Selamat datang di blog saya. Semoga apa yang anda cari ada di sini. Selamat berkunjung :)

Friday, 4 July 2014

On 11:29:00 by Unknown in    No comments
Sinar matahari menembus kaca kamar dan membuatku harus terpaksa bangun. Pertama membuka mata dan “Selamat ulang tahun Diniiiii”, sorak ketiga temanku, Ibu, Ayah dan Tri. Hari yang bersinar ini selalu aku tunggu karena di hari ini aku telah menjadi wanita dewasa, ya umurku 17 tahun hari ini.
17 tahun yang lalu, aku dilahirkan oleh seorang ibu yang sangat mulia. Aku terlahir ke daerah fana ini dengan keluarga yang cukup. Ayahku seorang kontraktor dan sampai sekarang pun aku masih anak tunggal. Setiap pulang sekolah aku selalu mencari Ibu untuk bercerita. Dia sungguh Ibu yang baik. Selalu mau mendengarkan ceritaku walau dia sedang sibuk. Ibu sedang masak pun aku selalu mengoceh tapi Ibu hanya bilang “Terus?”. Setiap pulang sekolah Ibu selalu bilang “Bagaimana hari ini?”. Ibu pernah bilang “Walaupun seluruh dunia menjauhimu, percayalah Ibu dan Ayah akan terus ada disini, di sampingmu dan disaat kamu merasa sendiri datanglah pada Ibu, Ibu akan selaluuu mendengar ceritamu”.
“Are you promise?”, mengajukan jari kelingkingku.
“Yes”, melingkarkan jari kelingkingnya.
“Sebelum tiup lilin make a wish dulu”, kata Cindy.
“Ya Allah aku mohon suasana akan selalu sebahagia ini”, ucapku dalam hati. Belum pernah aku merasa sebahagia ini. Betapa tidak? Semua yang aku cintai ada di depan mata disaat aku bangun dan mereka tetap berdiri menungguku tersadar dari alam mimpi, aku pun tak tau sejak kapan mereka berdiri disitu. Cindy adalah sahabatku sejak SD, Dina sahabatku sejak SMP, Melati sahabatku di SMA, betapa beruntungnya aku, kami dipertemukan lagi di SMA. Dan lebih beruntungnya aku menemukan Tri. Dia pangeran berkuda yang datang menjemput putri bergaun merah muda. Itu yang selalu aku dengar dari cerita Ibu saat masih SD dulu. Dan sepanjang masa aku selalu mengharapkan pangeran berkuda putih itu, kini dia datang. Sungguh, Ibu tak bohong padaku. Dia sosok yang selalu bisa aku banggakan di depan temanku karena dia memiliki segudang prestasi di bidang akademik.
Hari itu saat usiaku genap 17 tahun aku merasa aku orang paling bahagia. Tapi sebelum Ibu menghancurkan semua daftar yang aku buat hari ini.
“Ibu ingin di hari ini kita menghabiskan waktu hanya berdua”, desak Ibu.
“Ibu aku bukan anak kecil lagi”, aku medengus.
“Tapi Ibu ingin sekali ini saja merayakannya seperti dulu”, desak Ibu lagi.
“Sekarang aku sudah besar Ibu, aku sudah dewasa, umurku 17 tahun bukan balita yang Ibu gendong kemana-mana lagi”, komentarku makin kesal.
“Tapi kamu tetap putri kecil Ibu yang lucu”, jawab Ibu lembut.
“Aku sudah membuat jadwal bersama Cindy, Dina, Melati dan Tri bu, bukankah hari itu Ibu sudah menyetujuinya?”, dengan muka kesal.
“Apa kamu lebih mementingkan teman dari pada Ibu?”,tanya Ibu dengan tampang sinis.
“Tapi bu…”
“Ibu akan sangat senang jika kamu mau”, potong Ibu sebelum aku berkomentar lebih banyak.
“Hanya hari ini”, kata Ayah.
Dengan berat hati aku terpaksa membatalkan rencanaku bersama mereka hari ini. Sungguh hari yang menyebalkan. Dengan wajah terpaksa dan sangat cemberut aku duduk di atas motor yang dikendarai Ibu. Ayah tak dapat ikut karena harus ke lokasi hari ini. Hari libur pun Ayah tak punya waktu untukku. Tapi tak apalah… Aku terpaksa ikut dan aku harus ikut. Aku tak mau tau kemana motor ini melaju yang aku tau sekarang aku kesal, kesal dan sungguh sangat kesal pada Ibu. Bagaimana mungkin dia dapat membatalkan semua rencana yang jelas-jelas sudah diizinkannya? Aku sudah merancang hari ini dari seminggu yang lalu, tapi hancur lebur hanya karena keinginan Ibu untuk merayakan hari ulang tahun berdua dengannya. Ya hanya berdua.
Sepanjang jalan di dalam hati aku hanya mendengus menyesali hari ini. Kenapa harus begini? Aku kan jadi segan sama mereka. Rencana yang sudah sangat matang, harus terkubur dalam-dalam.
“Sudah jangan mengatai Ibu lagi”, kata Ibu dan membuat aku sangat tersentak. Bagaimana Ibu bisa tau kalau aku mendengusinya terus?
“Ibu hanya ingin hari ini saja, hari ini saja”, kata Ibu lagi.
“Ya ya ya”, jawabku dengan sangat malas.
