sayu, aku melihat tetesan air mata yang selama ini tidak pernah kulihat. Papa yang selama ini kukenal sebagai sosok yang tegar, perlahan-lahan menunjukkan kerapuhannya ketika dihadapkan dengan persoalan seperti ini. Bagaimana perasaannya jika nasib orang yang 15 tahun dicintainya bergantung pada dokter, peralatan medis, mukjizat, dan… Tuhan?
Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku, dan menahan diriku untuk tidak menangis. Hanya itu yang dapat kulakukan. Pergerakan suster-suster itu sangat lamban di mataku. Perasaanku berkecamuk melihat mama yang terbaring sesak seakan kesulitan bernafas. Ingin rasanya aku memberikan seluruh nafasku untuk mama. Aku terus memohon kepada Tuhan, aku akan memberikan apapun asalkan mama tetap hidup.
Tak lama kemudian, seorang dokter lari dengan tergesa-gesa menuju ranjang tempat mama dibaringkan. Dokter yang datang terlambat itu ternyata tidak mengubah apapun, yang ia lakukan hanya menaikturunkan tekanan oksigen dan mengelus-elus tubuh mama sambil berwajah panik. Apa gunanya? Semua itu tetap dilakukannya hingga akhirnya mama berhenti bernafas. Hatiku rasanya sakit, air mata yang terbendung selama ini, akhirnya mengalir.. Aku tidak mengharapkan bahwa yang kulihat ini hanyalah mimpi, setidaknya, aku tidak ingin melihat mama meninggal dengan cara yang penuh penderitaan seperti itu. Tanpa sadar, aku mengutuk semua orang. Mengumpat kepada Tuhan meminta nyawa mama dikembalikan. Perasaan marah yang tidak dapat terbendung lagi meledak dari dalam jiwaku, namun perlahan-lahan semua itu menguap ketika kedua tangan papa memeluk badan kecilku..
—
Mama bagaikan oase yang hilang dari dalam hidupku, sepeninggalan mama, rasanya aku kehilangan arah dalam menapaki hidup. Rumah tangga yang mulai berantakan, adik-adik yang masih kecil, ayah yang harus bekerja lebih keras dari biasanya, bukan itu yang aku harapkan untuk kusaksikan di masa remajaku. Sebenarnya bisa saja aku bertindak seperti anak kecil yang menganggap bahwa dirinya belum bisa menerima kenyataan pahit yang telah terbentang luas di depan mata, namun aku sadar bahwa tidak ada gunanya terus-terusan merasa terpuruk. Posisiku sebagai anak pertama membuatku harus berjuang menggantikan sosok ibu di dalam keluarga kecil kami. Aku tidak ingin ada orang lain yang menyesali kematian mama karena kelakuanku yang mengecewakan.
Aku mulai belajar bagaimana cara mengurus pekerjaan rumah, dan mengurus adik. Aku merasakan betapa kesalnya jika masakan yang dibuat tidak dimakan, betapa marahnya jika lantai yang sudah di-pel diinjak-injak oleh adik yang baru pulang sekolah, betapa bahagianya jika pekerjaanku dipuji papa, dan betapa sedihnya jika mengikuti perayaan hari Ibu tanpa kehadiran mama.. Semua itu kulakukan tanpa penyesalan, bahkan aku tetap bersyukur karena walau sepeninggalan mama pun, Tuhan masih mengizinkan aku hidup bahagia bersama papa dan adik-adikku.
Hidup dan mengalami takdir buruk, bukan berarti harus menderita. Dan jika begitu terus mama di surga pun pasti akan bertanya, “kenapa orang yang ditinggalkan tidak bisa hidup dengan tabah?”
Yang jelas, Tuhan itu adil. Di setiap agama-pun sudah ditanamkan persepsi bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan umat-Nya. Setiap manusia juga punya beban dan takdir yang harus ditanggung selama hidup, walau rasionya berbeda-beda. Semua hal itu membuatku seakan mengerti segalanya, dan perlahan mulai mengikhlaskan semua yang terjadi pada mama, pada hidupku, dan pada hidup seluruh keluargaku. Karena kami percaya, Tuhan punya jalan yang indah untuk hidup kami.
Dan jika kalian yang mengalaminya, apakah kalian akan membenci dan mulai meniadakan keberadaan Tuhan? Atau malah lebih bersyukur setelah menemukan hikmah dibalik kejadian yang kalian alami?
On 13:38:00 by Unknown in Kumpulan Cerpen No comments
Kegetiran hidup menyelimuti diriku ketika aku menatap hampa ke layar televisi. Sebuah film hitam putih, “It’s a Wonderful Life” sedang ditayangkan. Film ini adalah salah satu film favoritku sepanjang waktu. Menonton itu hatiku dipenuhi dengan kegembiraan dan gairah. Tapi, kini semua ketidakmustahilan tentang malaikat pelindung dan keajaiban-keajaiban tersebut membuat perasaanku muak.
“Di manakah malaikat pelindung putraku itu berada pada malam hari Natal, ketika roda-roda mobil tersebut menghancurkan tubuhnya,” aku bertanya kepada wajah-wajah riang dalam layar televisi.
“Di manakah malaikat pelindung putraku itu berada pada malam hari Natal, ketika roda-roda mobil tersebut menghancurkan tubuhnya,” aku bertanya kepada wajah-wajah riang dalam layar televisi.
Kemudian aku memandang ke atas dan bertanya dalam hati kepada Tuhan tentang permohonan yang aku ajukan berkali-kali di sepanjang tahun lalu. “Apa yang terjadi dengan keajaiban yang kumohonkan lewat doa-doa kepada Tuhan, tentang keajaiban agar putraku senantiasa dikaruniai keselamatan?”
Kedamaian dan kebahagiaan. Aku tidak bisa membayangkan akan pernah merasakan emosi-emosi itu lagi, tidak ketika putraku yang berusia tujuh belas tahun berbaring dalam makamnya yang ditimbuni tanah basah. Sejak kematian Susilo, aku telah berubah dari ibu dan istri yang menarik serta bahagia menjadi bayangan diriku sebelumnya. Rambutku yang sepanjang bahu kini tampak terjurai kusut. Kulitku yang cokelat sehat kini tampak pucat.
