Selamat datang di blog saya. Semoga apa yang anda cari ada di sini. Selamat berkunjung :)

Sunday, 2 June 2013

On 14:58:00 by Unknown   No comments

Renungkanlah gambar ini. Allah menciptakan semua berpasangan. Wanita tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Tulang rusuk dan pemiliknya takkan pernah tertukar. Jika anda putus dengan pasangan anda, janganlah anda menangis. Dialah yang seharusnya menangis. Karena dia telah menyia-nyiakan orang yang menyayangi anda. Dan anda harus bersyukur karena Allah akan memberikan jodoh yang lebih dari sebelumnya.

Friday, 31 May 2013

On 07:50:00 by Unknown in    No comments


Apa kamu ingat ketika kita besama ..
melewati segala rintangan yang ada didepan mata ..
Apa kamu ingat saat kita tertawa bersama ..
Berjuang demi masa depan bersama,
Semua telah kita lewati bersama ..
Berjanji untuk tidak saling menyakiti,
untuk tidak saling menghianati,
Berjanji sehidup semati,
Dan berjanji akan selalu menghormati,
Susah, senang, sedih, bahagia, suka dan duka telah kita lewati bersama ..
saling menjaga, saling berbagi ..
Tapi ..
Sekarang entah mengapa kamu pergi menjauh, menjauh dari aku,
Apa aku punya salah,? Apa kata-kataku menyakitkan bagimu ..
Entah aku juga tak tau ..
Apa yang kamu inginkan dari aku,
Yang terpenting adalah ,, aku tidak pernah menganggap kamu teman, sahabat, tapi aku menganggapmu saudara kembarku ..
Tak pernah ada kata benci dalam hidupku untuk dirimu
Jika ini yang terbaik untuk kita,
Aku hargai semua, jika kamu membenciku
Aku bisa terima ..
Mungkin kita akan bersama lagi seperti dulu ,, tapi itu bukan sekarang ,, suatu saat nanti TUHAN pasti berikan yang terbaik untuk KITA !!
On 07:48:00 by Unknown in    No comments


SAHABAT SEJATI 

Dulu,di kala kita sering bersama-sama
Kita saling berbagi dalam suka maupun duka
Menghibur disaat duka
Berbagi di saat suka

Dulu,di kala kita sering bersama-sama
Tak pernah ada terjadi perselisihan
Pertengkaran yang terjadi di waktu dulu
Hanyalah pertengkaran yang sementara

Dulu,di kala kita saling bersama-sama
Tak ada sedikitpun kata yang menyakitkan hati
Tetapi sekarang,kata yang sering terucapkan
Hanya untuk saling menjelek-jelekkan satu sama lain

Teman,kemana kah dirimu yang dulu
Ku sangat kangen masa-masa itu
Dimana masa kita sering bersama-sama
Dan mengapa kalian tak pernah mengerti semua itu

Apakah selamanya kita akan tetap begini
Tenggelam dalam perselisihan
Yang tak tw kapan akan berakhirnya
Bagaikan semut dengan manusia

Teman,hanya satu yang aku inginkan
Kita harus kembali seperti yang dulu
Seperti saudara yang tak pernah berpisah
Sampai kapan pun

On 07:47:00 by Unknown in    No comments


PERPISAHAN

Dulu....
Ketika Aku masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah
Aku dan temanku selalu tertawa.
Penuh senda gurau.

Setelah beranjak kelas 9
Pikiran itu mulai menghantuiku
Akan kah kami berpisah dan tidak akan bersama lagi?
Akan kah aku akan kehilangan sahabatku?

Kenapa ini terjadi,aku tidak mau semua tidak mau...
namun kami harus beranjak dewasa dan menggapai cita-cita.

Teman teman yang ku sayangi
Semoga tuhan mempertemukan kita kembali.

Aku merasa ini lah saat kita berbesar hati.
menerima kenyataan yang pahit ini.
Perpisahan yang mengisakkan tangis ini semoga mengandung makna yang berharga.
On 07:44:00 by Unknown in    No comments


Muhammad Syifa El Zain
Ratapan Anak Tiri
                Dikisahkan, ada sebuah keluarga rukun yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua orang anak. Pada suatu hari teman sang ayah berkunjung ke rumah keluarga tersebut untuk menyampaikan kabar gembira.