“Kita punya banyak tempat yang akan kita kunjungi hari ini”
“Oke”, jawabku singkat.
Setelah cukup lama Ibu mengendarai motor maticnya, kami pun sampai di sebuah pusat perbelanjaan di kota ini. Telusur demi telusur kami sampai di sebuah toko yang Minggu kemarin kami datangi.
“Kamu boleh ambil baju itu”, menunjuk baju yang Minggu kemarin aku renggut padanya.
“Are you sure?”, jawabku tak yakin.
“Kenapa tidak?”, sambil tersenyum.
“Tapikan mahal banget bu”, jawabku.
“Ibu sudah kumpulkan uang untuk hari istimewa ini”, tepis Ibu dengan senyuman paling indahnya.
Aku sangat terharu, ternyata Ibu sudah merencanakan hari ini dengan sangat matang. “Terimakasih Ibu”, jawabku terharu sambil memeluk Ibu.
“Sudah ambil gih sana, ntar diambil orang loh”, kata Ibu melepaskan pelukannya.
Aku segera berlari dan meraih baju itu. Dress berwarna hijau lembut tanpa lengan dan simple itu dalam sekejap menjadi milikku. Dress itu seminggu yang lalu aku rengut pada Ibu. Tapi Ibu tak ingin membelikannya karena harganya yang sangat mahal. Teman-temanku juga menginginkannya tapi sekarang apa yang mereka impikan telah menjadi milikku hehe…
“Kita mau kemana lagi bu?”, tanyaku saat ke luar dari toko baju.
“Kamu lapar?”, tanya Ibu saat berjalan menelusuri jalan ke luar dari pusat perbelanjaan ini sambil merangkulku.
“Sedikit”, jawabku singkat.
“Mau makan dimana?”
“Ibu kok baik banget hari ini?”, tanyaku dengan tatapan sinis.
“Kalau gak mau ya udah”, jawab Ibu cuek.
“Oke oke. Gimana kalau kita makan sate bu? Kepingin niiii”, dengan tampang memelas.
“Oke, dimana?”
“Di dekat sekolahku ada sate enak loh bu, Ibu belum coba kan? Kalau Ibu makan pasti ketagihan deh”, kataku mencoba merayu Ibu.
“Masa?”, jawab Ibu jutek.
“Iya, teksturnya itu loh ma yang beda, pedasnya? Ughhh…”, sambil mengeluarkan lidah dan membasahi bibir.
“Hahaha kamu ini”, kata Ibu sambil merusak tata rambutku.
“Ibuuu… kan gak cantik lagi deh” dengusku sambil merapikan rambut.
Setelah selesai makan.
“Ibu sayang padamu”, katanya sambil menatap mataku dalam.
“Kenapa Ibu berkata seperti itu?”, tanyaku bingung.
“Apa kau sayang pada Ibu?”, tanya Ibu.
“Sayang sekali”, kataku singkat.
“Maafkan Ibu udah jadi Ibu yang menyebalkan karena membatalkan rencanamu hari ini bersama mereka”, kata Ibu sambil memegang mataku.
“Tadi mereka sudah kukasih tau, dan mereka bisa mengerti kok, Ibu tenang saja”, jawabku.
“Ibu hanya takut lain kali tidak bias membuatmu tersenyum lagi seperti hari ini”, kata Ibu dan membuat aku makin resah.
“Ibu apa-apaan sih. Ini kan hari bahagia aku, kenapa dibuat mellow gini?”, dengusku.
“Ibu hanya ingin kau tau, Ibu sangat mencintaimu”, jawab Ibu dengan senyuman indahnya.
“Ya aku tau, aku lebiiih banget cinta Ibu”, jawabku sambil memeluk Ibu.
“Kita mau kemana lagi?”, tanya Ibu memecahkan suasana.
“Terserah Ibu aja deh”, jawabku.
“Gimana kalau kita beli kue ulang tahun saja?”, usul Ibu.
“Ayoook”, jawabku dengan antusias..
Selama di perjalanan aku selalu bercerita pada Ibu. Aku beruntung mempunyai Ibu sepertinya. Bagaimana tidak? Dia bisa menjadi teman sekaligus Ibu untukku. Terimakasih Allah.
Saat kami telah sampai di seberang toko kue. Aku berkata, “Bu, Ibu saja deh yang ke seberang, aku pingin beli pulsa dulu disini”
“Tapi kan kita bisa pilih kue berdua disana”
“Aku selalu suka apapun yang Ibu suka”
“Ya udah motornya Ibu letakkan disini aja ya, kamu hati-hati, Ibu cuma sebentar kok”
“Iya bu”
Baru selesai aku membeli pulsa dan berbalik badan, aku melihat banyak kerumunan orang-orang dan ada yang berteriak “Bawa ke rumah sakit secepatnya”. Aku segera berlari kesana. Menarik orang-orang yang mengahalangiku. Aku melihat sesosok wanita tergeletak di aspal dengan kepala dilumuri darah. Terdiam. Sedih. Bingung. Terpaku dan meneteskan air mata. Memeluknya. Di sampingnya kulihat ada sebuat kue yang tak tau bentuknya dan seikat bunga mawar kesukaanku.
“Telfon ambulan sekarang!!!” perintahku.
“Siapapun bantu aku” kataku dengan tersedu.