Aku tidak bisa meneruskan dengan cara seperti ini. Hidupku terasa hampa, dan aku telah membuat suamiku, Yanto sengsara. Itulah kenapa pada malam ini, malam Hari Natal, tepat satu tahun sesudah Susilo terbunuh, aku berniat menemani putraku di alam kematian.
Bermacam-macam pil yang aku kumpulkan sepanjang minggu telah lebih dari cukup untuk melakukan tugas itu. Aku akan segera tertidur dan ketika aku membuka mataku nanti, aku sudah akan bersama putraku lagi, Susilo.
Air mata mengaburkan pandanganku ketika aku memegang segenggam penuh pil dengan sebelah tangan kiriku, dan segelas air di tangan kananku. Pikiranku melayang pada suamiku yang sedang terbaring di ranjangnya, tertidur lelap. Dia tidak menyangka istrinya berada di ruang duduk untuk bersiap-siap bunuh diri!
Aku sadar suamiku sangat mencintaiku, dan jauh di dalam lubuk kesedihanku, aku pun sangat mencintai dia juga. Kendati demikian, kasih dan sayang kami tidak mampu menghilangkan rasa sakit yang begitu hebat dalam hatiku yang hancur berantakan. Selain itu, dia jauh lebih tabah ketimbang aku. Dia tidak akan begitu terpengaruh seandainya aku mati, karena dia dengan cepat akan menemukan wanita lain. Bahkan dia mungkin akan dapat memulai kehidupan rumah tangga yang baru.
Aku teringat telah bangun sebelum fajar pada Hari Natal tahun lalu, untuk menyelesaikan membuat roti. Dipenuhi rasa keriangan hari libur, aku bersenandung riang mengikuti alunan-alunan lagu yang berkumandang dari radio selagi aku masih bekerja. Aku sedang mengeluarkan kue kentang dari oven ketika anakku dan suamiku menyelonong ke dalam dapur sekitar pukul Sembilan. Mereka berdua telah bekerja sampai larut, menyiapkan pohon Natal pada malam sebelumnya. Aku pun beberapa malam sudah membantu mereka.
“Selamat Hari Natal, sang penidur!” aku berseru. “Kukira kalian berdua akan tetap molor di sepanjang hari.”
“Selamat pagi sayang,” suamiku menjawab dengan nada masih mengantuk, mengendus udara dekat pipiku. Dia langsung menjangkau poci kopi dan menuang secangkir untuk dirinya sendiri.
“Selamat pagi sayang,” suamiku menjawab dengan nada masih mengantuk, mengendus udara dekat pipiku. Dia langsung menjangkau poci kopi dan menuang secangkir untuk dirinya sendiri.
Kendati kami sudah menikah selama hampir dua puluh tahun, pandangan atas suamiku masih tetap membuat hatiku bergairah. Beberapa kerutan terlihat di sekitar kedua matanya dan uban tipis mulai menghiasi keningnya, namun ia tetap pria paling tampan yang pernah aku lihat.
Susilo adalah duplikat muda ayahnya. Aku nyaris tak percaya waktu telah berlalu sedemikian cepat. Tampaknya dia seperti sedang menghabiskan makan di kursinya yang tinggi di depanku – seminggu yang lalu. Kini, tubuhnya lebih tinggi ketimbang aku dan ayahnya.
“Selamat pagi, Mam,” Susilo menggumam, kemudian melayangkan pandangan ke ayahnya.
“Bagaimana, Mama bersikap riang pada jam-jam seperti ini?”
Suamiku mengangkat bahu dan sambil menenggak kopinya lagi. “Kau tahu bagaimana Mamamu pada hari-hari libur. Ia seperti peri yang menjelma. Bahkan kopinya sendiri beraroma Natal,” dia akan menjawab, mengomentari serpihan kayu manis dan panili yang aku campurkan ke dalam adukan kopi.
“Aku berani taruhan, hanya aku yang punya Mama di seluruh dunia, yang bisa membuat kopi Natal,” Susilo berkata, tertawa-tawa. Aku memukul-mukulkan kedua tangan ke paha, pura-pura merasa dihina.
“Kalian tahu, campuran itu akan menambah selera makan kalian.”
“Yah, tapi kue-kue serabi yang besar mungkin akan lebih menambah selera kami, Mama,” Susilo mengedip-ngedipkan mata pada ayahnya.
“Kedengarannya memang cocok dengan kemauanku. Bagaimana tentang itu Ma?” Yanto bertanya.
Aku menggeleng-gelengkan kepala. “Maaf, tuan-tuan, aku sedang kehabisan bahan-bahannya. Kalian harus menyiapkannya dulu.”
“Tidak bisa Mama, kami tidak mengharapkan jawaban seperti itu,” Susilo bersikeras.
“Aku akan pergi ke pasar. Mama harus mulai menyiapkan kue itu.” Susilo condong ke depan sambil mencium pipiku. “Itulah kenapa Mama selalu menjadi wanita kesayanganku,” dia berkata, mengambil kunci mobilku.
Aku tertawa dan mengingatkannya untuk berhati-hati. Jika aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, aku akan mencekal tangan dan mendekapnya erat-erat tak akan pernah membiarkan pergi.
“Selamat pagi, Mam,” Susilo menggumam, kemudian melayangkan pandangan ke ayahnya.
“Bagaimana, Mama bersikap riang pada jam-jam seperti ini?”
Suamiku mengangkat bahu dan sambil menenggak kopinya lagi. “Kau tahu bagaimana Mamamu pada hari-hari libur. Ia seperti peri yang menjelma. Bahkan kopinya sendiri beraroma Natal,” dia akan menjawab, mengomentari serpihan kayu manis dan panili yang aku campurkan ke dalam adukan kopi.
“Aku berani taruhan, hanya aku yang punya Mama di seluruh dunia, yang bisa membuat kopi Natal,” Susilo berkata, tertawa-tawa. Aku memukul-mukulkan kedua tangan ke paha, pura-pura merasa dihina.