Teman  : Assalamu’alaikum. Any body home?
Ayah     : Wa’alaikum salam. Eh… kirain siapa. Ayo silahkan masuk.
Teman  : Iya, terima kasih
Ayah     : Tumben datang kesini. Ada perlu apa?
Teman  : Apa ayo……???
Ayah     : Malah balik nanya. Ada apa?
Teman  : Saya dan istri saya akan menunaikan ibadah haji. Saya mau ngajak kamu ikut naik                                                                      
              haji. Biayanya biar saya yang ngurus. Mau nggak? Sekalian ajak istrimu. Gimana?
Ayah     : Hm….gimana yach? Okelah kalo begitu
Teman  : Makasih yach udah mau ikut.
Ayah     : Ehh…..justru saya yang harus berterima kasih. Lagi dapet rezeki?
Ibu       : (datang membawa minum) ini minumannya. Silahkan diminum.
Teman  : Terima kasih. Ia nih lagi ada rezeki. Dapat hadiah dari bank satu milyar
Ayah     : Waw…! Uang satu milyar bisa beli bala – bala atau gehu berapa karung?
Teman  : Paling satu atau dua truk
Ayah     : Bu, ini temen bapak mau ngajak kita naik haji
Ibu        : Masa?
Ayah     : Iya
Ibu        : Ouh….terima kasih
Teman   : Sama – sama. Oh iya, saya ada pelu ke Bandung. Saya pergi dulu. Assalamu’alaikum
Ayah      : Wa’alaikum salam

Dua minggu kemudian ayah dan ibu kedua anak tersebut akan berangkat ke “tanah suci.” Ayah dan ibunya pun berpamitan kepada kedua orang tuanya  

Ayah   : Pak, Syifa dan ………. pamit mau berangkat naik haji. Syifa titip anak – anak ya.
Kakek : Iya, hati – hati disana. Jaga diri baik
Ibu      : Iya, saya pamit ya bu. Assalamu’alaikum
Kakek dan Nenek : Wa’alaikum salam

Mereka pun bergegas pergi ke bandara hingga sampai di Mekkah yaitu di bandara king Abdul Aziz. Ketika sedang berada di Mekkah Syifa yaitu ayah dari anak – anak menelpon bapaknya untuk menyampaikan berita duka

Ayah   : Assalamu’alaikum
Kakek : Wa’alaikum salam. Ada apa?
Ayah   : Pak…! (sambil menangis)
Kakek : Ada apa? Kenapa kamu menangis?
Ayah   : Pak.! nampaknya ……….. tidak bisa pulang ke tanah air.
Kakek  : Kenapa?
Ayah   : Ia telah meninggal tadi siang ketika sedang thawaf karena berdesakan dengan orang lain
Kakek  : (telepon jatuh dan menangis) Hah? Tidak mungkin…!!!

Ketika ayahnya menelpon Hilman dan Fitri sedang mengaji bersama kakeknya. Kedua cucunya pun merasa penasaran kenapa kakeknya menangis
 
Hilman : Kek, ada apa? Kenapa kakek menangis?
Kakek   : Tidak ada apa – apa. Terusin sendiri baca qur’annya yach.
Hilman : Iya. Kakek mau kemana?
Kakek   : Kakek mau ke Nenek dulu

Kakek pun menghampiri istrinya yang sedang berada di kamar

Kakek   : Nek, ada berita buruk
Nenek  : Ada apa? Apa beritanya?
Kakek  : ……… tidak bisa pulang ke Indonesia. Ia sudah meninggal di Mekkah
Nenek  : Apa? (terkejut) inna lillahi wa inna ilaihi raji’un

Hilman dan Fitri pun menghampiri kakek dan neneknya

Fitri     : Kek, nek ada apa?
Hilman: Iya, koq kakek sama nenek nangis? Emang ada masalah apa?
Kakek  : (sambil merangkul kedua cucunya) Nanti kalian akan tahu sendiri

Bebarapa hari kemudian sang ayah pulsng dari Mekkah. Fitri dan Hilman punb bergegas untuk menemui ayah tercinta. Tapi mereka tidak menemukan ibunda tercinta

Hilman : Ayah………!!!
Ayah     : Anakku…! (dengan mata berlinangan air mata)
Fitri      : Yah ibu mana?
Ayah     : Nak, ibu kalian telah berada di sisi Allah
Hilman : (sambil menangis) Bu, kenapa ibu tinggalkan Hilman? Tanpa ibu Hilman galau !!
Ayah     : Yang sabar ya nak, semoga arwah ibu kalian diterima di sisi Allah  
Hilman dan Fitri : Amin…

Tahun – tahun berlalu. Sang ayah pun telah memiliki istri baru bernama Siti. Ia adalah seorang janda yang haus akan harta. Ia mempunyai dua orang anak. Siti ini tidak pernah menyayangi Hilman dan Fitri sebagaimana ia menyayangi Novia dan Rikkeu. Bahkan hampir setiap hari Hilman dan Fitri disiksa tanpa sedikit pun belas kasihan. Di suatu pagi cerah ketika Syifa telah berangkat kerja, Fitri dimarahi ibu tirinya karena tidak segera membersihkan kamar ibunya.