“Ibu? Bertahanlah” kataku sambil mengelus pipi Ibu.
“Allah” jawab Ibu lirih.
Beberapa saat kemudian ada seorang pria yang berbaik hati menumpangkan mobilnya untuk kami. Di dalam mobil Ibu berkata dengan lirih “Ibu mencintaimu”
“Aku juga” sambil mencium Ibu.
Aku menelfon ayah. “A..Yah..” kataku tak tahan menahan nangis.
“Apa sayang? Kenapa kamu menangis?” Tanya ayah heran
“Ibu yah..”
“Kenapa dengan Ibu?”
“Ibu kecelakaan”
“Apaaaa?! Dimana kalian sekarang?”
“Ayah datang saja ke rumah sakit Senja”
“Oke Ayah segera kesana”
Setelah sampai di rumah sakit terdekat aku melihat banyak suster yang menolong Ibu. Ibuku dibawa ke sebuah ruangan Unit Darurat yang aku sendiri saja tak boleh masuk. Apa mau dokter-dokter itu? Aku anaknya. Aku berhak mengetahui keadaan Ibuku. Aku hanya duduk di depan pintu dengan air mata yang terus mengalir. Banyak yang menatapku heran, tapi aku sudah tak perduli pada tatapan orang asing itu. Yang ada di fikiranku hanya bagaimana keadaan Ibu?
Selang beberapa jam Ayah datang dengan tergesa, saat melihatku dia berlari ke arahku dan berkata “Mana Ibu?”
“Ada di dalam, Yah”, jawabku dengan tatapan kosong.
“Bagaimana ini bisa terjadi?”, tanya Ayah dengan cemas.
“Aku tak tau”, jawabku sambil menangis.
Dokter keluar dari ruangan Ibu. Aku dan Ayah langsung menghampiri dokter.
“Bagaimana keadaan Ibu kami dok?,” tanyaku menghapus air mata.
“Maaf”, kata dokter dengan wajah tertunjuk.
“Kenapa dok?!”, bentak Ayah.
“Allah berkehendak lain”
Runtuh. Gemuruh menghampiriku. Bagaimana mungkin? Dia Ibuku. Tak mungkin!!!
“Yah, dokternya gak serius kan?” kataku menggelengkan kepala.
“Yah jawab aku” dengan suara tersedu.
“Yah…”
Ayah hanya menggelengkan kepala dan memelukku. Aku merasakan tangisan Ayah di dalam pelukannya. Kami segera memasuki ruangan Ibu. Aku melihat ada sesesok di balik kain putih itu.
“Bu, Ibu dulu janji katanya gak mau buat aku sedih, katanya gak mau buat aku nangis. Sekarang kenapa? Ibu lupa sama janji Ibu? Dulu Ibu janji gak bakal tinggalin aku. Sekarang? Ibu pembohong. Dulu, Ibu janji kalau aku nangis, Ibu bakal hapus air mata aku. Sekarang? Ibu pembohong. Dulu Ibu janji sama aku bakal selalu di samping aku, tapi Ibu bohong. Kenapa Ibu pergi? Kenapa Bu? Ibu mau tinggalin aku sama Ayah berdua aja? Kenapa secepat ini, Bu? Ibu, jawab aku! Ibu… Bu…”, dengan suara tersedu dan memeluk Ibu.
On 11:27:00 by Unknown in    No comments
“Aaaaa!! akhirnyaa!! Hari yang ku tunggu tiba juga!” Teriak Nasha dari balik selimutnya. hari itu, tanggal 2 Desember 2013 menjadi sejarah bagi hidup Nasha. Hari ulang tahunnya yang ke 13. Pagi itu Nasha bangun dengan semangat 45 sambil lompat lompat, lari lari kayak kodok.
Pagi itu Nasha berangkat sekolah diantar mamanya. 2 sahabat Nasha sudah menunggu kehadirannya di gerbang sekolah. “Nashaa!! Happy birthday yah!! God Bless u, makin cantik, awet muda, makin apa aja dehh!” Teriak Vero dan Silvia, 2 sahabat Nasha, “waaahh!! Makasih ya cintaa!!, hihi. romantis banget deh pagi pagi udah nungguin aku di gerbang” canda Nasha, serentak mereka langsung tertawa terbahak bahak mendengar ucapan nasha.
setelah sampai di kelas, teman sekelas nasha menyalami dan mengucapkan selamat pada Nasha. Tiba tiba sesosok bayangan melintas di depan kelas Nasha. Dengan cepat, Nasha langsung melesat ke luar kelas. Dan. Yah. Itu Leonel. Kakak kelas yang ditaksir Nasha sejak 1 tahun yang lalu. Alasan mengapa Nasha tak dapat move on karena dia cinta. Bukan sekedar suka.
Nasha memang seneng hari itu, tapi kebahagiannya tak akan lengkap tanpa ucapan dari Leonel. Nasha terup berharap, terus berharap agar Leonel mengucapkan “selamat ulang tahun” pada Nasha. Entah Leonel tidak tau atau lupa, tapi ucapan tersebut tak kunjung keluar dari mulut leonel maupun dari BBM. Betapa kecewanya Nasha pada saat itu. saat pelajaran berlangsung, tak henti hentinya ia melamun. Sampai pada waktu pulang.