“Kalian tahu, campuran itu akan menambah selera makan kalian.”
“Yah, tapi kue-kue serabi yang besar mungkin akan lebih menambah selera kami, Mama,” Susilo mengedip-ngedipkan mata pada ayahnya.
“Kedengarannya memang cocok dengan kemauanku. Bagaimana tentang itu Ma?” Yanto bertanya.
Aku menggeleng-gelengkan kepala. “Maaf, tuan-tuan, aku sedang kehabisan bahan-bahannya. Kalian harus menyiapkannya dulu.”
“Tidak bisa Mama, kami tidak mengharapkan jawaban seperti itu,” Susilo bersikeras.
“Aku akan pergi ke pasar. Mama harus mulai menyiapkan kue itu.” Susilo condong ke depan sambil mencium pipiku. “Itulah kenapa Mama selalu menjadi wanita kesayanganku,” dia berkata, mengambil kunci mobilku.
Aku tertawa dan mengingatkannya untuk berhati-hati. Jika aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, aku akan mencekal tangan dan mendekapnya erat-erat tak akan pernah membiarkan pergi.
Yanto duduk di dapur dan menemani selagi aku mengaduk-aduk adonan serabi. Kami membicarakan kejutan besar yang akan kami berikan pada putra kami pada hari berikutnya. Kami rasanya tidak sabar menunggu untuk melihat ekspresi wajahnya, ketika dia melihat Honda Tiger yang baru kami beli buat dia.
“Apakah kau benar-benar yakin dia akan menyukai itu?” aku bertanya.
“Itu motor bekas, bukan?” Yanto minum kopi lagi.
“Biarpun bekas, motor itu gagah, mulus dan kuat. Dia akan begitu bangga.”
“Kau tak merasa sangat memanjakannya bukan?” aku bertanya.
Yanto dan aku telah mengharapkan sebuah rumah yang dipenuhi anak-anak, namun Tuhan hanya menganugerahi seorang putra, Susilo. Dia senantiasa menunjukkan sikap sebagai anak yang begitu baik.
“Yah, dia akan memasuki Universitas tahun depan, dan aku ingin Natal ini menjadi waktu yang sangat khusus,” Yanto menjelaskan.
Pikiran tentang putra tunggalku pergi ke kota lain untuk berkuliah membuat air mata memenuhi pandanganku.
“Aku tak ingin anak kita pergi jauh untuk menuntut ilmu,” aku menggumam. Kutaruh kue serabi di atas meja dan kujatuhkan tubuhku ke dalam kedua tangan suamiku yang terentang.
“Ngomong-ngomong tentang anak kita, kemanakah dia pergi?” Yanto bertanya sambil memandang arlojinya. “Seharusnya dia sudah pulang sekarang.”
“Mungkin singgah ke rumah salah seorang temannya, dan tak ingat waktu,” aku menjawab.
Setengah jam telah berlalu, baik Yanto maupun aku mulai merasa gelisah. Bukan sikap Susilo membuat kami menunggu-nunggu dia seperti ini, khususnya dengan kue-kue serabi di atas wajan. Mendadak telepon bordering dan Yanto menjangkau gagangnya.
“Itu mungkin dia,” aku berkata, mendesahkan perasaan lega.
Petunjuk waktu oven berbunyi, dan aku segera mengeluarkan kue-kue serabiku. Aku memutar tubuh ketika mendengar Yanto menjatuhkan gagang telepon ke atas lantai. Wajahnya nampak tegang.
“Ada apa?” aku bertanya, rasa panik mulai memenuhi dadaku.
“Yanto, apakah itu? Siapakah yang menelpon?”
“Susilo tertabrak,” dia menjawab seolah-olah tak percaya apa yang sedang dikatakannya.
Jantungku terasa membeku dalam dada.
“Oh, tidak! Itu mungkin hanya kekeliruan saja. Dia sedang pergi ke pasar.”
“Yang menelepon itu Pak Polisi. Mereka sedang membawa Susilo ke RSCM,” dia menjelaskan.
Perasaan shock yang mula-mula melanda diri kami berubah menjadi ketakutan yang sangat mencekam, ketika Yanto melanggar segala peraturan lalu-lintas, meluncur sekencang-kencangnya melintasi kota menuju rumah sakit pusat. Namun itu masih belum cukup cepat bagiku. Dengan diam-diam, aku berdoa agar Susilo tidak terjadi apa-apa. Aku menatap Yanto untuk memperoleh kepastian, namun dia pun sama-sama takutnya seperti aku.
“Apakah kau benar-benar yakin dia akan menyukai itu?” aku bertanya.
“Itu motor bekas, bukan?” Yanto minum kopi lagi.
“Biarpun bekas, motor itu gagah, mulus dan kuat. Dia akan begitu bangga.”
“Kau tak merasa sangat memanjakannya bukan?” aku bertanya.
Yanto dan aku telah mengharapkan sebuah rumah yang dipenuhi anak-anak, namun Tuhan hanya menganugerahi seorang putra, Susilo. Dia senantiasa menunjukkan sikap sebagai anak yang begitu baik.
“Yah, dia akan memasuki Universitas tahun depan, dan aku ingin Natal ini menjadi waktu yang sangat khusus,” Yanto menjelaskan.
Pikiran tentang putra tunggalku pergi ke kota lain untuk berkuliah membuat air mata memenuhi pandanganku.
“Aku tak ingin anak kita pergi jauh untuk menuntut ilmu,” aku menggumam. Kutaruh kue serabi di atas meja dan kujatuhkan tubuhku ke dalam kedua tangan suamiku yang terentang.
“Ngomong-ngomong tentang anak kita, kemanakah dia pergi?” Yanto bertanya sambil memandang arlojinya. “Seharusnya dia sudah pulang sekarang.”
“Mungkin singgah ke rumah salah seorang temannya, dan tak ingat waktu,” aku menjawab.