Siti   : Hey..! cepat bangun tidur terus.
Fitri  : Iya bu. Ada apa?
Siti   : Malah nanya. Cepat bersihin kamar ibu. Sudah itu, kamu cuci baju ibu, Novia, dan    
          Rikkeu. Cepat…!
Fitri  : Iiiiya bu

Ketika sedang mencuci baju, Fitri bersedih karena kematian ibunya. Saat Hilman akan pergi ke dapur, ia mendapati Fitri yaitu adiknya sedang mencuci sambil menangis. Hilman pun menghampiri Fitri yang sedang bersedih.

Fitri      : Bu, kalau saja ibu masih ada, Fitri gak akan seperti ini
Hilman : Fit, kamu kenapa? Kamu dimarahi ibu?
Fitri      : Kak, dia bukan ibu kita. Dia hanya seorang perempuan yang tidak tahu diri
Hilman : Iya, kakak juga tahu. Kita harus bersabar. Semoga Allah membebaskan kita dari
              penyiksaan ini.
Fitri      : Amin

Lalu datanglah Novia dan Rikkeu mengampiri mereka berdua.

Rikkeu : Heh…!!! Malah ngobrol. Cepat terusin kerjaan kalian
Novia   : Ya, bukannya kerja malah santai santai. Hilman, cepat bersihkan kamar aku. Cepat!!
Hilman : Memangnya kalian itu siapa? Seenaknya nyuruh ini, nyuruh itu
Rikkeu : Ouh..kamu gak mau bersihin kamar kita yach, mamah…!!!
Siti       : (datang menghampiri) Ada apa manggil manggil mamah?
Novia    : Mah, Hilman gak mau bersihin kamar Novi
Siti       : Cepet bersihin kamar Novi ! kalau nggak mamah hukum nih! (sambil membawa sapu
              Lidi)
Hilman : Aduh aduh. Mah sakit.
Siti       : Ahh…gak ada ampun buat kamu
Hilman : Iya mah…Hilman mau bersihin kamar Novi

Ketika Hilman membersihkan kamar Novi, Fitri menghampirinya untuk merundingkan tentang kabur dari rumah tersebut

Fitri      : Kak…
Hilman : Ada apa dek?
Fitri      : Kak, Fitri pikir, lebih baik kita kabur saja dari rumah ini
Hilman : Ya, ide bagus. Gue suka ide loe. Ayo kita kemasi barang barang kita
Fitri      : Iya baik

Mereka pun mengemasi barang barang mereka. Ketika mereka sudah pergi, Syifa pun pulang dari tempat kerjanya. Sampai di rumah, Syifa menanyakan keberadaan Hilman dan Fitri kepada Siti. Saat itu Siti sedang menonton tv

Ayah : Bu, dimana Hil dan Fit?
Siti    : Gak tau, emang gue pikirin? Nggak githu
Ayah : Dasar wanita gak tau diuntung ! (menamparnya) bukannya jaga anak anak malah santai
           Seenaknya. Sudah, kita cerai ! Loe gue end!!!!
Siti    : Aw…! Oke kalau itu maumu. Aku gak akan pernah lagi menginjakkan kakiku di rumah
           Ini.
Ayah : Kalau begitu, itu kenapa diinjak keramiknya?
Siti    : Hhe..kan belum keluar
Ayah : Pergi !!!Get out !!! Irji’ii ila ummiki!!

Siti pun pergi meninggalkan rumah tersebut. Syifa pergi mencari anak anak. Kemana mana ia mencari Hilman dan Fitri. Hari hari berlalu ia belum menemukan anak anaknya. Pada hari Ke 3 dalam pencarian, ia menemukan anak anaknya sedang berjalan di dekat pasar. Dengan wajah berlinangan air mata, ia menghampiri sang buah hati.

Ayah     : Anakku, kemana saja kalian?
Hilman : Kami kabur dari rumah karena tidak tahan dengan perlakuan ibu.
Ayah     : Tenang saja, ibu telah ayah ceraikan
Fitri      : Hah…! Benarkah itu?
Ayah     : Iya. Ibu telah ayah ceraikan
Hilman dan Fitri : Asyik………
Fitri      : Berarti kita tidak akan menderita lagi
Hilman : Setan pergi, malaikat pun datang
Ayah     : Ayo pulang ke rumah
Hilman dan Fitri : Ayo

Mereka pun pulang ke rumah mereka. Akhirnya mereka hidup dengan damai tanpa ada hambatan yang menerjang


Selesai