“Sha, dia nggak ada ucapin ke lo?” Tanya vero, “ngga Ver. dia gak tau mungkin.” Balas Nasha dengan muka lesu, “Oow” jawab Vero singkat.
Setiba di rumah, Nasha langsung menghempaskan badannya ke kasur tanpa mengganti seragamnya terlebih dahulu. lalu ia mengecek BBMnya. “No new messages” .. Nasha langsung meletakkan hpnya ke balik bantal. Bad mood rasanya ketika Nasha membaca tulisan tersebut. “Masa dia nggak ucapin sih? Apa dia lupa? Apa dia nggak tau?” Gerutu Nasha. Leonel memang terkenal cueknya. Dan sifat cuek itu lah yang menarik perhatian Nasha untuk mulai mendekati Leo.
Setelah marah marah nggak jelas, Nasha merasa ngantuk menguasai dirinya. lalu ia tertidur. Nasha tertidur sampai malam. tiba tiba ia terbangun dengan bunyi hpnya yang berdering. “Hoamm. siapa sih yang nelfon? Ganggu aja deh” Gerutu Nasha lagi. “Haloo” Balas Nasha dengan suara habis bangun tidur. “Halo, bentar lagi gue nyampe, buruan, mau ngajak lo keluar.” Balas suara di sebrang sana. “Ini sia…” Baru saja Nasha ingin bertanya tetapi telefonnya telah diputuskan oleh yang menelfon. “Iihh!! Siapa sihh?! nyasek banget! Nggak kasi tau siapa!, trus tiba tiba suruh orang keluar, suruh cepat pula!!” Bentak Nasha nggak jelas. Tapi Nasha langsung mandi dan berpakaian.
Malam itu nasha memakai setelan baju kaos lengan panjang warna biru muda ditambah celana 3 per 4 warna coklat muda dan sepatu convers. sambil menenteng tas, Nasha langsung ke luar kamar lalu berlalu menuruni anak tangga di rumahnya sambil ngos ngosan setelah mendengarkan klakson mobil yang berasal dari depan rumahnya. Nasha membuka pintu rumah dan tampak sebuah mobil Fortuner hitam yang berhenti di depan rumahnya.
Tok tok tok. Nasha menegetok jendela pintu penumpang depan mobil tersebut. Ciiit. jendela itu terbuka dan. Terlihatlah pangeran Nasha di sana. Di kursi setir. Sedang menatap Nasha. “Wahh!! mimpi apa gue tadi? Tatapan langsung sama Leo?” Gumam Nasha dalam hati. “Kak, nyari siapa?” Tanya Nasha yang memulai pembicaraan setelah beberapa lama mereka terdiam. “Tadi yang nelfon tuh gue” balas Leo dengan tak sabaran. “Wihh!! Dia naksir yah sama gue? Dapat nope gue dari mana?” Tanya Nasha dalam hati. “Cepetan masuk!!” Bentak Leo yang dari tadi nungguin Nasha masuk ke dalam mobilnya. “Eh iya kak.” Balas Nasha. “Sabar dikit napa itu cowok?” bisik Nasha. “Apa lo bilang?” Kata Leo yang membuat Nasha jadi salah tingkah. “Nggak ada kak. Ini mau ke mana?” Tanya Nasha penasaran. “Liat aja ntar” balas Leo dengan senyum jahil di wajahnya.
Selama 20 menit perjalanan, tak ada kata kata yang keluar dari mereka berdua. Perjalanan itu dijalani dengan suasana tenang damai dan tak ada suara seperti di kuburan.
“Sampai” kata Leo sambil melepas seat beltnya. Nasha yang sudah tak sabaran langsung melepasnya seat beltnya dan langsung keluar dari mobil. “Woahh!! Ini tempatnya keren banget kak!” Kata Nasha dengan mata yang melebar seperti matanya ingin melompat keluar dari tempatnya.
Leo mengajak Nasha ke suatu bukit di daerah puncak. “Lo mau malam ini temenin gue di sini?” Tanya leo, “mau banget lah kak!! tempatnya bagus begini!” Balas Nasha bahagia. “Bagus. Sekarang udah jam 6.55. 5 menit lagi, lihat apa yang bakal terjadi di langit langit itu” kata Leo sambil menunjuk langit langit. 6.56, 6.57, 6.58, 6.59, 7.00! Tiba tiba Ada kembang api yang indah di langit langit tersebut dan membentuk “I” lalu kembang api yang ke dua membentuk gambar hati. lalu yang ketiga. membentuk huruf N. Lalu ketika Nasha menghadap ke arah Leonel, Leonel telah berlutut di hadapan Nasha sambil menyodorkan sebuah kado. Cincin. Leo memberinya sebuah cincin. “Happy Birthday Nasha!! Be my princess!” Kata leo yang secara tidak langsung mengutarakan perasaannya ke Nasha. Butiran butiran bening jatuh di pipi mulus Nasha membuat Leo terheran”. “Sha, kamu gak papa kan? Kamu nggak suka yah?” Tanya Leo khawatir. “Perasaan ini deh yang aku pelajari dari vero” Bisik Leo dengan tampang tak bersalah. “Kak!! Kamu. Romantis banget.” Kata Nasha. “Would you be my.” Kata kata leo terputus ketika Nasha buru buru menjawab duluan. “Yes” potong Nasha. Otomatis Leo ketawa lalu memeluk Nasha.