Setengah jam telah berlalu, baik Yanto maupun aku mulai merasa gelisah. Bukan sikap Susilo membuat kami menunggu-nunggu dia seperti ini, khususnya dengan kue-kue serabi di atas wajan. Mendadak telepon bordering dan Yanto menjangkau gagangnya.
“Itu mungkin dia,” aku berkata, mendesahkan perasaan lega.
Petunjuk waktu oven berbunyi, dan aku segera mengeluarkan kue-kue serabiku. Aku memutar tubuh ketika mendengar Yanto menjatuhkan gagang telepon ke atas lantai. Wajahnya nampak tegang.
“Ada apa?” aku bertanya, rasa panik mulai memenuhi dadaku.
“Yanto, apakah itu? Siapakah yang menelpon?”
“Susilo tertabrak,” dia menjawab seolah-olah tak percaya apa yang sedang dikatakannya.
Jantungku terasa membeku dalam dada.
“Oh, tidak! Itu mungkin hanya kekeliruan saja. Dia sedang pergi ke pasar.”
“Yang menelepon itu Pak Polisi. Mereka sedang membawa Susilo ke RSCM,” dia menjelaskan.
Perasaan shock yang mula-mula melanda diri kami berubah menjadi ketakutan yang sangat mencekam, ketika Yanto melanggar segala peraturan lalu-lintas, meluncur sekencang-kencangnya melintasi kota menuju rumah sakit pusat. Namun itu masih belum cukup cepat bagiku. Dengan diam-diam, aku berdoa agar Susilo tidak terjadi apa-apa. Aku menatap Yanto untuk memperoleh kepastian, namun dia pun sama-sama takutnya seperti aku.
Ketika kami akhirnya sampai di rumah sakit, aku meloncat ke luar sebelum Yanto sempat mematikan mesin mobilnya. Kami saling bergandengan tangan erat-erat tatkala kami melangkah cepat melintasi lapangan parkir.
“Kami sedang mencari putra kami, Susilo Budiyanto,” dengan napas tertahan aku bertanya kepada petugas penerima di depan mejanya.
Ia menghindari pertanyaanku, memberikan beberapa lembar formulir ke tanganku, dan memimpin kami ke ruang tunggu. Ia bilang dokter akan berbicara dengan kami sebentar lagi.
“Apakah yang terjadi?” Yanto bertanya kepadanya.
“Apakah lukanya cukup parah.”
“Saya mohon maaf. Anda harus menunggu dan berbicara langsung dengan dokter yang menanganinya,” ia menjawab ramah namun tegas.
“Kami sedang mencari putra kami, Susilo Budiyanto,” dengan napas tertahan aku bertanya kepada petugas penerima di depan mejanya.
Ia menghindari pertanyaanku, memberikan beberapa lembar formulir ke tanganku, dan memimpin kami ke ruang tunggu. Ia bilang dokter akan berbicara dengan kami sebentar lagi.
“Apakah yang terjadi?” Yanto bertanya kepadanya.
“Apakah lukanya cukup parah.”
“Saya mohon maaf. Anda harus menunggu dan berbicara langsung dengan dokter yang menanganinya,” ia menjawab ramah namun tegas.
Bau disinfektan dan penyakit melanda lubang hidungku ketika kami duduk di kursi ruang tunggu yang berlapis plastik tebal. Seseorang telah mencoba menghidupkan suasana ruangan meja yang dihiasi pohon Natal, namun bau antiseptik masih tercium.
Yanto memisah lembar-lembar formulir, memberiku selembar daftar pertanyaan medis, sementara dia mengisi formulir-formulir asuransi. Aku berkonsentrasi menjawab halaman-halaman pertanyaan yang begitu banyak, ingin pura-pura tidak memperhatikan aktivitas yang berlangsung di sekitar ruang perawatan gawat-darurat.
Aku mencoba melihat sendiri apa yang dilakukan para dokter, namun Yanto menahanku.
“Biarkan mereka melakukan tugasnya,” dia membujuk, merangkulkan lengan ke bahuku yang gemetar.
Tak pernah selama hidup aku merasa demikian putus asa. Bahkan seandainya aku diijinkan melihat Susilo, aku sadar tak ada yang bisa aku lakukan untuk menolong dia. Ketika dia masih anak-anak, aku dapat menghilangkan rasa sakitnya dengan ciuman atau sepotong kue. Jika sekarang hanyalah seperti itu… aku akan hanya bisa menunggu dan berdoa.
“Tuan dan Nyonya Budiyanto?” seorang polisi bertanya ketika dia dan rekannya melangkah ke dalam ruang tunggu. “Saya Serda Purnomo, saya petugas pertama yang tiba di TKP.” Ekpresi suara pada wajah Serda Purnomo membuat perutku seakan terikat kencang. Baik dia maupun rekannya saling menghindari pandangan kami, ketika mereka menjelaskan kepada kami apa yang telah menimpa diri Susilo.
Bayangan putraku terbaring di lantai yang dingin, berlumuran darah, melanda pikiranku. Dia pasti sangat ketakutan. Aku berharap, akulah yang tertabrak bukan dia, dan akan dengan senang hati akan menggantikan tempatnya sekarang begitu dia berjuang keras mempertahankan usia mudanya.
“Kami telah menangkap penabrak itu sekitar tiga blok dari toko tersebut,” polisi yang lain menambahkan. Pada point ini, aku tidak ambil pusing polisi berhasil atau tidak menangkap penabrak anaknya itu. Perhatianku hanya terpusat pada keselamatan putraku.
“Anda melihat Susilo sebelum mereka membawanya ke rumah sakit,” aku bertanya, suaraku sangat parau hingga nyaris hanya terdengar sebagai bisikan.
“Bagaimana keadaan, Anda?”
Kedua polisi itu saling bertukar pandangan sedih, dan rasanya berabad-abad sebelum Serda Purnomo menjawab.
“Jantung putra Anda berhenti berdenyut dua kali, dan dia harus disadarkan dua kali sebelum mereka memasukkannya ke dalam ambulans. Dia masih hidup tapi tampaknya…”
Sedu-sedan mengguncang tubuhku ketika aku menjatuhkan diri ke dalam pelukan Yanto yang kuat. Putraku telah meninggal, dan aku tak mampu berbuat apa-apa. Aku bahkan tidak boleh mendekati dia, memegang tangannya, dan membiarkan dia tahu mamanya sangat mencintainya.