Malam itu. Benar benar menjadi sejarah bagi Nasha dan Leo. Mereka sama sama menjadi First love. Nasha itu first love Leo dan sebaliknya. “Akhirnya penantianku tak sia sia” gumam Nasha sambil menatap Langit malam yang ditemani Leo di sampingnya.
On 11:25:00 by Unknown in    No comments
Katanya sih bulan-bulan berakhiran imbuhan ber itu menandakan musim hujan. seperti bulan September ini. lagi dan lagi aku duduk di taman. aku gak akan pernah lupa ataupun melepaskan kenangan indah di tempat ini. taman yang indah dengan danau di tengahnya. beberapa orang sedang latihan band, beberapa lagi sedang pacaran dan beberapa keluarga yang menghabiskan sore mereka disini. dan aku? entah kenapa selama beberapa bulan ini aku rutin kesini. bukan melaksanakan aktivitas seperti mereka. bukan juga untuk senang-senang. aku disini menunggu, menanti entah sampai kapan. senyuman itu, tawa itu, suara itu dan sentuhan lembut itu gak akan pernah bisa aku lupakan. aku masih disini, setia manunggu sampai dia benar-benar datang. ku luangkan tiap soreku untuk menunggunya, kutinggalkan kesenanganku dengan teman-temanku demi dia. demi orang yang sampai saat ini tak kunjung datang. yang sampai kini gak ada kabar dan aku masih setia menunggunya. apa aku ini bodoh atau naïf? bukan. aku tidak seburuk itu. aku hanya orang yang selalu menepati janjiku.
Aku jadi ingat beberapa bulan lalu dia bilang dia akan pergi sebentar ke luar kota untuk menyelesaikan skripsinya dan akan segera kembali untuk menemuiku. harusnya kami bertemu sejak sebulan yang lalu. tapi dia gak ada kabar sama sekali sampai sekarang. sebelum dia gak ada kabar seperti ini dia menyuruhku menunggunya disini jam 4 sore. aku menepati janjiku tapi dia tidak. bahkan sampai saat ini.
“masih menunggu cowok kamu?” tiba-tiba ada suara di dekatku. aku menoleh ke cowok beralis tebal yang memegangi payung.
Aku menghela nafas. kenapa selalu cowok ini yang datang? aku selalu berharap yang datang itu Revin. sejak hari yang harusnya jadi hari pertemuanku dengan Revin, malah Denis terus yang datang. dulu cowok ini membawakanku payung saat aku nekad menunggu Revin di bawah pohon besar. dan bodohnya dulu aku memeluknya saking sedihnya karena orang yang aku tunggu tidak datang.
“kamu cewek yang setia ya. ini udah mau magrib loh. gak baik disini malem-malem.”
Benarkah? berarti aku sudah hampir dua jam menunggu Revin disini. aku celingak-celinguk barangkali Revin sudah datang. benar-benar datang dan ada di hadapanku. “mungkin dia akan telat.”
Denis tersenyum, sangat manis. whatever lah yang penting aku sama sekali gak menyukainya. senyuman Revin pastilah lebih manis dan aku ingin melihatnya. ingin sekali. “alasannya begitu terus. hayu aku anter kamu pulang.”
Akhirnya aku menyerah dan setuju untuk diantar oleh Denis, toh hampir setiap hari dia mengantarku pulang. gak tau sebenernya dia siapa. tapi dia baik sekali dan aku pun merasa aman dengannya. padahal dia kan orang asing. aku hanya kenal nama saja.
Esoknya aku kembali menunggu Revin di taman. untung saja kali ini langit sangat mendukung, matahari masih setia menemaniku. aku jadi agak bingung, tumben banget Denis gak kesini menjelang magrib begini. biasanya cowok itu selalu datang sambil bawa payung. mungkin dia datang hanya saat hujan aja kali ya untuk membawakanku payung? ah! ngomong apa aku ini. aku kan sedang menunggu Revin, bukan menunggu cowok asing itu.
Sampai menjelang magrib Denis gak juga datang apalagi Revin. aku jadi ingat kata-kata Denis, gak baik sampe malem disini. aku memgusap air mata yang mulai jatuh ini. sampai kapan aku harus menunggu Revin. aku lelah. aku ingin mengakhiri semua ini. tapi aku sangat mencintainya. kenapa ia gak juga kembali? aku sangat merindukannya. merindukan pelukan cowok itu. aku berbalik dan melihat ukiran namaku dan nama Revin di pohon besar di belakangku. perlahan aku menyentuhnya. ini seperti ukiran baru. kelihatan banget. “Revin. apa dia sudah kembali? kenapa gak menemuiku?” aku celingak-celinguk namun tetap tidak menemukan sosok cowok itu disini. aku juga menemukan payung, payung yang biasa dibawa Denis untukku. kenapa payung ini bisa ada disini?
Malamnya aku bertemu dengan teman SMA aku dan Revin dulu di toko buku. “hey, Reno kan?”
Cowok berkacamata itu menatapku, berusaha mengenaliku dan langsung tersenyum lebar. “wah! Febi ya?”
“iya ini aku.”
“kenapa sendirian? gak sama Revin?”
Ah! kenapa sahabat karibnya Revin mengingatkanku pada Revin. aku kan sedang berusaha melupakan cowok itu. “ketemu aja udah gak pernah. ada kali empat bulan. dia menghilang gitu aja sih.”