Aku mencoba melihat sendiri apa yang dilakukan para dokter, namun Yanto menahanku.
“Biarkan mereka melakukan tugasnya,” dia membujuk, merangkulkan lengan ke bahuku yang gemetar.
Tak pernah selama hidup aku merasa demikian putus asa. Bahkan seandainya aku diijinkan melihat Susilo, aku sadar tak ada yang bisa aku lakukan untuk menolong dia. Ketika dia masih anak-anak, aku dapat menghilangkan rasa sakitnya dengan ciuman atau sepotong kue. Jika sekarang hanyalah seperti itu… aku akan hanya bisa menunggu dan berdoa.
“Tuan dan Nyonya Budiyanto?” seorang polisi bertanya ketika dia dan rekannya melangkah ke dalam ruang tunggu. “Saya Serda Purnomo, saya petugas pertama yang tiba di TKP.” Ekpresi suara pada wajah Serda Purnomo membuat perutku seakan terikat kencang. Baik dia maupun rekannya saling menghindari pandangan kami, ketika mereka menjelaskan kepada kami apa yang telah menimpa diri Susilo.
Bayangan putraku terbaring di lantai yang dingin, berlumuran darah, melanda pikiranku. Dia pasti sangat ketakutan. Aku berharap, akulah yang tertabrak bukan dia, dan akan dengan senang hati akan menggantikan tempatnya sekarang begitu dia berjuang keras mempertahankan usia mudanya.
“Kami telah menangkap penabrak itu sekitar tiga blok dari toko tersebut,” polisi yang lain menambahkan. Pada point ini, aku tidak ambil pusing polisi berhasil atau tidak menangkap penabrak anaknya itu. Perhatianku hanya terpusat pada keselamatan putraku.
“Anda melihat Susilo sebelum mereka membawanya ke rumah sakit,” aku bertanya, suaraku sangat parau hingga nyaris hanya terdengar sebagai bisikan.
“Bagaimana keadaan, Anda?”
Kedua polisi itu saling bertukar pandangan sedih, dan rasanya berabad-abad sebelum Serda Purnomo menjawab.
“Jantung putra Anda berhenti berdenyut dua kali, dan dia harus disadarkan dua kali sebelum mereka memasukkannya ke dalam ambulans. Dia masih hidup tapi tampaknya…”
Sedu-sedan mengguncang tubuhku ketika aku menjatuhkan diri ke dalam pelukan Yanto yang kuat. Putraku telah meninggal, dan aku tak mampu berbuat apa-apa. Aku bahkan tidak boleh mendekati dia, memegang tangannya, dan membiarkan dia tahu mamanya sangat mencintainya.
Satu jam telah lewat, sebelum dokter muncul keluar untuk berbicara dengan kami. Wajahnya tampak letih dan sedih, bahunya merosot ke depan dalam sikap pasrah. Yanto dan aku bergegas mendekati, ingin mendengar tentang keadaan putra kami.
“Saya mohon maaf, Tuan dan Nyonya Budiyanto. Susilo tidak mampu bertahan. Kami sudah berusaha semampu kami, namun dia terlampau banyak mengeluarkan darah.”
“Tidak… Tidak… tidak…” aku berbisik, menggeleng-gelengkan kepala dalam ketidakpercayaan. Aku telah berdoa begitu khusyuk. Aku sadar Tuhan tidak akan membiarkan putra kesayanganku mati, tidak pada Hari Natal.
Wajah tampan Yanto tampak lebih tua dua puluh tahun tatkala dia mendengar berita itu. “Saya yakin Anda telah berusaha semampu Dokter,” dia menggumam.
“Saya mohon maaf, Tuan dan Nyonya Budiyanto. Susilo tidak mampu bertahan. Kami sudah berusaha semampu kami, namun dia terlampau banyak mengeluarkan darah.”
“Tidak… Tidak… tidak…” aku berbisik, menggeleng-gelengkan kepala dalam ketidakpercayaan. Aku telah berdoa begitu khusyuk. Aku sadar Tuhan tidak akan membiarkan putra kesayanganku mati, tidak pada Hari Natal.
Wajah tampan Yanto tampak lebih tua dua puluh tahun tatkala dia mendengar berita itu. “Saya yakin Anda telah berusaha semampu Dokter,” dia menggumam.
Ketabahan tipis yang menahan kewarasan pikiranku terasa sirna. Dokter menyatakan keliru atau telah berbohong. Putraku, yang sangat sehat dan penuh gairah hidup tadi pagi, kini telah tiada. Aku tahu Tuhan tidak membiarkannya hidup dua kali hanya untuk kemudian membiarkannya mati. Ini pasti hanya sejenis gurauan yang tidak lucu, kejam, pikiranku yang tidak logis mengatakan. Para remaja tidak akan mati di hadapan orangtua mereka. Aku akan menyelidiki dasar kekacauan ini.
“Jangan percaya dia, Yanto. Dia bohong!” aku berteriak histeris.
“Aku ingin melihat putraku. Sekarang juga!”
“Saya kira itu bukan gagasan baik, Nyonya Budyanto,” dokter menanggapi. Kemudian dia memandang Yanto.
“Saya kira akan lebih baik jika saya memberi obat penenang kepada istri Anda.”
“Saya tak ingin obat penenang!” aku berseru.
“Saya ingin melihat anak saya, dan tak ada yang bisa untuk menghalangi saya.” Aku berjalan ke arah ruang pemeriksaan. Aku harus menghentikan kekacauan ini. Susilo sudah mati. Kami telah membelikan dia sepeda motor sebagai hadiah Natal.
“Jangan percaya dia, Yanto. Dia bohong!” aku berteriak histeris.
“Aku ingin melihat putraku. Sekarang juga!”
“Saya kira itu bukan gagasan baik, Nyonya Budyanto,” dokter menanggapi. Kemudian dia memandang Yanto.
“Saya kira akan lebih baik jika saya memberi obat penenang kepada istri Anda.”
“Saya tak ingin obat penenang!” aku berseru.
“Saya ingin melihat anak saya, dan tak ada yang bisa untuk menghalangi saya.” Aku berjalan ke arah ruang pemeriksaan. Aku harus menghentikan kekacauan ini. Susilo sudah mati. Kami telah membelikan dia sepeda motor sebagai hadiah Natal.
Ketika aku mendorong pintu ruang pemeriksaan, seorang perawat sedang mematikan mesin-mesin dan melepas kaitan slang-slang dari tubuh yang tidak bergerak di atas usungan. “Ya Tuhan, pastikan mereka telah salah bicara,” aku berbisik ketika aku melangkah perlahan ke arah usungan. Yanto memelukku dari belakang.
“Mama, kuminta jangan kau lakukan ini,” dia berkata serak.
Aku melepaskan diri dari dia dan melangkah ke usungan. Aku memandang ke bawah, dan impianku yang terburuk menjadi kenyataan. Di bawah darah, luka-luka memar, dan slang-slang, wajah Susilo yang tak bernyawa membalas pandanganku. Tanpa ditahan pelukan Yanto yang kuat, tubuhku pasti sudah roboh, pingsan. Semua itu benar! Putra kesayanganku, yang hidup penuh gairah tadi pagi, telah mati.
“Mama, kuminta jangan kau lakukan ini,” dia berkata serak.
Aku melepaskan diri dari dia dan melangkah ke usungan. Aku memandang ke bawah, dan impianku yang terburuk menjadi kenyataan. Di bawah darah, luka-luka memar, dan slang-slang, wajah Susilo yang tak bernyawa membalas pandanganku. Tanpa ditahan pelukan Yanto yang kuat, tubuhku pasti sudah roboh, pingsan. Semua itu benar! Putra kesayanganku, yang hidup penuh gairah tadi pagi, telah mati.
Aku membungkuk dan memegang tangan Susilo. Aku tak tahu sudah berapa lama aku berdiri di sana, memeluknya, memandangi dia. Aku hanya ingat, tidak akan membiarkannya pergi, sampai kehangatan tubuhnya perlahan-lahan hilang.
—
“Semua ini kesalahanku,” aku bilang kepada Yanto dalam perjalanan pulang.
“Kau ngomong apa?”
“Aku ibu rumah tangga. Adalah tugasku untuk menyediakan bahan-bahan makanan,” aku menangis terisak-isak.
“Seharusnya aku sendiri yang membeli bahan-bahan itu. Dengan begitu Susilo masih tetap hidup.”
Yanto menghentikan mobil di pinggir jalan. Airmata meleleh turun ke wajahnya ketika dia menarik tubuhku. “Mama, kau istri yang baik, dan kau ibu yang mengagumkan bagi putra kita. Semua ini bukan kesalahanmu. Itu hanya telah terjadi, sudah nasib kita. Dan aku sudah tahu kenapa.”
“Kau ngomong apa?”
“Aku ibu rumah tangga. Adalah tugasku untuk menyediakan bahan-bahan makanan,” aku menangis terisak-isak.
“Seharusnya aku sendiri yang membeli bahan-bahan itu. Dengan begitu Susilo masih tetap hidup.”
Yanto menghentikan mobil di pinggir jalan. Airmata meleleh turun ke wajahnya ketika dia menarik tubuhku. “Mama, kau istri yang baik, dan kau ibu yang mengagumkan bagi putra kita. Semua ini bukan kesalahanmu. Itu hanya telah terjadi, sudah nasib kita. Dan aku sudah tahu kenapa.”
Penderitaan pada upacara pemakaman dan minggu-minggu yang mengikuti berlalu dalam kesedihan yang sangat menyiksa. Yanto memberitahu bahwa kedua orangtuaku datang ke kota untuk menghadiri upacara pemakaman cucu mereka, namun aku nyaris tak ingat apakah aku telah berbicara dengan mereka.
Tanpa suara tertawa Susilo, rumah kami terasa dingin, sunyi dan hampa. Aku tetap mengharapkan dia untuk pulang ke rumah dari sekolah, melempar buku-bukunya ke lantai, dan melangkah langsung ke kulkas. Kadang-kadang aku masuk ke dalam kamarnya dan membenamkan wajahku ke bantal, di mana aroma tubuhnya masih tercium. Aku memandang sekeliling dan teringat waktu-waktu memarahi dia untuk membersihkan kamarnya yang berantakan seperti kandang ayam, atau berseru kepadanya karena minum susu langsung dari dusnya. Semua itu tampaknya benar-benar tidak penting lagi sekarang.
Suamiku berusaha keras mengajak aku melupakan kehilangan kami yang begitu berat bersama-sama, namun aku selalu menolak. Aku seakan-akan berkubang sendirian dalam perasaan berdosa dan kesedihan. Aku bahkan tidak keluar dari “sangkarku” untuk menghadiri sidang pengadilan orang yang menabrak Susilo.
Para sahabat dan sanak-saudaraku menyambut gembira sidang yang mengadili pemuda tersebut sebagai pria dewasa, dan menjatuhi dia hukuman penjara yang sangat lama. Itu tidak menjadi soal bagiku. Betapa pun lamanya hukuman, hal itu tak akan bisa menghidupkan kembali anakku. Yanto akhirnya menjual Honda Tiger yang tak pernah sempat dikendarai Susilo. Tak seorang pun dari kami mampu mamandang motor itu. Memandang itu hanya akan membuat kami memikirkan apa yang dapat dan seharusnya terjadi.
Yanto mencoba sekuat tenaga untuk menghibur aku. Dia membawaku keluar untuk bersantap malam, menonton bioskop, bepergian jauh dan berwisata. Kami bahkan mulai bermain cinta lagi. Kendati aku sangat mencintai Yanto, aku harus jelas bahwa aku hanya melakukan gerakan kehidupan saja. Persahabatan dengan teman-teman lama menghilang, ketika mereka menghentikan kunjungannya. Aku merasa kaku untuk melayani mereka atau melakukan yang lain. Dalam hati, aku tak bisa meneruskan sikap seperti ini. Lebih baik aku mati ketimbang hidup dengan penderitaan seperti ini!