“masa sih? padahal dia kan udah kembali dari luar kota.” Reno kelihatan bingung juga. padahal ia sering sekali ketemu Revin, sahabatnya itu.
“benarkah?” aku nyengir, miris. ternyata cowok itu sudah kembali dan sama sekali gak menemuiku atau mungkin dia emang gak mau ketemu ya? mungkin dia sudah melupakanku.
“atau jangan-jangan lo belum tau?”
“tau apa?” aku jadi penasaran.
“Revin pernah kecelakaan di lab kimia kampusnya di Bandung. sampe mukanya rusak. dan dia operasi muka. mukanya emang beda sih. tapi matanya masih kayak dulu. jangan-jangan dia belum ngasih tau lo ya?”
Aku terkejut. bagaimana mungkin hal separah ini aku gak tau dan gak ada yang memberitahuku. “gue gak tau. dia sekarang dimana?” aku langsung panik.
“gak tau deh. tapi tiap sore pas ujan dia ke taman. gak tau deh ngapain. yang jelas bukan ngojek payung sih.” Reno berusaha bercanda, dia berhasil membuatku tertawa dan melupakan sejenak soal Revin. tapi kemudian aku mengingat lagi.
Aku membelalakkan mataku, aku jadi ingat pertama kali kita bertemu, senyuman itu. mata itu. sentuhan itu dan hangatnya pelukan itu. aku ingat sekali semua itu sama banget dengan Revin. tapi kenapa? siapa sebenarnya cowok itu? mata kebiruan itu sangat mirip dengan mata Revin. aku terdiam di tempat itu.
Keesokan harinya aku menunggu kembali di tempat biasa. tapi kali ini aku bukan menunggu Revin. dan sekarang aku sedang menunggu Denis. kemarin cowok itu tiba-tiba saja menghilang. tiba-tiba juga aku merindukannya.
Aku mengayun-ayunkan kakiku di air danau yang cukup jernih, membiarkan air hujan membasahi tubuhku. tiba-tiba air hujan berhenti membasahi tubuhku. aku mendongak. ah! payung itu lagi. aku menengok ke orang yang membawakannya dan benar saja itu Denis. “hey.”
“masih menunggu?”
“iya.” aku tersenyum.
Denis membantuku untuk berdiri. “pasti orangnya belum datang ya?”
“tidak. orangnya sudah datang dan memang selalu datang.”
Kali ini Denis mengerutkan keningnya, mungkin dia bingung. lalu tersenyum. “maksud kamu?”
Aku menggeleng-geleng. dan langsung memeluknya. iya. aku gak mungkin salah merasakan hangatnya pelukan ini. rasa nyaman yang menggelitik hatiku. ini benar-benar Revin. aku tidak peduli jika cowok ini berenkarnasi menjadi orang lain. tapi jelas rasa ini masih tetap sama. “aku harusnya sadar kalo ini kamu. kenapa aku gak sadar dari dulu? aku harusnya tau kamu selalu menepati janji kamu.”
Denis kali ini membalas pelukanku dan mencium rambutku. “ternyata kamu sudah mengenali aku. maafin aku yang gak bisa jujur sama kamu. aku terlalu takut. takut kamu gak bisa menerima aku yang sekarang.”
“aku akan selalu menerima kamu. seperti apapun kamu sekarang. walaupun dengan wajah yang beda. aku tidak peduli. yang penting hati kamu masih sama.”
“maaf ya. tapi setelah berpura-pura jadi orang lain… Aku tau kamu selalu setia menunggu aku kembali.”
“kenapa ganti nama jadi Denis sih?” aku cemberut. andai saja aku tau kalau Denis itu adalah Revin. orang yang selama ini aku tunggu.
“biar agak bule gitu. kan mata aku biru.” cowok itu tertawa. persis sekali dengan tawanya yang dulu.
“wooo. pamer ya.” aku mencubit lengannya.
Cinta itu bukan hanya kita lihat pakai mata tapi juga pakai hati. karena cinta akan lebih jelas terlihat jika dilihat dari hati. aku sadar selama ini mataku sama sekali gak mengenali orang yang kucintai namun hatiku mengenalinya walaupun agak terlambat. aku merasa penantianku selama ini sama sekali gak sia-sia. dia memang selalu ada untukku, bersamaku di sampingku dan… di hatiku.

Tuesday, 1 July 2014

On 14:43:00 by Unknown in    No comments
Judul Novel          : Sepatu Dahlan
Pengarang            : Khrisna Pabichara
Penerbit                : Noura Books
Tahun Terbit        : Mei 2012
Kota Terbit            : Jakarta
Jumlah Halaman   : 369 hal


Pengantar
Buku ini merupakan buku pertama dari trilogy buku Dahlan Iskan. Buku kedua nanti berjudul Surat Dahlan, buku terakhir Kursi Dahlan. Buku ini sekaligus menggambarkan kegigihan dan semangat Pak Dahlan Iskan dalam mengejar cita-cita. Namun beberapa adegan dan tokoh yang terdapat dalam novel ini adalah fiktif belaka namun semangatnya tetaplah sama.