“Selamat Hari natal, sayang,” aku berbisik ke potret Susilo.
“Mama segera bertemu kamu.” Dengan memejamkan kedua mata aku mengangkat genggaman pil ke mulutku. Aku sadar apa yang harus kulakukan, dan aku telah siap mati.
“Jangan lakukan itu, Mama!” Sebuah suara yang sangat aku kenal menjerit ke telingaku. Itu adalah suara yang aku begitu ingin mendengarnya selama satu tahun ini.
“Susilo?” aku berbisik, menjatuhkan pil-pil ke atas lantai.
Dengan putus asa aku memandang sekeliling kamar, mencari-cari anakku. Tapi, juga tak ketemukan dari mana asal suara itu datang, aku pun terduduk lemas di atas sofa sambil menangis.
“Mama segera bertemu kamu.” Dengan memejamkan kedua mata aku mengangkat genggaman pil ke mulutku. Aku sadar apa yang harus kulakukan, dan aku telah siap mati.
“Jangan lakukan itu, Mama!” Sebuah suara yang sangat aku kenal menjerit ke telingaku. Itu adalah suara yang aku begitu ingin mendengarnya selama satu tahun ini.
“Susilo?” aku berbisik, menjatuhkan pil-pil ke atas lantai.
Dengan putus asa aku memandang sekeliling kamar, mencari-cari anakku. Tapi, juga tak ketemukan dari mana asal suara itu datang, aku pun terduduk lemas di atas sofa sambil menangis.
Tiba-tiba Yanto bergegas masuk ke dalam kamar. Keringat membasahi piyamanya, dan napasnya terengah-engah. Dia menatap ke bawah, ke pil-pil yang berserakan di lantai, kemudian ke wajahku.
“Berdiri,” dia mendengus, menarik tubuhku dari sofa. Kemarahan memudarkan wajahnya, dan aku bisa melihat urat-urat darah berdenyut di lehernya. Gemetar karena mendengar suara Susilo dan kemarahan Yanto, aku mencoba menerangkan. “Aku belum menelannya,” gumamku.
Yanto tak mau mendengarkan. Dia mengenakan jaketnya dan melemparkan jaketku ke bahuku.
“Aku akan membawamu ke rumah sakit,” dia berkata, tegas. Kembali, aku mencoba menjelaskan kepada Yanto bahwa aku tak punya kesempatan menelan pil-pil itu. Tak ada alasan membawaku ke rumah sakit di tengah malam buta.
“Aku tak boleh bertindak ceroboh,” Yanto menjawab.
“Aku sudah kehilangan putraku. Yah, aku tak ingin kehilangan kau juga.”
“Berdiri,” dia mendengus, menarik tubuhku dari sofa. Kemarahan memudarkan wajahnya, dan aku bisa melihat urat-urat darah berdenyut di lehernya. Gemetar karena mendengar suara Susilo dan kemarahan Yanto, aku mencoba menerangkan. “Aku belum menelannya,” gumamku.
Yanto tak mau mendengarkan. Dia mengenakan jaketnya dan melemparkan jaketku ke bahuku.
“Aku akan membawamu ke rumah sakit,” dia berkata, tegas. Kembali, aku mencoba menjelaskan kepada Yanto bahwa aku tak punya kesempatan menelan pil-pil itu. Tak ada alasan membawaku ke rumah sakit di tengah malam buta.
“Aku tak boleh bertindak ceroboh,” Yanto menjawab.
“Aku sudah kehilangan putraku. Yah, aku tak ingin kehilangan kau juga.”
Di sepanjang perjalanan ke rumah sakit, aku mencoba membuat Yanto memutar mobil dan membawaku kembali pulang ke rumah. Aku menjelaskan kepadanya bahwa tindakan itu benar-benar tidak berguna. Dia menatap wajahku lekat-lekat, matanya dipenuhi perasaan cinta yang tulus dan kasih sayang.
“Tidakkah kau mengerti, bahwa dirimu adalah segalanya bagiku?” dia bertanya lirih.
Tanpa mengacuhkan protesku, Yanto meminta dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh pada diriku. Dia memberikan kepada dokter segenggam pil yang aku kumpulkan, dan menerangkan kepadanya bahwa aku mungkin telah menelannya beberapa butir. Aku tetap berusaha meyakinkan dokter, aku belum menelan sebutir pil pun. Namun, dia tetap mendesak untuk memeriksaku. Dia kemudian membuang-buang waktuku dengan melakukan segala jenis tes yang seharusnya tidak diperlukan.
“Tidakkah kau mengerti, bahwa dirimu adalah segalanya bagiku?” dia bertanya lirih.
Tanpa mengacuhkan protesku, Yanto meminta dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh pada diriku. Dia memberikan kepada dokter segenggam pil yang aku kumpulkan, dan menerangkan kepadanya bahwa aku mungkin telah menelannya beberapa butir. Aku tetap berusaha meyakinkan dokter, aku belum menelan sebutir pil pun. Namun, dia tetap mendesak untuk memeriksaku. Dia kemudian membuang-buang waktuku dengan melakukan segala jenis tes yang seharusnya tidak diperlukan.
“Baiklah, Nyonya Budiyanto, beruntung Anda belum menelan pil-pil itu,” dia berkata, sesudah menyelesaikan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.
“Jika sebaiknya Anda akan membunuh diri Anda sendiri dan bayi Anda.”
“Bayi?” aku bertanya. Kupikir aku telah salah dengar. Bagaimanapun juga, umurku sudah empat puluh tiga tahun. Aku tak mungkin bisa hamil lagi.
“Anda sedang hamil dua bulan,” dokter menjelaskan apa adanya.
“Demi keselamatan bayi Anda, maka Anda harus menjaga diri Anda secara lebih baik lagi.”
“Apa istri saya akan pulih kesehatannya dokter?” dia bertanya kepada ahli medis itu.
“Pikirannya agak tertekan, namun selain itu tubuhnya sehat wal’afiat,” dokter menjelaskan kepadanya.
“Adakah sesuatu yang bisa saya lakukan untuk dirinya?” Yanto bertanya lagi, nada suaranya dipenuhi keprihatinan. Aku ingin menunggu waktu yang untuk menjelaskan kepadanya tentang kehamilanku, namun aku merasa tidak mampu menahannya lama-lama.
“Kita akan berbahagia lagi, Pa.”
“Papa?” Yanto mengulangi. Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
“Dalam waktu sekitar tujuh bulan kau akan menjadi ayah lagi.”
Yanto memelukku dan mengayunkan tubuhku memutar. Aku bergantung pada tubuhnya begitu kami menangis dalam kebahagiaan. Ini merupakan rasa kebahagiaan yang pertama kali kami alami sejak kematian Susilo.
“Jika sebaiknya Anda akan membunuh diri Anda sendiri dan bayi Anda.”
“Bayi?” aku bertanya. Kupikir aku telah salah dengar. Bagaimanapun juga, umurku sudah empat puluh tiga tahun. Aku tak mungkin bisa hamil lagi.
“Anda sedang hamil dua bulan,” dokter menjelaskan apa adanya.
“Demi keselamatan bayi Anda, maka Anda harus menjaga diri Anda secara lebih baik lagi.”
“Apa istri saya akan pulih kesehatannya dokter?” dia bertanya kepada ahli medis itu.
“Pikirannya agak tertekan, namun selain itu tubuhnya sehat wal’afiat,” dokter menjelaskan kepadanya.
“Adakah sesuatu yang bisa saya lakukan untuk dirinya?” Yanto bertanya lagi, nada suaranya dipenuhi keprihatinan. Aku ingin menunggu waktu yang untuk menjelaskan kepadanya tentang kehamilanku, namun aku merasa tidak mampu menahannya lama-lama.
“Kita akan berbahagia lagi, Pa.”
“Papa?” Yanto mengulangi. Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
“Dalam waktu sekitar tujuh bulan kau akan menjadi ayah lagi.”
Yanto memelukku dan mengayunkan tubuhku memutar. Aku bergantung pada tubuhnya begitu kami menangis dalam kebahagiaan. Ini merupakan rasa kebahagiaan yang pertama kali kami alami sejak kematian Susilo.
Ketika kami tiba di rumah, aku menuang secangkir kopi untuk Yanto, dan membuat segelas susu bagi diriku sendiri.
“Yanto, apakah yang membuatmu berlari-lari ke ruang duduk malam ini?” aku bertanya. Ekspresi aneh muncul di wajah suamiku.
“Aku tahu kedengarannya aneh, namun aku merasa yakin Susilo mengguncang-guncang tubuhku dan berteriak-teriak untuk membangunkan aku.”
“Tidak, sayang, itu tidak terdengar aneh.”
Lantas aku ceritakan kepadanya tentang teriakan Susilo ketika aku akan menelan pil-pil itu.
“Kupikir aku hanya sedang bermimpi,” Yanto menanggapi. Kutuangkan lagi secangkir kopi buat suamiku dan segelas susu untuk diriku sendiri.
“Mari kita ber-toast untuk keajaiban-keajaiban ini,” Yanto berkata, mengangkat gelasnya.
“Dan untuk malaikat-malaikat pelindung,” aku menimpali.
“Selamat Hari Natal, Susilo.”
“Yanto, apakah yang membuatmu berlari-lari ke ruang duduk malam ini?” aku bertanya. Ekspresi aneh muncul di wajah suamiku.
“Aku tahu kedengarannya aneh, namun aku merasa yakin Susilo mengguncang-guncang tubuhku dan berteriak-teriak untuk membangunkan aku.”
“Tidak, sayang, itu tidak terdengar aneh.”
Lantas aku ceritakan kepadanya tentang teriakan Susilo ketika aku akan menelan pil-pil itu.
“Kupikir aku hanya sedang bermimpi,” Yanto menanggapi. Kutuangkan lagi secangkir kopi buat suamiku dan segelas susu untuk diriku sendiri.
“Mari kita ber-toast untuk keajaiban-keajaiban ini,” Yanto berkata, mengangkat gelasnya.
“Dan untuk malaikat-malaikat pelindung,” aku menimpali.
“Selamat Hari Natal, Susilo.”
—
Putri kami, Anita, sudah berusia empat bulan sekarang, dan ia menjadi cahaya kehidupan bagi kami. Sesudah malam ketika aku nyaris bunuh diri itu aku segera berkonsultasi dengan psikiater, yang membantu memecahkan problemku yang berkaitan dengan kematian Susilo. Tidak ada hari yang berlalu tanpa perasaan kehilangan atas diri putraku. Namun, kini aku telah mampu mengatasi rasa kesedihan itu.
Ketika aku menunduk memandangi wajah Anita yang mungil, aku tahu Susilo sedang tersenyum manis ke adiknya. Pada suatu hari, ketika ia sudah dewasa nanti aku akan menceritakan kepadanya tentang abangnya dan malam ketika dia menyelamatkan kehidupan kami berdua!
Subscribe to:
Posts (Atom)
Search
Popular Posts
-
Muhammad Syifa El Zain Ratapan Anak Tiri Dikisahkan, ada sebuah keluarga rukun yang terdiri dari ayah, ...
-
Jenis Buku : Buku Fiksi Judul Buku : The Chronicles of Ghazi Pengarang ...
-
Apa kamu ingat ketika kita besama .. melewati segala rintangan yang ada didepan mata .. Apa kamu ingat saat kita tertawa ...
-
Pertemananku Terhalang Geng Kucing Dikisahkan pada suatu sekolah ada dua geng yang saling bermusuhan, yaitu geng tikus da...
-
PERPISAHAN Dulu.... Ketika Aku masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah Aku dan temanku selalu tertawa. Penuh senda gurau. Se...
Categories
Blog Archive
Total Pageviews
Blog Archive
Powered by Blogger.