Novel ini resmi diluncurkan oleh Dahlan Iskan di Bundaran Hotel Indonesia, dengan berbagi sepatu kepada sedikitnya seribu anak Sekolah Dasar dari berbagai sudut Jakarta yang secara simbolis di ikuti oleh sepuluh anak sebagai perwakilan
Resume
Buku pertama ‘Sepatu Dahlan’ mengisahkan tentang perjuangan seorang Dahlan yang berasal dari keluarga sangat miskin untuk membeli sepatu. Keinginannya itu terlahir sejak dia masih kecil. Sepatu menjadi impiannya sekaligus menjadi barang mahal karena setiap ke sekolah dia harus nyeker dan mirisnya hal tersebut dilakukannya hingga Madrasah Aliyah (setara SMA)Sebenarnya dia bisa menjual satu dari domba-domba yang dimilikinya namun ayahnya selalu berkata bahwa ada barang lain yang jauuuh lebih penting dari sebuah sepatu. Ketika lulus SR nilai yang dimiliknya tidak terlalu memuaskan hingga keinginannya melanjutkan ke Sekolah Magetan kandas, sesuai titah Ayah, ia meneruskan ke Madrasah Tsanawiyah, sekolah tradisi keluarganya. Hingga akhirnya ia bertemu dengan sahabat-sahabat yang luar biasa. Belum sempat terkabul membeli sepatu, ia harus menelan pahit ketika sang ibu meninggal. Rumahnya pun menjadi sunyi senyap hanya ia adiknya, Zain dan ayah.
Keadaan itu diperparah dengan kondisi keluarga Dahlan yang selalu ditemani dengan kelaparan hingga akhirnya ia harus mengikat tubuhnya dengan sarung untuk mengurangi rasa lapar, tangannya sampai bergetar , pandangannya kabur hingga keadaan itu bisa lenyap dengan tidur, ya tidur adalah obat yang manjur untuk menghilangkan sakit laparnya. Ia dan juga adiknya. Sempat ketika dirumah hanya ada ia dan adiknya, ia harus mencuri tebu untuk mengganjal perut. Aksinya pun ketahuan oleh mandor penjaga dan dan diadiahi menjadi kuli tebu selama seminggu tanpa upah.
Cerita ini diiringi dengan kisah pergolakan PKI, Laskar Merah, FDR yang saat itu menjadi trending topic masyarakat, kabar penculikan, pembantaian, pembunuhan mantan aktivis PKI hingga terjadi aksi salah tangkap yang menyeret ibu salah satu sahabat Dahlan.
Dikisahkan bahwa Dahlan terpilih menjadi kapten tim voli dan berhasil menjuarai perhelatan akbar ketika di babak final berhasil mempertemukan sekolahnya dengan SMA Magetan sekolah eksklusif di kotanya yang dihuni oleh orang-orang kaya. Saat petandingan pun ia masih tidak memiliki sepatu namun secara diam-diam sahabat-sahabatnya mengumpulkan uang untuk membeli sepatu bekas. Alhasil sepatu itu pun terlalu kecil hingga menyiksa kakinya sendiri, dan ia pun harus keluar lapangan. Namun ketangkasan, kecerdikan dan semangatnya mampu mengalahkan rasa sakit yang ada hingga saat menerima piala, jempolnya pun harus mencuat keluar sepatu. Kejadian yang sangat mengharukan.
Sejak itu ia ditawari menjadi pelatih di sebuah sekolah dengan gaji yang cukup tinggi dan diterimanya. Namun jarak tempat latihan dengan rumahnya sangat jauh namun demi sebuah sepatu ia pun tak surut semangat. Selain itu perjuangan untuk membeli sepatu dilakoninya dengan banyak cara termasuk menjadi kuli nyeset, ngangon, kuli pabrik tebu. Walau upah yang diterimanya belum seberapa. Bahkan ia sempat berniat mencuri uang simpanan ayahnya, ia sangat terdesak harus membeli sepatu karena peraturan pertandingan final bola voli mengharuskan setiap pemain memiliki sepatu. Namun ia tidak jadi karena uang curiannya tidak cukup untuk membeli sepatu. Ia merasa bersalah, mungkin caranya yang tidak halal ini berujung pada kehampaan –tanpa sepatu-.
Kisah kasih disekolahnya pun dibumbui dengan banyak cerita. Seorang Dahlan banyak disukai oleh gadis-gadis baik dari dalam maupun diluar sekolahnya. Mungkin karena ia menjadi kapten tim voli yang merupakan andalan sekolahnya. Ia pun menaruh hati dengan Aisa, siswi SMP Magetan yang sekaligus putri mandor tebu di Kebon Dalem. Dahlan seorang monster ganas di lapangan voli namun kurcaci kecil nan pemalu ketika harus berhadapan dengan makhluk Tuhan bernama, Aisa.
Pada akhirnya Dahlan memiliki cukup uang untuk membeli sepatu dari keringatnya sendiri tanpa menjual domba. Sepatu yang ia beli pun hanyalah sepatu bekas agar uangnya cukup untuk membeli dua sepatu, satu untuknya satu lagi untuk Zain, adiknya. Mimpinya memiliki sepatu kini sudah tekabul namun ia sekarang merasa sepatu bukanlah mimpi besarnya , ada mimpi yang lebih besar lagi yang harus ia kejar.
Setamat Madrasah Aliyah ia mendapat surat dari Aisa. Isinya kurang lebih mengatakan bahwa diantara ia dan Aisa ada suatu rasa namun karena kedua-duanya hanyalah sama-sama pemalu maka ia hanya menuliskan lewat surat. Aisa sekaligus berpamitan akan melanjutkan belajar ke Jogja. Secara tersirat Aisa menginginkan kelak ia dan Dahlan bertemu selepas sarjana. Permasalahan baru pun muncul lagi karena Dahlan harus berpikir keras melanjutkan studinya. Namun ia berkeinginan untuk melanjutkan kuliah bukan semata karena Aisa yang meminta namun ia memang memiliki keinginan untuk mengejar mimpi-mimpinya yang lain.
Bagaimanakah petualangan Dahlan di bangku kuliah? Mari kita simak di novel kedua ‘Surat Dahlan’
Kelebihan
Novel ini diceritakan secara gamblang menyesuaikan dengan kehidupan wong cilik pada umumnya. Padahal si penulis sama sekali bukan asli jawa. Khrisna Pabichara adalah lelaki kelahiran Jeneponto, 89 kilometer dari Makasar. Namun bahasa-bahasa yang digunakan sudah belepotan dengan istilah jawa. Penggambaran kemiskinan, kesengasaraan dan perjuangan untuk meraih mimpi begitu kuat. Mampu membuka mainset pembaca bahwa dimanapun dan siapapun kita wajib untuk mengejar dengan keras meski harus bersusah susah untuk mewujudkan apapun mimpi kita.
Kelemahan
Bagi pembaca non jawa akan mengalami kesulitan dalam menafsirkan beberapa kosa kata jawa. Alangkah lebih baik jika di bawah diberi keterangan arti makna, sehingga tidak mengurangi pesan penulis secara langsung.
On 13:13:00 by Unknown in    No comments
Jenis Buku                     : Buku Fiksi
Judul Buku                     : The Chronicles of Ghazi
Pengarang                      : Sayf Muhammad Isa dan Felix Y. Siauw
Penerbit                         : Mizania
Tempat dan tahun terbit  : Bandung, 2014
Halaman                         : 305 halaman
Harga                             : Rp 55.000,00



Nama lahirnya adalah Muhammad Isa. Sayf adalah nama pena, yang bermakna ‘pedang’, diambil dari bahasa Arab. Dia berharap tulisan yang ia buat bisa tajam seperti pedang ketika mengungkap kebatilan dan menyatakan kebenaran. Dia dilahirkan di Sukabumi tanggal 3 Juni 1986 hari Selasa. Dia sudah menekuni dunia tulis-menulis sejak kelas II SMA yang dia jalani di SMAN 4 Sukabumi.
Saat ini dia aktif sebagai redaksi di Majalah Remaja Islam D’Rise yang terbit bulanan di Bogor. Beberapa kali dia pernah mengelola media indie Islam ideologis bersama teman-temannya di Sukabumi. Dia juga aktif sebagai ghostwritter dari beberapa orang terkenal. Dia mengkhususkan diri untuk berkarya di bidang fiksi, dalam genre fiksi-sejarah. Beberapa novelnya yang telah beredar adalah Dwilogi Sabil, Draculesti, dan Cinta Sang Penakluk.
Sukses dengan buku sebelumnya yaitu Muhammad Al Fatih, Felix Y. Siauw kembali merilis buku terbarunya yaitu The Chronicles of Ghazi. Kali ini dia berkolaborasi dengan Sayf Muhammad Isa dalam pembuatannya. Di buku ini, Felix kembali mengangkat kisah tentang Muhammad Al Fatih. Yang berbeda dengan buku sebelumnya adalah di buku ini dia menonjolkan kisah tentang Muhammad Al Fatih melawan salah satu musuhnya yang sangat kejam yaitu Vlad III Dracula.
            Di suatu belahan bumi, lahir seorang lelaki yang kelak akan menjadi salah satu pemimpin terbaik kaum muslim. Di belahan bumi yang lain, lahir pula lelaki yang akan menjadi salah satu manusia terkejam dalam sejarah. Muhammad II Al Fatih dan Vlad III Dracula menjadi wakil dari pertarungan haq dan bathil, antara Kesultanan Usmani dan Kerajaan Eropa Timur, dan takdir mereka telah digariskan untuk berbenturan sejak awal kelahirannya.
            Dengan sangat apik, Sayf Muhammad Isa dan Felix Y. Siauw menyuguhkan perjalanan dan perjuangan Muhammad Al Fatih bersama Khilafah Utsmaniyah untuk membela agama yang haq dan membebaskan orang-orang yang tertindas oleh kaum kafir Eropa Timur. Alur yang digunakan dalam karyanya ini adalah alur maju mundur Dalam buku ini, pertama ia menceritakan masa kecil dari Muhammad Al Fatih. Lalu di bab selanjutnya, sebelum dia menceritakan lebih lanjut tentang Muhammad Al Fatih dan Vlad III Dracula, terlebih dahulu ia menceritakan tentang peperangan yang terjadi antara leluhur Muhammad Al Fatih dan Vlad III Dracula.
            Keunggulan yang terkandung dalam buku ini adalah dalam segi gaya bahasa. Dalam buku ini, Felix Y. Siauw dan Sayf Muhammad Isa menggunakan gaya bahasa yang enak dan mudah dimengerti oleh para pembaca, sehingga membuat buku ini sangat digemari oleh para pembaca dan menjadi buku favorit mereka.